Pernah jadi Tempat Perlindungan dan Perakitan Senjata

13
Masjid Agung Nurul Islam tetap berdiri kokoh. (IST)

Sawahlunto sebagai kota tambang batu bara warisan kolonial Belanda yang kini berhasil menyandang gelar kota warisan dunia versi UNESCO, tentunya memiliki beragam sejarah. Ditandai, beragamnya latar belakang penduduk dari berbagai suku bangsa, begitu pula keyakinan. Salah satu kentalnya keberagaman itu terlihat dari keberadaan Masjid Agung Nurul Islam. Seperti apa?

Berada di kawasan pusat kota Sawahlunto, bangunan Masjid Agung Nurul Islam di Mudikair, Kelurahan Kubang Sirakuk Utara, Kecamatan Lembahsegar yang terlihat klasikitu, dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda pada tahun 1894. Awalnya, merupakan bangunan pusat pembangkit listrik bertenaga uap memanfaatkan aliran air Batang Lunto.

Namun seiring perjalanan waktu, debit air di sungai itu tak lagi memadai untuk menghidupkan mesin pembangkit. Kemudian, tahun 1924 pemerintah Hindia Belanda memindahkannya ke Desa Salak, Kecamatan Talawi, memanfaatkan aliran Batang Ombilin. Hingga tahun 1952, PLTU di Kubangsirakuk ini berubah fungsi menjadi masjid.

Terlihat, bak air di belakang, basement dan menara masjid merupakan bagian-bagian yang tersisa dari PLTU pertama di Sawahlunto. Ruang basement menjadi bukti arkeologis, arsitektur dan struktur konstruksi bangunan sentral listrik yang dibangun pada akhir abad 19 itu.

Sebelum difungsikan menjadi tempat ibadah, bangunan itu juga sempat difungsikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto pada masa Agresi Belanda I dan II. Hingga pada saat mengalami peralihan fungsi, banyak ditemukan sisa-sisa amunisi yang kini disimpan sebagai koleksi di Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

PLTU Mudikair merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin-mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor, serta rumah-rumah warga Sawahlunto. Sebelum dijadikan sebagai tempat beribadah, bangunan bekas PLTU itu juga pernah dijadukan sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin, akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952.

Keunikan masjid yang memiliki ruang utama berukuran 60×60 meter itu juga diwarnai dengan berdiri megahnya menara setinggi 85 meter. Di mana, awalnya menara tersebut merupakan cerobong asap Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Lalu, dilengkapi pula dengan kubah setinggi tak kurang dari 10 meter.

Di bawah bangunan masjid, terdapat lubang perlindungan yang pernah dipakai untuk merakit senjata, granat tangan dan mortir. Pada halaman depan atau sebelah kiri tangga menuju masjid terdapat terowongan kereta api untuk mengangkut batu bara.

Dari catatan sejarah, pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto.

Untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubangsirakuak pada tahun 1894.

PLTU ini menjadi PLTU pertama di Sawahlunto. Saat ini, berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat. (amin pratikno)

Previous articleBSTKemensos Hari Ketiga, Rp467,4 Juta Dikucurkan pada 779 Warga
Next articleSarankan UPK Rp 75 Ribu jadi Angpao, BI Gelontorkan Rp 152 Triliun