1 dari 3 Harimau Sumatera Ditangkap

63
Ilustrasi Harimau Sumatera. (Foto: IST)

Sempat mengancam keselamatan dan meresahkan warga dalam sebulan terakhir, satu dari tiga ekor harimau Sumatera berhasil ditangkap warga Sabtu (13/6) di Kabupaten Solok. Sebelumnya harimau-harimau tersebut sempat berkeliaran di ladang yang dekat dengan pemukiman warga di Nagari Gantungciri, Kecamatan Kubung dan Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang.

“Harimau tersebut merupakan kawanan dari tiga ekor harimau yang sebelumnya sering dijumpai oleh warga kami di lading. Kami menduga masih ada dua ekor lainnya yang masih berkeliaran,” ujar Wali Nagari Gantuangciri, Hendri Yuda, Sabtu (13/6).

Harimau yang diperkirakan berusia sekitar 1,5 tahun itu masuk dalam perangkap yang dibuat oleh BKSDA Sumbar. Harimau tersebut kemudian dievakuasi dan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi dan tiba di kantor Wali Nagari Gantuangciri sekitar jam 19.00.

Selanjutnya harimau diangkut menggunakan mobil oleh pihak BKSDA Sumbar. Dari pantauan Padang Ekspres di kantor Wali Nagari Gantuangciri, sekitar pukul 19.15, ratusan masyarakat berbondong-bondong melihat harimau yang ditangkap tersebut, serta juga menyaksikan serah terima harimau dari pihak Nagari Gantungciri kepada pihak BKSDA Sumbar.

Ia menyebut, tertangkapnya harimau tersebut berawal dari pemasangan perangkap yang dilakukan oleh tim gabungan dari BKSDA Sumbar dan masyarakat dan pihak terkait lainnya, empat hari yang lalu.

Sebelumnya masyarakat bersama petugas juga sudah melakukan penghalauan harimau ke dalam hutan bersama tim gabungan. Namun tidak membuahkan hasil dan harimau tetap berkeliaran di kawasan perladangan warga.

Kepala Resort Solok BKSDA Sumbar, Afrilius menyebut, perangkap tersebut dipasang pada Selasa (9/6) malam. Perangkap terpaksa dipasang, karena keberadaan harimau semakin mengkhawatirkan. Apalagi setelah dilakukan penghalauan beberapa kali, harimau tetap kembali muncul, terutama di Nagari Gantuangciri, Kecamatan Kubung dan Nagari Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang.

Secara rutin, petugas mengecek perangkap setiap hari. Namun setelah dipasang kerangkeng, Kamis (11/6), harimau itu menerkam dan memakan babi hutan seberat 20 kilogram. Sisa babi yang dimakan tersebut berjarak sekitar 700 meter lebih dari lokasi perangkap dipasang, tim BKSDA Sumbar kemudian memasukan sisa babi yang dimangsa harimau sebagai umpan.

“Salah satu sifat harimau pasti akan mencari lagi sisa makanan yang ditinggalkan untuk dimakan sampai habis, maka kita ambil sisa bangkai babi itu dan dijadikan umpan tambahan,” ungkapnya.

Setelah menunggu sekitar satu hari pasca pemasangan umpan itu, akhirnya upaya yang dilakukan tim gabungan bersama masyarakat membuahkan hasil, satu ekor harimau muda masuk perangkap, diperkirakan sekitar pukul 13.00 di kawasan Cimoneng Nagari Gantungciri, dengan jenis kelamin betina, kemungkinan besar merupakan satu diantara 3 ekor harimau yang sering dilihat warga.

“Saat pengecekan pertama, Sabtu pagi sekitar pukul 09.00, kerangkeng perangkap masih kosong, kemudian selepas Salat Zhuhur kita cek lagi perangkapnya ternyata sudah ada harimau muda yang terperangkap,” jelasnya.

Lebih lanjut, harimau dengan jenis kelamin betina tersebut dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera (PRHS) di Dharmasraya, untuk dirawat dulu di sana, karena saat mengevakuasi, harimau itu dibius. Menurutnya, segera dilepas atau tidaknya harimau itu tergantung tingkat kesehatan harimau.

“Yang jelas pasti akan dilepaskan lagi ke alam liar yang jauh dari permukiman warga, saat ini pihak BKSDA Sumbar memutuskan untuk memberikan perawatan terlebih dahulu kepada harimau tersebut,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, pihaknya juga memasang dua perangkap lagi, untuk menangkap dua kawanan harimau lainnya. Bahkan pihaknya berharap kedua ekor harimau yang masih berkeliaran itu segera ditangkap agar mendapatkan pengobatan dan perawatan, sebab salah satu di antaranya diduga mengalami luka di bagian kaki.

Lalu, BKSDA Sumbar sendiri akan terus memperbaiki penanganan konflik dan melakukan pemantauan terhadap potensi konflik antara harimau dan manusia. Salah satu faktor utama yang membuat harimau sampai ke area ladang warga adalah habitatnya yang semakin sempit dan terdesak laju pembukaan lahan, maka hewan tersebut akan mencari alternatif lokasi bila mangsanya semakin sedikit di dalam hutan.

Terutama di empat nagari, yakni Nagari Gantungciri, Nagari Kotohilalang, Kecamatan Kubung, Nagari Jawi-jawi Guguak dan Nagari Kotogaek Guguak Kecamatan Gunung Talang, di sana ada Hutan Lindung (HL), areal penggunaan lain (APL), dan suaka margasatwa (SM) Bukit Barisan.

Menurutnya, antara APL dengan HL sangat berdekatan, beberapa lahan yang masuk Hutan Lindung malah ada yang terpakai juga oleh masyarakat setempat untuk ladang. Bahkan, satu diantara tiga ekor harimau yang sering terlihat tersebut mengalami luka di bagian kaki, dan diperkirakan terkena ranjau di sekitar hutan lindung tersebut. “Kami harap masyarakat menghentikan dulu aktivitas ke ladang sementara waktu. Tapi kalaupun terdesak harus ke ladang, sebaiknya dengan rombongan,” pungkasnya. (f)