PMK Merebak! Permintaan Sapi Kurban Tetap Tinggi di Pessel!

12
Ilustrasi.(DOKUMEN DISPERTA PESSEL)

Walau saat ini penyakit mulut dan kuku (PMK) masih berjangkit pada ternak sapi bahkan sudah ditemukan di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Namun minat masyarakat untuk menjadikan sapi sebagai hewan kurban pada Idul Adha 1443 tahun 2022 ini masih tetap tinggi di daerah itu.

Berdasarkan pantauan Padang Ekspres di lapangan, masyarakat atau panitia kurban di sejumlah masjid masih tetap menjadikan sapi sebagai pilihan untuk dijadikan hewan kurban.

Rahman Darmawan, pengurus Masjid Nurul Hikmah, Kampung Ganting, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, mengatakan kepada Padang Ekspres, kemarin (28/6), sebagai panitia kurban di masjid itu, dia hanya menjalankan permintaan masyarakat yang ingin berkurban yang tergabung pada kelompok kurban di masjid itu.

”Sama dengan tahun sebelumnya, masyarakat yang tergabung pada kelompok kurban di Masjid Nurul Hikma Ganting ini masih menjadikan ternak sapi sebagai pilihan. Sebagai panitia kurban tentu kita menuruti sesuai dengan permintaan masyarakat. Karena itu merupakan amanah atau kepercayaan yang mereka berikan,” katanya.

Kalaupun ada yang akan menyembelih kambing pada hari Raya Kurban nanti, itu dilakukan secara perorangan, bukan diserahkan kepada panitia kurban.

“Sebab polanya berbeda, kalau sapi untuk satu ekor pesertanya sebanyak tujuh orang, dan kambing satu ekornya per orang. Dengan mempercayakan kepada panitia kurban, maka akan lebih gampang mengkoordinirnya. Makanya setiap tahun kita selalu membentuk panitia kurban di Masjid Nurul Hikmah Ganting ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, bila dibandingkan tahun sebelumnya, memang terjadi penurunan jumlah hewan yang akan dikurbankan. Kondisi yang sama juga terjadi di Masjid Raya Painan Timur, Kecamatan IV Jurai.

Ketua Masjid Raya Painan, Don Chandra, mengatakan kepada Padang Ekspres kemarin (28/6) bahwa dua pekan menjelang hari raya kurban, jumlah masyarakat yang tergabung pada kelompok kurban jenis sapi baru sebanyak 6 kelompok.

“Panitia membuka peluang atau pendaftaran bagi masyarakat muslim yang ingin berkurban di masjid ini. Untuk satu orang peserta dengan jumlah anggota per kelompok tujuh orang, dikenakan biaya sebesar Rp 2,1 juta. Angka ini bisa dikatakan sama dengan tahun lalu. Sebab harga sapi untuk ukuran kurban masih sama dengan tahun sebelumnya,” kata Don Chandra.

Baca Juga:  Faperta Unes Serahkan 1.200 Bibit Tanaman untuk Keltan di Kampung Tuik

Untuk memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat terhadap hewan yang akan dikurbankan itu, maka pihaknya meminta surat keterangan (suket) sehat kepada pedagang yang menjual sebagaimana diterbitkan oleh petugas kesehatan hewan (keswan).

Kepala Dinas Pertanian Pessel, Madrianto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Sri Rita Satiawati, ketika dihubungi kemarin (28/6) menjelaskan, hingga saat ini jumlah ternak sapi yang terkena penyakit PMK sudah ada 106 ekor.

“Ternak sapi yang terkena PMK itu tersebar di tujuh kecamatan. Di antaranya Kecamatan  Airpura, Linggo Sari Baganti, Ranah Pesisir, Lengayang, Sutera, Batangkapas, dan Kecamatan Koto XI Tarusan. Dari 106 ekor sapi yang terkena PMK itu, sebanyak 17 ekor telah sembuh,” katanya.

Disampaikannya, untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat pemilik ternak, saat ini pihaknya telah mendapatkan bantuan vaksin sebanyak 400 dosis.

“400 dosis itu telah kita distribusikan pada 4 puskeswan yang wilayahnya belum terdampak PMK pada sapi. Di antaranya, di Wilayah Kecamatan Lunang, Silaut, Airpura, dan Wilayah Kecamatan Koto XI Tarusan. Masing-masing wilayah itu distribusi vaksinnya sebanyak 100 dosis,” ucapnya.

Terkait untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap PMK, pihaknya melalui petugas juga sudah turun ke sejumlah mushala dan masjid. “Karena saat ini akan memasuki hari raya kurban, kita sudah turun ke sejumlah mushola dan masjid melakukan sosialisasi. Semua hewan kurban yang akan didistribusikan akan dilengkapi dengan suket sehat, dan juga dari mana sapi itu berasal,” ucapnya.

Dia mengakui bahwa penyakit PMK di daerah itu tidak memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menjadi sapi sebagai hewan kurban.

”Saya katakan demikian, sebab berdasarkan pantauan di lapangan, minat masyarakat untuk menjadikan sapi sebagai hewan kurban tidak mengalami penurunan. Rata-rata ternak sapi yang dikurbankan di daerah ini adalah ternak lokal dengan jumlah perkiraan mencapai 6.000 ekor,” timpalnya. (yon)