Cegah Pencemaran, Rancang Pengelolaan Danau Kembar

45
Pesona keindahan Danau Kembar di Sumbar. (Foto: IST)

Pemkab Solok akan merancang pengelolaan Danau Diatas dan danau Dibawah secara berkelanjutan. Ini untuk meminimalisir dampak pencemaran lingkungan di sekitar kawasan tersebut.

“Kita sudah bicarakan dengan bupati, termasuk diskusi dengan pakar perikanan Universitas Bung Hatta (UBH), Forum DAS Sumbar, dan wali nagari setempat, dengan tujuan bagaimana pengelolaan (Danau Kembar) dan regulasinya,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Solok, Bachrizal Bakti.

Diketahui, April lalu, air Danau Diatas sempat tercemar, berbau busuk dan warna keruh. Padahal sudah dipastikan tidak ada pencemaran secara langsung yang dilakukan masyarakat setempat, namun tetap saja fenomena tersebut sulit dipahami dengan nalar.

Dari hasil penelitian, ada dua kesimpulan, yakni ada erosi di sekitar danau yang menyebabkan pesatnya pertumbuhan alga. Secara teori banyaknya alga yang hidup bisa membuat bau amis di perairan danau, dan kematian hewan dasar danau akibat naiknya dasar danau. Sehingga aroma busuk disebabkan oleh hewan dasar laut tersebut.

Kemudian, pemakaian pupuk kimia berlebihan oleh petani yang memiliki lahan di sekitar Danau Diatas, terlebih secara letak, Danau Diatas dikelilingi lahan pertanian warga. Meskipun ada dua kesimpulan yakni fenomena alam dan human error, tetapi pengelolaan yang akan dilakukan tetap bagaimana pengawasan terhadap gaya hidup masyarakat sekitar.

Pengawasan dan pengelolaan tidak hanya fokus pada pariwisata saja, tapi termasuk pelestarian dan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar. Terutama persoalan pemakaian pupuk kimia berlebihan di lahan pertanian sekitar danau.

Ia menambahkan, Danau Diatas dan Dibawah, dapat menyediakan makanan, bahan baku dan sumber air bagi masyarakat. Kemudian, juga pendukung utama sektor perekonomian masyarakat setempat dengan memanfaatkannya sebagai objek pariwisata.

Selain itu danau juga dapat menjaga keseimbangan ekologis, keanekaragaman hayati dan spesies endemik. Untuk itu perlu adanya pengembangan peran pemerintah melalui kelembagaan dan instansi terkait sesuai kewenangan untuk penyelamatan dan pengelolaan Danau Dibawah. Selain peran pemerintah juga diperlukan peran serta masyarakat.

“Danau Diatas dan Dibawah ini sudah dikembangkan untuk kemajuan pariwisata, energi listrik, perikanan tangkap dan lain sebagainya. Hanya saja saat ini bagaimana agar kejadian pencemaran itu tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Dikatakannya, Danau Diatas dan Dibawah sudah tercemar oleh sisa-sisa pestisida yang digunakan oleh petani sekitar. Ini di sebabkan terlalu dekatnya sepadan danau dengan ladang-ladang milik warga. Maka, yang menjadi target utama adalah petani di sekitar danau, diarahkan untuk memakai pupuk yang ramah lingkungan.

Selain itu terjadi penyempitan badan air danau di daerah inlet. Untuk menyelamatkan Danau Dibawah dari ancaman kerusakan maka ditetapkan visi pengelolaan Danau Dibawah yaitu terwujudnya tata kelola kawasan Danau Dibawah berbasis potensi dan sumberdaya lokal untuk kepentingan generasi sekarang dan waktu akan datang yang berbudaya, taat hukum dan berkeadilan. “Untuk mewujudkan visi tersebut dibutuhkan sinergisitas antara pemerintah, swasta maupun masyarakat,” pungkasnya. (f)