Rumah Batiak Tanah Liek dan Coffeeshop Mulai Menggeliat

30
salah satu karya Rumah Batik Salingka Tabek yang dikelola. Yusrizal.

Tidak dipungkiri Covid-19 yang merebak di Indonesia sejak Maret 2020 berdampak kepada berbagai sektor usaha. Memasuki era tatanan hidup baru atau new normal, harapan kembali ada. Beberapa UMKM yang sempat terdampak cukup parah, kini mulai menggeliat.

Salah satunya, Rumah Batik Salingka Tabek. Yusrizal pemilik usaha tersebut mengatakan pada masa wabah atau sekitar 3 bulan terakhir, usahanya sempat tidak ada orderan dari pelanggan. Namun hal itu dilalui Yusrizal dan temannya dengan ikhlas. Omzetnya yang mencapai belasan juta sebulan langsung anjlok.

Alhamdulillah, sejak new normal ini, sudah mulai lagi datang orderan dari berbagai daerah, dan usaha kami mulai bangkit. Mudah-mudahan segera kembali normal seperti sedia kala,” harapnya.

Dijelaskannya, untuk menghasilkan batik tulis butuh waktu 3 hari. Motif yang dibuat diserahkan pada pelanggan.

Sementara itu, untuk batik tulis tanah liek butuh waktu sekitar 25 hari. Dalam satu bulan saat kondisi normal, rumah Batik Salingka Tabek bisa menghasilkan puluhan kain batik beragam motif dan desain.

Harganya juga cukup bersaing. Untuk batik tulis dengan pewarna alami dan sintetis dijual Rp300 ribu sampai Rp2,8 juta. Harganya tergantung tingkat kesulitan motif yang dibuat.

Terutama motif atah bareh harganya cukup mahal. Kalau batik tanah liek, harganya berkisar dari Rp300 ribu sampai Rp7 juta.

Selain berdasarkan tingkat kesulitan motif, batik tanah liek cukup lama pengerjaannya, banyak digunakan untuk bahan baju, selendang dan pakaian adat.

“Sekarang orderan dari luar daerah juga sudah ada, sebelumnya tidak ada sama sekali. Semoga ke depannya orderan ada peningkatan lagi,” harapnya.

Rasso Coffee, salah satu coffeeshop di kawasan Arosuka, juga terdampak sangat parah akibat wabah Covid-19 tersebut. Alex, 28, pemilik coffeeshop tersebut menuturkan dari akhir Maret sampai akhir Mei lalu, bahkan tidak buka sama sekali.

Sebab, pelanggan tetapnya yakni pegawai kantor Bupati Solok, anak sekolah dan mahasiswa yang berangkat atau balik dari Padang.

“Sepi sekali, kita malah tidak buka sama sekali, beberapa peralatan juga kita bawa ke rumah, dan pasokan kopi yang ada kita pakai untuk kita seduh sendiri saja,” katanya.

Sekarang, coffeeshop-nya sudah mulai buka sejak 28 Mei lalu. Meskipun masih belum seramai biasa, tapi ada peningkatan dari hari ke hari, terutama dari warga sekitar. Untuk kunjungan ke coffeeshop, pihaknya menerapkan protokol kesehatan.

“Sekarang, masyarakat di sini juga pesannya take away, dan tidak seberapa juga yang duduk di sini, tapi lumayan omzet sudah mulai meningkat,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperindag dan UMKM Kabupaten Solok, Eva Nasri menyebut, UKM menjadi salah satu sektor yang paling terdampak akibat Covid-19 ini. Pihaknya mencatat 2.782 UKM merugi akibat pandemi Covid-19 tersebut.

“UKM pangan olahan, kerajinan dan jasa, itu yang sangat terdampak, totalnya ada sekitar 2.782 UKM yang berdasarkan penelusuran kami, terpaksa merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut, dengan kembali dibukanya akses perekonomian dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, tentu juga berdampak pada sejumlah UMKM yang sempat merugi sebelumnya. Sebab beberapa hari memulai operasi, warga juga mulai nampak, sehingga interaksi jual beli bertumbuh.

Tak hanya itu, dibukanya beberapa spot pariwisata juga memberikan andil mulai menggeliatnya sejumlah lapangan usaha. Meskipun belum naik secara signifikan, tapi pelaku usaha sudah mulai merasakan kembali aktivitas jual beli secara normal.

“Kami sudah sosialisasikan kepada UMKM, bahwa selama new normal ini, setiap tempat usaha wajib menyediakan sarana dan prasarana sesuai dengan protokol kesehatan,” pungkasnya. (f)