Pessel Tiadakan Pasar Pabukoan, Disarankan Jualan di Rumah

Suasana pasar pabukoan sebelum pandemi Covid-19. (INTERNET)

Pemkab Pesisir Selatan (Pessel) pada Ramadhan tahun ini meniadakan pasar pabukoan. Ini bertujuan untuk memaksimalkan pemutusan mata rantai penyebaran virus korona (Covid-19) yang sebarannya masih terus bertambah secara nasional. Walau kondisi itu memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat, terutama pedagang makanan, namun kebijakan itu harus bisa ditaati demi keselamatan bersama.

Kepala Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian Pesisir Selatan, Azral, melalui Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, Hendro Kurniawan, mengatakan kemarin (24/4), penutupan pasar pabukoan itu merupakan pertama kali dilakukan di daerah itu.
“Upaya ini bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona yang masih terus mengalami penambahan secara nasional, bahkan dunia. Dari itu kami dari pihak terkait berharap agar kebijakan pemerintah daerah ini mendapat dukungan dari masyarakat,” harapnya.

Selain mendukung maklumat Kapolri, kebijakan pemerintah daerah itu juga berdasarkan kepada edaran Sekkab Pesisir Selatan Nomor: 516/297/DKUP.2/IV/2020, tentang Pembatasan Layanan Konsumen Pada Tempat Usaha Kuliner, Warung Kopi dan Usaha Warnet, dalam rangka pencegahan penularan virus korona.

“Peniadaan pasar pabukoan ini sudah dilakukan pengkajian berasama tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Pessel. Segala sesuatu yang terjadi di lapangan akan kita konsultasikan kepada tim tersebut, serta berbagai pihak terkait lainya. Sebab pasar pabukoan identik dengan keramaian. Orang-orang akan berduyun-duyun datang tanpa terkendali. Hal ini akan dikhawatirkan bisa mengakibatkan penyebaran virus korona,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dengan kondisi saat ini, sebaiknya pedagang juga jeli dalam mebaca situasi. “Belum tentu masyarakat akan datang membeli, walau pasar pabukoan dibuka. Sebab mereka akan khawatir bisa tertular oleh virus korona yang berasal dari pembeli lainnya di pasar pabukoan. Dalam hal ini, pemerintah juga tidak mau mengambil risiko,” jelas Hendro.

Beranjak dari kondisi itu, dia menyarankan agar pedagang bisa mencari solusi lain jika masih tetap ingin berjualan. “Misalnya melalui online, atau memilih berjualan di tempat tinggal masing-masing dengan tetap mengatur jarak (physical distancing), serta memakai masker. Sebab dengan berjualan di rumah itu, akan membuat masyarakat tidak terkonsentrasi pada satu lokasi saja,” harapnya.

Terkait imbauan pemerintah tersebut, Deswiati 41, pedagang pabukoan di Nagari Painan Timur, mengaku belum mengetahuinya. “Sebagai pedagang makanan, saya belum mengetahui imbauan pemerintah tentang peniadaan pasar pabukoan ini. Walau demikian, saya dari awal memang sudah berencana untuk menggelar dagangan makanan pabukoan saya di depan rumah saja. Sebab melihat situasi saat ini, saya juga khawatir akan tertular virus korona bila berjualan di pasar pabukoan,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukannya untuk menarik minat masyarakat berbelanja, dia juga mempromosikan dagangannya secara online melalui Facebook. “Walau ada kekhawatiran bagi saya omzet penjualan akan mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Namun tidak ada salahnya saya mencoba menjual makanan pabukoan ini secara online. Selain aman dari ancaman penularan virus korona, informasinya juga cepat beredar. Kami pun siap mengatarkan pesanan ke alamat masing-masing, selagi berdomisili di Painan,” ungkapnya.

Ditambahkan lagi, selain makanan dan minuman pabukoan, dia juga menjual berbagai aneka masakan seperti gulai tunjang, panggang ikan, pangang ayam, urap, gulai jengkol, nangka, gulai ikan, gulai ayam, gulai ikan pedas, dan lainnya. “Saya berharap agar kondisi ini bisa segera berakhir supaya kami bisa kembali berjualan tanpa merasa ada kekhawatiran tertular virus korona,” harapnya. (yon)