Warga Muarotakung Keluhkan Limbah Sawit

75
Seorang warga menunjuk cairan limbah yang mencemari sungai di Nagari Muarotakung. (IST)

Masyarakat Nagari Muarotakung, Kecamatan Kamangbaru, Kabupaten Sijunjung mengeluhkan pencemaran lingkungan yang diduga berasal dari sebuah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di daerah itu. Asap pembuangan pabrik memicu kabut tebal, dan air limbah mencemari aliran sungai.

Sejauh ini kabut asap pekat cenderung menyelimuti kawasan tersebut, jarak pandang terbatas, plus menebarkan aroma tak sedap dan menyengat. Sesekali kondisi itu meluas hingga ke sejumlah nagari seputaran Kecamatan Kamangbaru.

Sebagaimana diketahui, pabrik pengolahan minyak kelapa sawit tersebut tergolong berskala besar (perusahaan asing, red), aktif beroperasi tiap hari kerja, terdapat di dalam area perkampungan, jorong Kotoranah, Kenagarian Muarotakung.

Seorang tokoh masyarakat, Aprison, menegaskan, pembuangan limbah pabrik dikeluhkan masyarakat, karena akhir-akhir ini memicu mewabahnya kabut asap pekat. Bahkan pencemaran udara serta-merta mewabah hingga ke berbagai nagari di Kecamatan Kamangbaru, plus beraroma menyengat.

Kemudian disusul limbah cair mengalir ke aliran sungai Batang Takuang, mengakibatkan kualitas air jadi buruk. Dari permukaan tampak keruh berbusa, berbau busuk. “Tidak bisa dibiarkan. Kedepan perlu langkah tegas, hingga limbah industri pengolahan minyak kelapa sawit tersebut dapat ditangani sesuai ketentuan,” tukas Aprison yang juga Ketua Kamar Dagang Industri (KADIN) Kabupaten Sijunjung.

Baca Juga:  Aksi Petani Sawit Sijunjung Dikawal 170 Personel Polisi

Berdasarkan pengakuan sejumlah warga, aktivits pembuangan limbah ke sungai Batang Takuang akhir-akhir ini diduga menjadi pemicu matinya puluhan ekor hewan ternak (kerbau) milik masyarakat. Kebetulan area padang rumput terdapatnya persis di pinggir sungai, dan sebelum pulang ke kandang kerbau terbiasa mandi/ minum di sungai.

Wali Nagari Muarotakung, Iswadi mengaku, juga telah menerima laporan masyarakat, terkait peroslan limbah pabrik. Kemudian pemerintahan nagari menyampaikannya pada pihak perusahaan, agar segera ditindaklanjuti.

Terkait masalah ini, Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Kabupaten Sijunjung, Riki Maineldi, yang dicoba dikonfirmasi hingga kemarin sore, belum bisa terhubung. Dihubungi via telepon genggam, panggilan dan pesan WA, tidak menyambung. (atn)