Tanaman Kakao Diserang Hama, Dinas Pertanian Sijunjung Tinjau Lapangan

19
Ilustasi.(NET)

Petani kakao di Kabupaten Sijunjung kembali mengeluhkan wabah hama kakao yang mengakibatkan hasil panen anjlok.

Serangan hama kali ini ditandai dengan rusaknya bagian daun, bakal buah banyak tiba-tiba membusuk, dan tingkat kematangan (buah) tidak sempurna. Buah yang masak didalamnya terdapat pembusukan.

Persoalan tersebut dikeluhkan puluhan petani di kawasan Nagari Padangsibusuk, Muarobodi, Tanjung Ampalu, serta Nagari Muaro.  Lebih separuh tanaman kakao di areal peladangan warga terjangkit penyakit. Petani pun kesulitan membuat obat penangkalnya.

Langkah alternatif, sebahagian petani mencoba menyemprotkan pestisida yang dibeli di toko-toko, diikuti obat-obatan buatan (alami).

“Kondisi ini kembali terjadi setelah setahun lalu sempat terhenti dengan sendirinya. Wabah hama mengakibatkan hasil panen menurun,” keluh Amiruddin, warga Nagari Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan.

Berdasarkan pengamatan dari dekat, ternyata terlihat ada semacam serangga pengerat (kutu warna putih) menempal di bagian dahan pohon, kemudian menyebar ke bagian putik, dauh, sampai pucuk.  Intensitasnya pun berpindah-pindah dari tanaman satu ke yang lainnya.

”Proses panen dilakukan 20 hari sekali dengan hasil rata-rata 25 kg. Harga jual biji kakao saat ini berkisar Rp 27 – Rp 30 ribu per kilogramnya. Harga termahal adalah biji kakao kering,” jelasnya.

Baca Juga:  Aksi Petani Sawit Sijunjung Dikawal 170 Personel Polisi

Namu lantaran terjangkit hama mengakibatkan hasil panen turun drastis, bahkan mencapai separuhnya. Senada, diungkapkan Nasrul, anggota kelompok tani di Kenagarian Sijunjung, Kecamatan Sijunjung. Hama perusak tanaman kakao yang mewabah di Sijunjung, hingga buah kakao banyak rusak sebelum masa panen.

Untuk proses pemulihan, Nasrul mengaku mencoba menyiasatinya dengan cara melakukan perawatan secara rutin terhadap tanaman kakaonya, disertai penyemprotan pestisida seminggu sekali.

Menurutnya faktor kebesihan lahan penting untuk kestabilan produksi tanaman. “Meski tanaman kakao saya tidak banyak, hasil panen kakao sejauh ini cukup membantu ekonomi keluarga. Tiap kali panen bisa mendapatkan Rp 700 ribu,” imbuhnya.

Kadis Pertanian Sijunjung, Ronaldi akan cek ke lapangan, kemudian dilakukan langkah-langkah secara tepat.(atn)