Minimalisir Pemakaian Pupuk Kimia

ilustrasi pemupukan. (jpg)

Intensnya penggunaan pupuk kimia di kawasan pertanian dikhawatirkan akan menyebabkan dampak jangka panjang terhadap kualitas humus tanah dan kesuburan tanah.

Kondisi demikian terlihat di Kecamatan Lembah Gumanti dan Danau Kembar.
Diketahui, Lembah Gumanti dan Danau Kembar dikenal sebagai sentra pertanian Kabupaten Solok, terutama sayuran dan jenis umbi-umbian. Komoditi utamanya di antaranya sayur kol, kentang, bawang, kopi, dan berbagai macam jenis sayuran khas dataran tinggi lainnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, Lucky Effendi mengatakan di samping tetap menjaga kualitas, mau tidak mau jumlah produksi dan jangka waktu panen menjadi prioritas para petani. Maka itulah, sejak berpuluh-puluh tahun lalu, masyarakat memilih untuk memupuk kebun mereka dengan pupuk kimia ketimbang pupuk organik.

“Kecanduan masyarakat terhadap pemakaian pupuk kimia harus segera disikapi. Jika tidak maka kesuburan tanah akan terancam dalam jangka panjang. Seharusnya dari dinas terkait lebih gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya pupuk kimia jika digunakan terus-menerus, serta juga memberikan solusinya,” katanya.

Sebab sejauh yang ia tahu penggunaan pupuk kimia yang berulang-ulang di lahan yang sama, perlahan akan merusak organisme dan mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Begitu juga dengan unsur hara yang terkandung dalam tanah.

Baca Juga:  Prof. Elfi Sahlan, Mantan Wakil Bupati Solok Meninggal Dunia di SPH

“Kebanyakan petani memang tahu akan hal itu. Tapi mereka tak paham, jikapun paham petani malah tidak tahu bagaimana menyikapinya. Karena itu peran penyuluh pertanian sangat vital di sini,” tambahnya.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Si Is mengakui, petani masih terus menggunakan pupuk yang mengakibatkan ekosistem alami terancam. Secara tidak langsung juga berpengaruh kepada kesuburan tanah.

Namun, untuk mengarahkan petani menggunakan pupuk organik tidak bisa langsung menyeluruh. Akan tetapi harus dimulai dengan kelompok tani percontohan. Kabupaten Solok saat ini sudah memiliki beberapa kelompok tani yang memakai pupuk organik dalam bertani. “Yang dikembangkan baru padi organik, sayur organik dan teh organik, serta ada juga kelompok tani yang mengusung pemakaian pestisida nabati,” katanya.

Namun, kenapa harus perlahan dalam merangkul masyarakat untuk memakai pupuk organik, kendalanya, menurut Si Is, petani terlalu takut hasil produksi berkurang. Penggunaan pupuk organik dikhawatirkan sulit untuk membantu proses penanaman.

“Masyarakat sudah akrab dan bergantung dengan pupuk kimia, sehingga sulit meninggalkan pupuk tersebut untuk beralih ke organik. Langkah-langkah seperti sosialisasi terhadap kelompok-kelompok tani ke depannya akan terus dilakukan secara berkelanjutan,” tuturnya. (f)

Previous articleTerminal Anakaie Dilengkapi Mesin Tiket
Next articleSatgas Yonif 131/Brs akan Berangkat ke Papua