Ambruk, Harga Sawit Rp 600 per Kg! Petani di Sijunjung Mulai Stres!

120
TURUN DRASTIS: Truk sawit menumpuk di salah satu perusahaan sawit. Saat ini harga sawit semakin anjlok jadi Rp 600 per kilogram.(IST)

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit semakin anjlok di Kabupaten Sijunjung. Di tingkat pengepul (tauke) harga bertengger di level terburuk yakni Rp600 per kilogram, Senin (27/6).

Kondisi itu, membuat kalangan petani makin stren hingga membiarkan buah sawit menbusuk di batang.  Ambruknya harga jual TBS hingga ke level Rp 600 per kilogram sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Petani hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Seorang petani sawit di Kenagarian Muaro Takung, Kecamatan Kamangbaru, Usman Afandi, 56, mengungkapkan, harga kelapa sawit yang sekarang merupakan yang terparah. Atas fenomena ini membuat kalangan petani sangat tertekan dan putus asa.

Dapat dibayangkan seiring jatuhnya harga jual TBS justru harga pupuk (khusus jenis NPK nonsubsidi) mencapai Rp1, 2 juta per karung (50 kg). Belum lagi pengeluaran biaya panen, upah angkut, transportasi, serta biaya rawatan kebun.

“Parah. Harga jual kelapa sawit kini sangat murah, yakni hanya Rp 600 per kilogram di tingkat tauke, atau paling tinggi Rp 350 ribu per hektare. Turun lagi dibanding seminggu sebelumnya dengan kisaran Rp 900 – Rp 1000 per kilogram,” keluh Usman.

Harga murah itu tidak dapat dielakkan karena kalangan petani di tingkat bawah umunnya menjual TBS ke pengepul/ tauke, bukan ke pabrik. Karena secara aturannya pabrik dalam mengambil TBS masyarakat menerapkan sistem DO melalui jasa pihak ketiga, secara perorangan oleh masyarakat tidak diterima.

Tauke pun setelah mengambil sawit petani akan memasukan stok ke pengusaha pengelola DO yang telah bekerjasama dengan pabrik. Jadi transaksi penjualan berlangsung antara tauke/pengepul dengan pengelola DO.

Itu pun mobil mobil pengangkut TBS yang diperbolehkan masuk pabrik, ulasnya, ada aturannya. Seperti misalnya PT Kemilau Permata Sawit (KPS) di Nagari Muarotakung, Kecamatan Kamangbaru, hanya melayani truk jenis engkel, atau truk roda empat, jenis pikup tidak boleh.

Baca Juga:  Sijunjung Mulai Terapkan KTP Digital

Alasannya karena pabrik hanya punya timbangan besar, khusus bagi truk bertonase besar.  Jadi, mobil kecil diklaim muatan yang tengah dibawa rawan tidak terukur oleh timbangan pabrik.

Demikian juga PT. Bina Pratama di Nagari Kunangan Parit Rantang (Kunpar) Kecamatan Kamangbaru, proses pembelian TBS memberlakukan sistem DO. Bahkan perusahaan ini punya lahan perkebunan sendiri untuk dipanen, sementara TBS lokal hanya diterima sepersekian persen saja.

“Kebetulan selain petani, saya juga menjadi tauke/pengepul TBS dari tingkat petani. Dimana di pabrik TBS kini berkisar Rp1.100 satu kilogram,” ungkapnya.

Ambruknya harga TBS juga dikeluhkan Witraini, petani di Nagari Kamang, Kecamatan Kamangbaru. Menurutnya ia baru saja selesai mengeluarkan biaya besar untuk proses pengolahan, perawatan, serta pemupukan tanaman. Kemudiam harga jual kelapa sawit malah jatuh.

“Kami baru saja mengeluarkan biaya besar untuk perawatan tanaman, berlanjut ke proses pemupukan. Kemudian harga sawit malah jatuh. Kami rugi besar,” ujarnya kecewa.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Perwakilan Sijunjung, Bagus Budi Waluyo menyebut, pihaknya sedang berusaha mencarikan regulasi untuk mengangkat harga kelapa sawit.

Setelah sebelumnya sempat berkoordinasi dengan dua perusahaan (pabruk) pengilahan CPO, meliputi PT.KPS dan PT.Bina Pratama. Sebagai bentuk keseriusan, Bagus mengaku baru-baru ini ikut datang ke kementerian terkait untuk mengangkat kembali harga TBS di tingkat daerah.

“Pihak kementerian berjanji akan segera menetapkan harga wajar di tingkat bawah. Akan tetapi, nyatanya kini malah semakin turun,” ucap Bagus, menyesalkan. (atn)