Jika Uji 1.600 Sampel Swab Negatif, Sawahlunto Bisa Shalat Id di Masjid

Petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh setiap jamaah yang memasuki Masjid Agung Nurul Islam, Kota Sawahlunto saat Shalat Jumat (15/5/2020) lalu. (Foto: IST)

Untuk memastikan Kota Sawahlunto benar-benar terbebas dari kasus virus korona (Covid-19) dan dapat izin Shalat Idul Fitri (Shalat Id) di masjid, saat ini sedang diperiksa 1.600 sampel swab di Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Unand.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan, sampel tersebut diambil dari seluruh kecamatan dengan sistem pool test yang ditangani Kepala Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Unand dr Andani Eka Putra.

“Dalam pool test ini, masing-masing kecamatan diambil sebanyak 400 sampel swab dengan sistem multi stage sampling,” jelas Irwan kepada wartawan, Sabtu (16/5/2020).

Sampel tersebut diperiksa laboratorium dalam tiga hari ke depan. “Sekarang sedang menunggu hasil pemeriksaan sampel itu, diperiksa tiga hari lagi. Jika hasilnya negatif, Sawahlunto satu-satunya yang bisa Shalat Idul Fitri bersama di masjid nantinya. Tapi jika ada positif, tentu harus ditelusuri, kecamatan mana. Nanti dibuat lagi kebijakan sesuai kearifan lokal. Acuannya tetap Maklumat MUI Sumbar,” jelas Irwan.

Menurutnya, langkah maju Kota Sawahlunto yang berhasil mempertahankan zona hijau Covid-19 hendaknya menjadi contoh bagi daerah lain.

Kota itu bisa jadi daerah zona hijau melalui peraturan yang tegas dan ketat untuk orang keluar-masuk serta didukung kedisiplinan masyarakat menjalankan protokol kesehatan.

“Penyebaran virus ini kan intinya terjadi ketika ada di antara orang keluar-masuk terpapar. Jika tegas dan ketat, maka orang yang masuk ke suatu daerah itu hanya yang benar-benar sehat,” ulasnya.

Sebelumnya, Shalat Jumat di Masjid Agung Nurul Islam, Kota Sawahlunto, telah berlangsung sejak Jumat (15/5/2020) lalu dan diikuti ratusan jamaah.

Ini pertama kali dilakukan sejak kegiatan di rumah ibadah ditiadakan akibat pandemi Covid-19 melanda Sumbar.

Wali Kota Sawahlunto Deri Asta menjelaskan, Shalat Jumat di 80 persen masjid itu diperbolehkan berdasarkan kesepakatan bersama Forkompinda, MUI dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sawahlunto.

Kebijakan itu merujuk surat MUI Sumbar kepada gubernur dan wali kota/ bupati se-Sumbar untuk memfasilitasi umat untuk Shalat Jumat.

Selain itu, hingga hari ini, Kota Sawahlunto masih tercatat sebagai salah satu dari tiga kota dan kabupaten di Sumbar yang masih zero (nol) konfirmasi kasus Covid-19.

“Karena itu, mulai tanggal 15 Mei 2020 kemarin, sebagian besar masjid di Sawahlunto sudah bisa melaksanakan Shalat Jumat,” tambah Deri Asta.

Meski diperbolehkan, lanjut Deri, protokol kesehatan tetap diberlakukan selama pelaksanaan Shalat Jumat ini.

Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan suhu tubuh setiap jamaah yang memasuki masjid. Sementara Satpol PP perempuan mengecek masker dan sajadah jamaah.
“Artinya, jamaah diwajibkan pakai masker dan bawa sajadah dari rumah masing-masing,” tukasnya.(esg)