Surau Simauang, Menyimpan Tafsir Kulit Unta dan Kitab Ilmu Falaq

9
Surau Simauang Jorong Tapian Niaro, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. (IST)

Surau tuo satu ini sarat sejarah. Selain menyimpan sedikitnya 86 manuskrip kuno (Arab Melayu), bangunan surau ini menjadi saksi bisu sisa peradaban masa lampau. Seperti apa?
Bila Anda berkunjung ke Kabupaten Sijunjung, jangan lewatkan singgah sejenak di obyek satu ini.

Yakni, situs cagar budaya Surau Simauang, di Jorong Tapian Niaro, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Berjarak sekitar 10 km dari pusat ibu Kabupaten Sijunjung, Nagari Muaro, Surau Simauang ini merupakan peninggalan Syekh Malin Bayang.

Pada masanya, sekitar tahun 1800-an, puluhan hingga ratusan orang dari berbagai penjuru daerah berdatangan ke sini untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu agama. Mulai ilmu fiqih, tauhid, perukunan, ilmu tafsir, sampai ilmu falaq dan kesehatan dan lainnya.

Setelah dirasa mampu dan mendapat bai’at, masing-masingnya kembali ke kampung untuk mengabdi, jadi guru, imam, khatib, bilal, guru mengaji dan lainnya. Sebagian lainnya ada pula memilih menetap tinggal di Sijunjung, hingga berkeluarga di sana.

Begitu banyak cerita religius terukir di kompleks perguruan Surau Simauang, Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung ini. Sampai-sampai pada masanya kompleks Surau Simauang ikut mewarnai syiar Islam bagi Ranah Bundo, Minangkabau.

Namun lagi-lagi, seiring berjalannya waktu, kejayaan syiar Islam berangsur memudar. Bangunan berusia ratusan tahun ini kondisinya terlihat menyedihkan, lapuk dimakan rayap. Bagian atap berkarat (parah), dinding, dan lantai, tak lagi layak pakai. Bila turun hujan, air merembes masuk ke dalam ruangan.

Syekh Malin Bayang merupakan murid Syekh Ahmad yang memiliki padepokan di Subarang Sukam, Kampung Calau, Nagari Muaro. Syekh Ahmad sendiri tercatat sebagai pewaris, sekaligus berstatus keponakan dari Syekk Abdul Wahab, Kampung Calau.

Selain pada Syekh Ahmad, diriwayatkan Syekh Malin Bayang juga pernah berguru pada Syekh Ghaib Padangganting, Syekh Talawi, dan Syekh M Yatim. Picuk bulat keguruan sampai pada Syekk Muchsin, Syekh Burhanuddin, Syekh Abdurrauf, hingga Syekh Ahmad Kusasi. Seluruhnya bermashab Tareqat Syatariyah.

Pewaris sekaligus Imam Surau Simauang, A Malin Bandaro Tuangku Mudo menjelaskan, perguruan Surau Simauang meninggalkan banyak bukti sejarah, yakni berbentuk manuskrip Arab Melayu dan kitab-kitab kuno.

Bahkan, di sini juga tersimpan sebuah tafsir jalalen asli dari kertas pertama buatan Eropa, tinta getah jua, sampul kulit unta, peninggalan Syekh Malin Bayang. Berikut kitab kuning, nizan qurub (ilmu taqwin, hisab dan falaq), fiqih, tasawuf, tauhid, ilmu kitab, perukunan, hingga ramuan obat, dan sebagainya.

Baca Juga:  Masjid Agung Babussalam Santuni Ratusan Anak Yatim Piatu

Semua manuskrip berasal dari para syekh dan guru-guru terdahulu berbagai penjuru negeri, serta sebagian lainnya ditulis langsung Syekh Malin Bayang. Setelah kembali disusun dan dikelompokkan beberapa setahun lalu, dibantu tim akademisi Unand, UNP, UIN Padang, jumlah naskah/manuskrip milik Surau Simauang seluruhnya mencapai 88 kelompok. ”Awalnya 86 kelompok, namun setelah disusun ulang menjadi 88 kelompok,” ujarnya pada Padang Ekspres. Kegiatan penelitian sering digelar para akademisi di sini,”Kamis (29/4).

Lebih lanjut diungkapkannya, di kompleks Surau Simauang terdapat lima gedung dengan gedung utamanya adalah Surau Tua, Surau Simauang, berdinding kayu, lantai kayu, dan atap seng lancip.

Kemudian didukung empat gedung lainnya, yakni pustaka mini tempat penyimpanan file-file/ manuskrip kuno, rumah tempat tinggal imam Surau, serta fasilitas kompleks pemakaman dan Surau Baru (masih bernama Surau Simauang, red) tempat ibadah sehari-hari.

”Surau Simauang asli tidak layak lagi dipakai, karena sudah lapuk. Maka untuk ibadah sehari-hari, khususnya shalat lima waktu, para jamaah melaksanakan ritual di surau baru,” sebutnya.

Untuk mempertahankan nama dan marwah Surau Simauang, saat ini berbagai kegiatan dan ritual keagamaan masih tetap dilaksanakan di kompleks Surau Simauang, disertai kegiatan wirid pengajian, membaca Al Quran oleh anak-anak.

”Terkadang saya merasa kecewa melihat keadaan, perhatian pemerintah ke kompleks ini sangat minim. Namun dengan segala upaya saya tetap berusaha/ berjuang menghidupkan kegiatan keagamaan/religi. Bahkan, bangunan utama sudah lapuk dan terancam ambruk,” ujarnya sedih.

Bila ada pihak bersedia membangun pondok pesantren dalam bentuk yayasan atau di bawah naungan pemerintah, pihak ahli waris siap menghibahkan tanah berapapun dibutuhkan.

Ditambahkan Ketua BMN Yasir Hamdi Malato, berbagai langkah dan upaya telah dilakukan pihak nagari untuk menghidupkan kembali semarak Islam di kompleks Surau Simauang. Namun, hasilnya masih belum optimal. Maka dari itu, ia mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah, bagaimana supaya fasilitas ini dapat kembali hidup berkembang, dan syiar Islam semarak di bumi Sijunjung. (yulicef anthony-Padang Ekspres)

Previous articleTHR dan Gaji ke-13 Cair tanpa Tukin
Next articleJenazah Dikremasi Hingga ke Trotoar, Korban Covid-19 Meroket di India