Masjid Tuo Kayujao, Berusia Ratusan Tahun, Keunikan tetap Dijaga

31
Masjid Tuo Kayujao, di Jorong Kayujao, Nagari Batangbarus, Kecamatan Gunungtalang, Kabupaten Solok. (IST)

Masih beratap ijuk, berdinding kayu dan arsitektur masjid sarat makna, perpaduan timur tengah masa lampau dengan budaya Minangkabau. Inilah kekhasan masjid tuo satu ini. Seperti apa?

Ya, itulah Masjid Tuo Kayujao, di Jorong Kayujao, Nagari Batangbarus, Kecamatan Gunungtalang. Masjid ini memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama Islam di Sumbar, khususnya kawasan Solok.

Data Dinas Pariwisata Kabupaten Solok mencatat bahwa masjid ini sudah ada sejak tahun 1599. Namun, berdasarkan penjaga dan keturunan pendiri masjid, ternyata masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1419 lampau. Kendati sudah berusia ratusan tahun, namun masjid ini masih terlihat kokoh dan dijalankan sesuai fungsi utamanya.

Masjid ini juga ramai dikunjungi masyarakat baik untuk beribadah, maupun berswafoto dan mempelajari sejarah yang tersimpan di balik cerita masjid ini. ”Masyarakat sini (Jorong Kayujao, red) selalu ramai shalat di sini. Begitu pula, pengunjung secara khusus datang dan berforo seusai shalat atau mengetahui cerita masjid dari masa lampau,” ujar Pengurus Masjid Tuo Kayujao, Agus Awal Rianto, Kamis (22/4) lalu.

Menurut Agus, umumnya pengujung yang datang ke Masjid Tuo Kayujao bertujuan untuk beribadah. Untuk menarik perhatian pengunjung agar makin betah dan nyaman, pengurus masjid berinisiatif membuat taman bermain dan area spot untuk berfoto.

Masjid Tuo Kayujao ini, kata Agus, didirikan Angku Imam bernama Musaur dan Angku Labai sebagai bilal. Dan, menjadi pusat penyebaran dan tempat belajar agama Islam di kawasan Solok di masa lampau.

Terkait arsitektur, diakui Agus, masjid tuo ini perpaduan arsitektur Islam dengan budaya Minangkabau. Terlihat atap gonjong tiga tingkat representasi dari tigo tungku sajarangan di Minangkabau, yakni cadiak pandai, alim ulama, dan penghulu.

Lalu, 13 jendela di masjid ini simbol 13 rukun Islam. ”Masjid ini sudah banyak direnovasi, namun tidak menghilangkan arsitektur aslinya. Renovasi hanya untuk mengganti yang sudah lapuk, karena sebagian besar masjid ini (terbuat) dari kayu,” jelasnya.

Baca Juga:  Tekad jadikan Solok Kabupaten Terbaik, Epyardi Minta ASN Kerja Keras

Renovasi besar terlihat pada bagian tiang tengah saja, mulanya kayu kemudian diganti beton karena sudah sangat lapuk, dan dikhawatirkan bisa berdampak buruk terhadap masjid. Tapi, untuk dinding, plafon, lantai dan seluruh tiang bangunan masjid masih terbuat dari bahan kayu.

Menurutnya, keaslian arsitektur prioritas dalam pelestarian masjid tuo, karena begitu banyak makna tersimpan di dalamnya. Makanya, setiap kali renovasi juga harus memperhatikan hal-hal kecil tersebut.

Kaya akan sejarah, saat ini Masjid Tuo Kayujao juga menjadi salah satu objek wisata religi di Kabupaten Solok. Ratusan orang mengunjungi masjid tersebut tiap pekannya, dan juga masuk sebagai cagar budaya Sumbar. ”Masjid ini juga dipakai masyarakat setempat untul kegiatan belajar agama Islam, makanya pengunjung juga bisa melihat dan ikut belajar juga,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, Nasripul Romika mengatakan, masjid yang sarat sejarah peradaban Islam di Minangkabau ini sudah tentu sangat berpotensi sebagai objek wisata religi. Namun, saat ini masih perlu strategi dalam mewujudkan Masjid Tuo Kayujao sebagai salah satu objek wisata religi. Pihaknya, terus mendorong berbagai komponen untuk menjadikan masjid tersebut sebagai objek wisata.

Dijelaskannya, kunjungan ke Masjid Tuo Kayujao dalam rangka pariwisata edukasi tahun 2019 mencapai 3.832 pengunjung. Tapi, angka tersebut cenderung turun di tahun 2020 karena ada pembatasan sosial akibat Covid-19. Dikatakan Nasripul, saat ini selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat.

Masjid ini juga sudah beberapa kali mengalami pemugaran, seperti pemugaran salah satu tiang dan penggantian atap ijuk yang lama dengan yang baru karena telah lapuk. ”Meskipun sudah beberapa kali dipugar, keaslian masjid ini masih tetap dipertahankan. Pada pemugaran terakhir, warna cat masjid ini sebelumnya putih, diganti cokelat kehitaman,” jelasnya. (f)

Previous articleAntisipasi Kecurangan, Peserta UTBK Harus lewati Metal Detector
Next articleBIN Sebut KKB Separatis-Teroris