Surau Tenggih Calau, Sempat Dibakar Penjajah Jepang, Kini Sepi Jamaah

24
Bangunan Surau Tenggih di Kampung Calau, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung. (IST)

Islam tidak berkembang begitu saja di ranah Lansek Manih (Kabupaten Sijunjung, red), melainkan diawali dengan sebuah sejarah panjang. Salah-satunya dibawa seorang ulama besar, Syekh Abdul Wahab dengan pusat penyiaran di Kampung Calau, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung.

Beliau membangun sebuah tempat ibadah dan perguruan Islam bernama Surau Tenggih (Surau Tinggi). Kini, surau tersebut kini menjadi saksi bisu. Berbagai cerita seputar sosok Syekh Abdul Wahab masih beredar sampai sekarang di tengah masyarakat Sijunjung.

Bahkan, dia disebut-sebut mempunyai karomah tersendiri. Ketaatannya pada Allah SWT dan tingginya pengetahuan ilmu agama, menjadikan dia dipandang sebagai imam sejati, hingga mempunyai murid di berbagai penjuru daerah.

Surau Tenggih yang dibangun Syekh Abdul Wahab terbilang representatif, besar, berlantai papan, atap bagonjong empat (lancip) terbuat dari ijuk. Di sisi Surau Tenggih terdapat tempat berwuduk berupa pincuran tujuh, airnya jernih tak pernah kering meski di tengah kemarau panjang.

Konon aliran air pincuran tujuh bersumber dari sebuah mata air, tidak jauh dari lokasi surau yang ditemukan oleh Syekh Abdul Wahab. Di dalamnya, terdapat kelambu putih tempat bersuluk, berikut sejumlah manuskrib dan kitab-kitab kuno tulisan Arab berusia ratusan tahun.

Untuk kelestarian bangunan, Surau Tenggih Kampung Calau masuk dalam daftar aset peninggalan sejarah cagar budaya di bawah tanggung jawab BPCB Sumbar. Imam Calau, Umar SL Tuangku Mudo diwakili Karimun, 67, selaku Juru Kunci Makam Syekh Abdul Wahab menuturkan, kompleks tersebut sampai kini masih digunakan.

Namun, tidak lagi sesemarak dahulu. Bahkan, di antara bangunan pendukung di kompleks tersebut sudah banyak yang lapuk dimakan rayap. Surau Tenggih memiliki tujuh jendela, empat tiang, atap bagonjong empat, berdiameter sekitar 14×14 meter persegi.

Di dalam bangunan dilengkapi sebuah mihrab, tempat bersuluk, dan menyimpan sebuah bedug dan gong besar (tergantung) untuk penanda masuknya waktu shalat. Sejauh ini, bangunan ini sudah direnovasi empat kali, terakhir sempat dibakar penjajah Jepang.

Karimun mengaku, kini hanya bisa berhiba hati melihat kompleks Surau Tenggih sekarang. Bahkan, kompleks Pemondokan Calau sepi jamaah selain bulan Ramadhan. Kecuali beberapa orang tua-tua/usia lanjut saja menggelar shalat berjamaah lima waktub di dalamnya.

”Mungkin dunia sudah tua, pusat dan tempat-tempat ibadah menjadi sepi,” sesalnya sambil mengajak Padang Ekspres melihat-lihat sejumlah kitab-kitab kuno, manuskrib tua di dalan Surau Tenggih peninggalan para imam terdahulu.

Sebagai bentuk penegasan, Karimun menunjukan daftar silsilah (mashab) Syekh Abdul Wahab hingga berhulu ke Nabi Muhammad SAW dibingkai khusus di dinding surau. Abdul Wahab sendiri berada pada urutan ke-33.

Baca Juga:  Ada Andre di Balik Penambahan Kuota Premium dan Solar Subsidi Sumbar

Dalam daftar tersebut tercantum pada urutan pertama adalah Nabi Muhammad SAW, berlanjut pada Imam Ali Murtadho, Husin Syahid, Imam Zainu Abas, Imam Muhammad Ali Bakar.

Lalu, Imam Ja’far Shidiq, Abu Yazid Bustami, Syekh Muhammad Maghribi, Syehk Aribi Madinah’ Atiq, Habib Zufri Turkit Tusi, Lutub Habib Haqqo Qolaqoni, Qhodilah Kholilah, Muhammad Ahif, Muhammad Arif, Abdus Syatharoh, Imam Qhudi Syatharoh, Ahad Baitullah, Aqholudri.

Berikutnya, Muhammad Ali Asyiq, Wajannatuddin Alwi, Sya’adilah.
Selanjutnya, Muhammad Hasnawi, Syekh Abdul Kusasy, Syekh Abdur Rauf Aceh, Syekh Burhannuddin Ulakan, Syekh Abdurrahman, Syekh Khairuddin Marungki, Syekh Jalaluddin Tanjung Medan, Syekh Idris Mufti Tanjung Medan, Syekh Abdul Hasan Mufti Ulakan, Syekh Qusyasy Tibarau, Syekh Anikuddin Pudak Sijunjung, Syekh Abdul Wahab Calau, Syekh Jalaluddin Calau, hingga Syekh Ahmad Calau.

”Itu lah daftar silsilah keguruan Syekh Abdul Wahab hingga akhirnya berhulu pada Nabi Besar Muhammad SAW,” tegasnya pula. Untuk ranji pewaris Imam Calau, antara lain; Abdul Wahab, Syekh Jalaluddin, Syekh Ahmad, Ayek Usman Bagindo Katik, Angku Malin Kuniang Jangguik Malin Mudo dan Malin Mancayo, Angku Kamaluddin, Imam Kopa dan Buya Khairuddin, H.Sapri Malin Saidi, Umar SL Tk Mudo.

Ditambahkan seorang pewaris Calau, Bujang Gunjo, perjuangan Syekh Abdul Wahab dalam menyebatrkan Islam di bumi Sijunjung sangatlah berat. Di masa itu, masyarakat masih berkeyakinan beragam, bahkan banyak bertentangan dengan ajaran Islam.

Beliau datang dari dari daerah Nagari Kumanis, sesampai di Calau Muarosijunjung perjuangannya tersebut turut didampingi seorang tokoh bernama Datuak Tapowuok. Berkat perjuangan cukup panjang, akhirnya didirikan tempat ibadah bernama Surau Tenggih, kemudian berlanjut pembagunan Masjid Tuo Istiqomah di Jorong Tangah.

Beberapa tahun lalu, terbongkar sebuah rahasia besar bahwa Syekh Abdul Wahab disebut-sebut sebagai cucu dari Tuangku Imam Bonjol. Hal ini terkuak setelah sebelumnya datang rombongan tokoh masyarakat dari Bonjol, hingga mereka membuka lembaran sejarah garis keturunan Tuangku Imam Bonjol yang hilang ratusan tahun silam.

Dikaitkan dengan sejarah yang didapatkan para tokoh adat, tokoh masyarakat di Sijunjung terkait, sempat disepakati Syekh Abdul Wahab bukan penduduk asli Muaro. Kesepakatan ini pun selanjutnya dikukuhkan lewat sebuah hajatan syukuran bersama dengan menyembelih seekor kerbau di Kampung Calau. ”Beliau keturunan langsung dari Tuangku Imam Bonjol,” ujar Bujang Gunjo. (yulicef Anthony-Padang Ekspres)

Previous articleSafari DPW NasDem Sumbar, Bantu Masjid Baiturrahman Padangpanjang
Next articleDihantam Bus, 4 Murid SD Meninggal