Dukung PSBB, Pemkab Solok Libatkan Tokoh Adat

Setelah sempat beroperasi beberapa hari sebelumnya, posko cek poin Covid-19 di Pasar Grosir Kasang, Batanganai, Padangpariaman tutup sejak dua hari terakhir. Terlihat tidak ada petugas di posko tersebut. (Zulkarnaini - Padek)

Perketat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Solok, Pemkab Solok merangkul niniak mamak atau tigo tungku sajarangan di tiap nagari. Ninik mamak ini berperan dalam menyampaikan sosialisasi PSBB di tengah masyarakat.

“Kami harap niniak mamak ikut mengajak anak dan kemenakan untuk patuh terhadap aturan PSBB sebagai langkah memutus rantai penyebaran Covid-19,” ujar Bupati Solok Gusmal.

Menurutnya, pemerintah nagari perlu bekerja sama dengan para niniak mamak sebagai tokoh adat, sehingga aturan yang berlaku tidak hanya sebatas seruan dari pemerintah saja. Pasalnya, hingga saat ini kesadaran masyarakat tergolong rendah.

“Penerapan sanksi hukum untuk saat ini bisa kita pakai Pergub, jika belum ada Perbup. Sesuai kondisi sekarang ini dalam pelaksanaannya harus tegas, keras dan selektif,” tambahnya.

Di Kabupaten Solok hanya ada 2 kecamatan yang memiliki pasien positif Covid-19. Yakni Kecamatan X Koto Diatas dan Kecamatan Pantai Cermin. Meski begitu Gusmal menegaskan PSBB berlaku pada seluruh wilayah di Solok tanpa pengecualian.

Katanya, semua daerah tetap menjalankan PSBB sebagaimana pelaksanaan tahap pertama. Artinya peluang-peluang yang mungkin ada sebagaimana arahan dari Gubernur Sumbar tentang pengecualian-pengecualian dalam pelaksanaan di suatu daerah (local wisdom) tidak diberlakukan.

“Pembedaan tidak mungkin kita lakukan karena akan menimbulkan masalah baru. Seperti adanya perbedaan terhadap perlakuan hukum di suatu daerah, eksklusivitas dan kecemburuan sosial di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Ia juga mewacanakan melakukan pengelompokan orang berdasar umur. Dimana kelompok orang dengan umur 50 tahun ke atas rentan dengan penyakit dan akan diserang penyakit serta akan mudah atau tinggi kemungkinan terserang Covid-19.

Kemudian kelompok orang dengan umur 50 tahun ke bawah memiliki stamina yang relatif kuat dan sehat. Jika dapat dilakukan pengelompokan ini diharapkan dapat mengurangi tingkat perkembangan dari Covid-19 di Kabupaten Solok.

Untuk diketahui hingga Selasa (12/5), ada sebanyak 6 pasien positif di Kabupaten Solok.  Tiga orang sembuh, 1 orang meninggal dan dua kasus aktif. Kemudian ODP sebanyak 8 orang dan PDP 4 orang, serta sudah sebanyak 158 orang melakukan swab tes.

Gencar Membagikan Bantuan

Sementara itu, di Kabupaten Pesisir Selatan upaya memutus rantai virus Covid-19 dimaksimalkan. Selain melakukan pembubaran terhadap warga melakukan pesta pernikahan, pesta ulang tahun, dan berbagai bentuk keramaian lainya, jajaran Polres Pessel juga gencar melakukan sosialisasi dan berbagi bantuan.

“Selama PSBB diberlakukan, kami sudah melakukan teguran lisan terhadap pengemudi kendaraan penumpang sebanyak 6.758 kali, teguran tertulis sebanyak 473 kali pula. Sedangkan pelarangan kendaraan masuk ke Pessel sebanyak 172 kali, dan pelarangan masuk sebanyak 59 kali,” ungkap Kapolres Pessel, AKBP Cepi Noval.

Ia mengatakan pihaknya mengambil tindakan tegas yang humanis selama pendemi Covid-19. Upaya itu bertujuan memaksimalkan pemutusan mata rantai penyebaran virus yang terus meningkat. Mematuhi protokol pencegahan Covid-19 selama pemberlakukan PSBB perlu mendapat perhatian masyarakat. “Bila hal itu dilanggar, kita dari jajaran kepolisian tidak akan segan-segan melakukan tindakan tegas sesuai dengan ketentuan berlaku,” ujarnya.

Hal itu juga diberlakukan bagi kendaraan penumpang baik yang datang dari luar daerah, maupun akan masuk ke dalam daerah. Sebab selain teguran tertulis, pihaknya juga melakukan teguran lisan terhadap kendaraan penumpang yang melintas di daerah perbatasan. Bahkan lebih dari itu, yakni melakukan pelarangan masuk dan juga keluar dari Pessel.

“Upaya itu saat ini dirasakan hasilnya. Sebab dari 16 pasien positif Covid-19, yang telah dinyatakan sembuh hingga saat ini sebanyak 11 orang. Sedangkan ODP dari  307 orang saat ini tingal 13 orang. Untuk OTG dari 380 orang kini menjadi 22 orang, dan pelaku perjalanan dari daerah pandemi (notifikasi) dari 5.887 orang kini menjadi 809 orang pula. Bahkan orang yang menjalani karantina saat ini sudah nol, dari 149 orang sebelumnya,” ujar Cepi.

Ia berharap agar kondisi terus membaik di daerah itu, namun pihaknya akan tetap melakukan pemantauan setelah PSBB berakhir pada 29 Mai 2020 nanti. “Upaya ini kami lakukan untuk berjaga-jaga agar masyarakat Pessel benar-benar terhindar dari penularan Covid-19, walau masa PSBB telah berakhir nanti,” harapnya. (f/yon)