8 Penambang emas Ilegal Ditangkap

46
Polisi mengamankan delapan penambang dan menyita barang bukti penambangan emas tidak berizin. Saat ini kasus sedang dalam penyidikan polres setempat. (IST)

Polres Kota Sawahlunto akhirnya menetapkan 8 orang tersangka pelaku penambangan emas ilegal, pasca ditangkap Selasa (17/2) pukul 12.30, di Aliran Sungai Batang Ombilin Tapian Tanang, Dusun Siambalau Desa Talawi Hilie Kecamatan Kota Sawahlunto.

Tujuh tersangka yakni dengan inisial I, 46, RY, 24, AF, 35, I, 37, BDS, 34, masing-masing beralamat di Desa Talawi Hilie, RA,39, dan JA, 32, dari Desa Sijantang Koto kini ditahan di Mapolres Sawahlunto

Khusus tersangka BY, 41, dari Desa Datar Mansiang mendapat penangguhan penahanan karena sakit. Kapolres Sawahlunto AKBP Junaidi Nur, didampingi Kasat Reskrim Iptu Roy Sinurat, Rabu (24/2) mengatakan, para penambang tersebut tidak memiliki izin menambang dan sudah menyalahi aturan.

“Tapi tersangka BY, 41, tidak ditahan karena memiliki riwayat gangguan jiwa dan menjadi tahanan rumah selama proses penyelidikan masih berlangsung,” terangnya.Dari pemeriksaan yang dilakukan, aktivitas penambangan yang mereka lakukan tidak dikoordinir. Kedelapan pelaku saling patungan membeli peralatan seperti kapal pontoon Rp 15 juta dan peralatan lainnya yang menghabiskan modal hampir Rp 20 juta.


“Menurut salah seorang tersangka, hasil yang diperoleh dari menambang 1 minggu ini baru 3 buncis, dengan harga 1 buncis Rp 68 ribu. Jadi total menerima hasil baru sebanyak Rp 204 ribu,” jelas Kapolres.

Lebih jauh diungkapkannya bahwa penangkapan itu berawal dari informasi masyarakat di sekitar wilayah penambangan yang resah dengan aktivitas tersebut. “Berangkat dari informasi tersebut, kami langsung menerjunkan tim Satreskrim  yang dipimpin oleh KBO Satreskrim Polres Sawahlunto Iptu Saipul Anwar, dan langsung menciduk kedelapan tersangka  beserta alat-alat yang digunakan tersebut,” ungkapnya.

Kasat Reskrim Polres Sawahlunto Iptu Roy Sinurat menyatakan bahwa tersangka dijerat Pasal 158 Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, dengan ancaman pidana setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10 miliar.

Baca Juga:  Wako Temui Balai Teknik Perkeretaapian dan PT KAI Sumbar

“Dari tersangka I dan RY diamankan barang bukti berupa 1 unit kapal pontoon, 1 buah talangan besi, 1 buah karpet rumput warna hijau, 1 karpet warna merah, 1 set mesin pompa air ukuran 9 PK merek Pro Quip merah, 1 set selang spiral ukuran 6 inc warna biru beserta kepala babi, 1 buah selang ukuran 2 inc warna putih, dan 1 set tabung angin kompresor,” kata Roy.

Selanjutnya, Roy menambahkan dari LP/11/A/II/2021/SPKT dengan tersangka RA dan BY diperoleh barang bukti 1 unit kapal pontoon, 1 set mesin pompa air 9 PK merek Honda beserta kompresor, 1 keset coklat, 2 karpet merah, 2 karpet hijau, 1 set selang spiral 6 inci biru beserta kepala babi, 1 selang warna biru 2 inc, 1 buah tabung angin kompresor, dan 1 selang angin kompresor warna hijau dan putih.

Dan berdasarkan LP/12/A/II/2021/SPKT dengan tersangka AF, I, BDS, dan JA terdapat lah barang bukti berupa 2 buah pontoon, 2 buah talangan terbuat dari  kayu, 2 buah mesin pompa air merk Honda 9 pk beserta kompresor, 2 selang spiral ukuran 6 inci beserta kepala babi, 2 buah selang spiral 2 inc, 2 buah alat dulang, 1 buah drum warna biru yang sudah terbelah, 4 buah karpet, 2 buah alas kaki, 2 buah selang angin warna biru, 1 buah tabung freon merek Alfron warna hijau, 1 buah veples warna hijau, 1 buah ember kecil warna merah yang berisikan butiran-butiran emas. Saat ini, semua pekerja dan barang bukti dibawa ke Polres Sawahlunto guna pemeriksaan lebih lanjut. (mg3)