Luas Lahan Bawang Putih Terus Berkurang

ilustrasi bawang putih. (net)

Sebagai daerah yang didapuk sebagai sentra pertanian bawang, pembudidayaan bawang putih masih kurang di Kabupaten Solok. Justru berbanding terbalik dengan pengembangan bawang merah. Kondisi demikian harus disikapi Pemkab Solok.

“Kami sedang mengupayakan mengembangkan bawang putih dengan luas lahan 186 hektare. Tentunya dengan menggunakan bantuan APBN 2019, Rp39 juta per hektare,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Si Is.

Dari tahun ke tahun, luas lahan bawang putih fluktuatif. Pada 2017 hanya sekitar 98 hektare dengan total produksi 683 ton. Pada 2018 meningkat 162 hektare dengan produksi sebanyak 1.501 ton. Dan, 2019 turun lagi hingga 105 hektare jumlah produksi hanya 923 ton. “Data 2020 masih belum saya terima. Akan tetapi kurang lebih sama dengan tahun 2019, karena tidak ada penambahan lahan yang signifikan,” jelasnya.

Berkurangnya lahan tanam bawang putih, tentu kurang sejalan dengan wacana Pemkab Solok yang mengupayakan swasembada bawang putih. Apalagi, beberapa daerah di Kabupaten Solok cocok untuk budidaya bawang putih. Seperti Kecamatan Lembang Jaya, Lembah Gumanti dan Danau Kembar. “Kita membantu bibit dengan varietas Lumbu Hijau dan plastik mus untuk budidaya bawang putih. Dan saat ini prosesnya sedang berjalan,” tambahnya.

Ia juga berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya untuk memberikan bantuan melalui pemerintah nagari. Berupa bibit, mulsa, pupuk, pestisida, rumah pengeringan bawang, dan traktor untuk mengolah lahan, serta peralatan pasca-panen dan pelatihan tentang tata cara pemanfaatan teknologi dalam bertani.

Baca Juga:  Prof. Elfi Sahlan, Mantan Wakil Bupati Solok Meninggal Dunia di SPH

“Untuk itu kita perlu adanya teknologi agar dapat mencapai target. Selama tahun 2018 dan 2019 petani mendapat 40 unit bantuan berupa Alsintan. Tahun lalu, memang bantuan pertanian berkurang, karena Covid-19,” sebutnya.

Salah satu kendala dihadapi, sebut Si Is, kurangnya minat petani dalam menanam bawang putih. Dikarenakan panen bawang putih mencapai empat bulan lebih lama dari bawang merah.

Menyikapi itu, anggota DPRD Kabupaten Solok, Hidayat, meminta Pemkab Solok harus berani memperkenalkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian RI ke masyarakat. Hasil penelitian itu sebenarnya masih belum banyak diketahui masyarakat, terutama benih unggul produk hortikultura lainnya.

Akibatnya masyarakat petani masih banyak yang menggunakan bibit secara serampangan dan tentu saja hasilnya tak maksimal. Sementara bibit unggul hasil penelitian Badan Litbang itu lebih banyak dimanfaatkan pihak pengusaha agribisnis. “Hasil penelitian-penelitian itu jangan hanya mengendap dalam laci peneliti saja, melainkan dapat dimanfaatkan oleh petani kita, dalam hal ini Dinas Pertanian semestinya mengejar bola,” tegasnya. (f)

Previous article29.880 Dosis Tambahan Vaksin Sinovac
Next articleTantangan Berat Generasi Kedua Anak Musisi