Aipda Isral, Berani Berdakwah di Tempat Hiburan Malam

26
PANUTAN: Aipda Isral, saat ditemui di Mapolres Sawahlunto, kemarin (1/7). Sampai saat ini ia masih terus berbagi ilmu agama dengan banyak orang.

Aipda Isral, merupakan personel Polres Sawahlunto. Sedari kecil ia fokus belajar agama, sehingga sampai kini ia akrab disapa Buya oleh rekan, teman sejawat dan banyak orang. Selain mengayomi sebagai polisi, ia juga kerap berbagi ilmu agama.

Lahir 19 Oktober 1978 di Sariklaweh Kabupaten Limapuluh Kota, Aipda Isral S, telah disapa Buya sejak masih anak-anak. Ya, sapaan Buya di Ranah Minang disematkan kepada seseorang yang paham dan fasih ilmu agama Islam.

Panggilan buya tersebut berasal dari kakek buyutnya, saat ia belajar mengaji di Surau Tinggi. Bahkan, Isral kecil sempat beberapa kali diutus untuk mengikuti lomba pidato dan ceramah agama.

Menjelang masa remaja, Isral pun mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren Al Kautsar Muhammadiyyah Tanjung Pati, dan MAN 2 Payakumbuh, hingga tamat pada tahun 1997.
Di tahun 2000, Isral mendaftarkan diri menjadi seorang polisi, dan mengikuti pendidikan pada tahun 2001. Kemudian ia mulai bertugas di Polres Sijunjung mulai 27 Juli 2001.


Pengalaman menarik yang tentunya juga sangat berisiko dan membutuhkan nyali, adalah ketika Isral memutuskan untuk memulai berdakwah di kehidupan dunia malam, atau tempat hiburan malam seperti kafe, bar serta tempat lainnya yang ada di wilayah hukum tempatnya bertugas.

“Berdakwah itu tidak harus selalu di atas podium sambil berceramah. Tetapi dakwah bisa dilakukan di mana saja, tidak terkecuali tempat tempat hiburan, yang justru sangat butuh untuk disadarkan,” ujar Isral, saat ditemui di Mapolres Sawahlunto usai melaksanakan Dzuhur berjamaah, Kamis (1/7).

Diakuinya, untuk menyadarkan mereka kembali ke jalan yang benar itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang awalnya tampak melihat secara sinis, dan ada juga yang hanya pura pura mengerti dengan apa yang disampaikan.

Baca Juga:  Wako Temui Balai Teknik Perkeretaapian dan PT KAI Sumbar

“Tetapi itulah tantangan yang harus dihadapi ketika saya memutuskan untuk melakukan dakwah di dunia malam. Namun, perlahan tapi pasti akhirnya usaha itu pun membuahkan hasil. Banyak para pelaku dunia malam yang berkonsultasi ingin bertaubat dan kembali ke kehidupan normal, terutama para Pekerja Seks Komersial (PSK). Dakwah itu intinya mengajak kepada jalan yang benar, bukan saja harus sambil berceramah. Tetapi sentuh hatinya dan tunjukkan kebenaran, sampaikan meski hanya satu ayat,” ujarnya.

Lebih lanjut, putra dari Suparman Bin Muaz Dt. Banso Dirajo, Bin Uyung Dt. Sinaro Bapanuah Diomeh, Bin Thalib Dt. Pucuk Putiah, Bin Syech Khalidi, Bin Syech Ismail, Bin Syech Tengku Muhammad itu mengatakan, ia masuk menjadi anggota Polri karena terinspirasi dari Al Qur’an surat Ali Imran Ayat 110, yang artinya, “Kamu sebaik baik umat untuk mencegah perbuatan keji dan munkar”. Selain itu, juga dari salah satu Hadits Nabi yang mengatakan “Bila melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu”.

“Artinya, saya menyimpulkan bahwa untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar itu butuh tangan yang saya asumsikan sebagai sebuah kekuatan. Dan saya melihat, polisi adalah kekuatan yang pas, sebagai pelindung dan pengayom serta menangani para pelanggar hukum,” terangnya.

Mengakhiri perbincangan, Isral juga menyebut tentang pesan sang kakek yang hingga kini masih ia amalkan, yaitu pegang teguh adab dan adat. “Saya masih ingat betul pesan kakek agar selalu menjaga perbuatan dan ucapan, berlaku adil dan jangan memakan harta orang lain,” sebutnya. (***)