Waspada!! DBD Mulai Serang Warga Kabupaten Solok

29
Ilustrasi kasus DBD.(NET)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menyerang warga Kabupaten Solok. Masyarakat pun diminta mewaspadai penyakit itu, terlebih dalam kondisi cuaca yang saat ini tak menentu.

Kelapa Dinas Kesehatan Kabupaten Solok Zulhendri, mengatakan, sepanjang Januari hingga Juli 2022, kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Solok tercatat ada 40 kasus. Kasus itu menyebar disejumlah kecamatan. Meskipun demikian, pihaknya sudah melakukan beberapa langkah antisipasi diantaranya adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara berkala.

”Ada pun kegiatan yang kami lakukan salah satunya adalah fogging atau pengasapan di sejumlah wilayah kerja Puskesmas,” kata Zulhendri, Minggu (24/7).

Dikatakannya, dari 40 kasus, penyebarannya ada di Juagaek 3 orang, Muarapanas 1 orang, Paninjauan 1 orang, Simpang Tanjung Nan IV 1 orang, Singkarak 3 orang, Sirukam 4 orang, Talang 4 orang, Tanjung Bingkung 8 orang dan terbanyak ada di Selayo yakni 15 orang. Dijelaskannya, selain PSN pihaknya juga melakukan fogging, survei jentik dan memastikan keadaan pasien yang terjangkit DBD.

”Kami melakukan imbauan dengan menggunakan mobil dengan alat pengeras suara ke nagari-nagari. Mendatangi rumah warga untuk survei jentik, lalu mendatangi rumah sakit dimana pasien dirawat untuk memastikan keadaannya,” tuturnya.

Peningkatan kasus DBD biasanya terjadi terutama saat musim hujan. Kementerian Kesehatan mencatat di tahun 2022, jumlah kumulatif kasus dengue di Indonesia sampai dengan Minggu ke-22 dilaporkan 45.387 kasus. Sementara jumlah kematian akibat DBD mencapai 432 kasus.

Baca Juga:  Sering Dianggap Penyakit Musiman, Gejala DBD Mewabah di Sijunjung

Kasus DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dikenal membawa penyakit demam berdarah dengue. Center for Disease Control (CDC) melaporkan bahwa demam berdarah kini menjadi epidemi di berbagai Negara baik Negara maju maupun berkembang.

Lalu, ia meminta semua masyarakat untuk bersama-sama membasmi perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Ia juga meminta seluruh ASN dapat ikut serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk menekan angka tersebut, Dinkes pihak terkait terus berupaya mencegah pembiakan nyamuk jenis Aedes Aegipty, yakni melalui fogging.

Lalu, salah satu faktor penting yang harus dilakukan masyarakat adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dilaksanakan dalam menghindari penyakit DBD, diantaranya adalah dengan memastikan bahwa selalu menkonsumsi makanan dan minuman yang higienis.

Ia menyebut, pihaknya fokus pada pemberantasan sarang nyamuk, melalui gotong royong kebersihan lingkungan. Selain itu, bubuk Abate juga diberikan kepada masyarakat.
Untuk pengawasan lingkungan, beberapa Sanitarian di Puskesmas ditugaskan untuk survey jentik berkala di daerah fokus DBD dan sepanjang aliran sungai.

“Kita harap masyarakat mematuhi segala petunjuk kesehatan, jika ada yang sakit jangan segan-segan menghubungi petugas kesehatan ataupun fasilitas kesehatan terdekat,” tukasnya. (frk)