Garap Lahan Tidur Ditanami Sawit

90
ilustrasi. (net)

Masyarakat Kamangbaru, Kabupaten Sijunjung antusias membuka lahan sawit baru. Mereka bersemangat karena harga sawit sejak tiga bulan terakhir mengalami kenaikan.  Bertahap area-area nonproduktif yang terhampar dalam nagari mulai digarap warga. Terutama untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, diikuti sistem pembibitan (pembuatan kecambah) secara manual/tradisional.

Pantauan Padang Ekspres, semangat masyarakat ini hampir merata se-Kecamatan Kamangbaru, seperti Nagari Kunangan Paritrantang (Kunpar), Kamang, Muarotakung, Siaur, hingga Tanjunggadang.  Diawali dengan proses pembersihan lahan, kemudian dilanjutkan pengolahan tanah, dan pemupukan menggunakan pupuk kandang dan kompos. Bibit yang sudah dipersiapkan ditanam sesuai mekanisme.

Jumawardi, seorang tokoh masyarakat Nagari Muarotakung menuturkan, semangat baru membuka lahan perkebunan kelapa sawit kembali muncul menyusul  harga komoditi perkebunan tersebut bergerak naik. Harga di tingkat petani mencapai Rp 1.700 per kilogram. Sebelumnya harga sawit sempat jatuh ke level Rp 700 awal pandemi Covid-19 hingga akhir Maret 2020 lalu. Namun perlahan harga kembali bergerak naik, saat ini mencapai Rp 1.700.

Kawasan Kamangbaru memang sangat ideal untuk sektor kelapa sawit, kadar airnya rendah, dan kualitasnya bagus. Bahkan untuk buah pasir (buah tahap awal produksi) laku dijual di pasaran. Meski harganya relatif murah dibanding buah tanaman berusia cukup, diatas lima tahun berproduksi.

Baca Juga:  7 Kasus Lakalantas Selama Operasi Ketupat Singgalang

”Masyarakat ingin bangkit, hidup keluarga mesti berlanjut, tak mungkin terus-terusan merana akibat wabah pandemi Covid-19 ini. Salah-satunya yakni lewat mengolah lahan perkebunan,” tukasnya.

Hal senada juga diungkapkan Wali Nagari Kamang, Syafri, warga akhir-akhir ini kembali bersemangat membuka lahan perkebunan. Begitupun pengembangan dan perluasan bagi warga yang sebelumnya sudah punya lahan garapan.

”Atas nama pemerintahan nagari kami sangat mendukung upaya masyarakat tersebut. Sebab perkebunan kelapa sawit merupakan sebuah investasi yang dapat diandalkan demi kelangsungan hidup keluarga,” ujar Syafri.

Terutama terhadap lahan-lahan tidur, atau lahan yang selama ini tidak tergarap. Secara bertahap diupayakan dapat dikelola, hingga memberikan nilai ekonomi, manfaat.  Kendati demikian, seiring dengan munculnya semangat baru tersebut, kebanyakan warga tetap menghadapi masalah klasik.

Tak lain faktor modal untuk membiayai penggarapan lahan. Untuk satu hektare lahan minimal membutuhkan biaya Rp 50 juta. ”Kami harapkan ada pihak yang mau meringankan beban masyarakat, seperti halnya pinjaman lunak dari bank,” pungkasnya. (atn)