Dukung KSPD Masjid Tuo Kayu Jao, Unand Berdayakan Masyarakat

Objek wisata religi Masjid Tuo Kayu Jao, di Jorong Kayujao, Nagari Batangbarus, Kecamatan Gunungtalang, Kabupaten Solok, jelas tak asing bagi sebagian orang. Masjid tertua kedua di Indonesia yang masih berdiri megah ini, menjadi salah satu objek wisata ikonik yang ramai dikunjungi wisatawan.

Cuma saja, keberadaan objek wisata religi dan budaya ini belum sepenuhnya mampu mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Padahal berdasarkan pengembangan potensi wisata, paling kurang terdapat tiga prinsip utama yang harus diperhatikan para pelaku usaha maupun pengambil kebijakan untuk memenuhi kriteria sustainability development (McIntyre, 1993):

Pertama, ecological sustainability, yakni memastikan pengembangan yang dilakukan sesuai proses ekologi, biologi, dan keragaman sumber daya ekologi yang ada agar tetap terjaga kelestariannya.

Kedua, social and cultural sustainability, yaitu memastikan pengembangan yang dilakukan memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat sekitar dan sesuai kebudayaan serta nilai-nilai sosial budaya yang berlaku pada masyarakat tersebut.

Serta ketiga, economic sustainability, memastikan pengembangan yang dilakukan efisien secara ekonomi dan sumber daya yang digunakan dapat dijaga keberadaannya bagi kebutuhan di masa mendatang.

Pemkab Solok sudah memfokuskan pengembangan pariwisata pada tiga kawasan prioritas, yaitu kawasan Danau Singkarak dan sekitarnya, Kawasan Taman Hutan Kota Terpadu dan sekitarnya, dan kawasan Danau Kembar dan sekitarnya.

Hal ini diperkuat oleh Perda Nomor 4 Tahun 2013 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Ripparda) Kabupaten Solok Tahun 2013-2025 yang menetapkan beberapa Kawasan Strategis Pariwisata Daerah (KSPD), meliputi enam wilayah dan salah satunya KSPD Masjid Tuo Kayu Jao dan sekitarnya.

Berjarak lebih kurang 6 km dari pusat Kota Kabupaten Solok Arosuka, masjid Tuo Kayu Jao berukuran 10 meter x 12 meter ini didirikan secara gotong-royong oleh warga dari tiga anak nagari di Kecamatan Gunung Talang yaitu, Kayuaro, Lubukselasih, dan Kayujao.

Dengan arsitektur khas bercorak Minangkabau, setiap detail bangunan masjid ini mengandung arti tersendiri, seperti lima anak tangga menggambarkan Rukun Islam, jendela 13 buah menggambarkan rukun shalat, tiangnya 27 buah melambangkan enam suku yang masing-masing terdiri dari ampek jinih sehingga jumlahnya 24 bagian.

Baca Juga:  Dukung Paslon, Panwascam Dipecat

Ditambah tiga unsur dari agama yaitu khatib, imam dan bilal, sehingga jumlahnya menjadi 27. Di depan masjid terdapat sebuah tabuh (bedug) yang diyakini seumur dengan masjid tersebut. Masjid ini salah satu cagar budaya di Sumbar yang diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dengan pemandangan dan lingkungan yang masih asri.

Tim Pengabdian Masyarakat Unand beranggotakan Dr Dodi Devianto SSi MSc, Dr Sri Maryati SE MSi dan Hafiz Rahman SE MSBS PhD mendukung upaya untuk mengembangkan KSPD Masjid Tuo Kayu Jao dan sekitarnya menjadi kawasan wisata dengan mengembangkan potensi budaya lokal sebagai daya tarik wisata. Sekaligus, pengembangan ekonomi kreatif yang ditujukan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dari potensi sumberdaya lokal yang dimiliki masyarakat di kawasan ini.

Dukungan pengembangan wisata religi ini, menurut Dr Dodi yang juga ketua tim pengabdian, selain mendapatkan dukungan dari Pemda Solok melalui Disparbud, juga menjadi program unggulan dari Kenagarian Batangbarus yang didukung oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar.

Aktivitas untuk membumikan budaya lokal melalui wisata nagari ini, tahap awal dimulai dengan penguatan kuliner berbahan sayuran yang bersumber dari produksi lokal. Tim pengabdi membina rintisan usaha pembuatan nugget sayur higienis dan sehat tanpa pengawet. Nugget sayur khas Kayujao ini dipadukan dengan saos modifikasi berasal dari samba lado masiak khas Kenagarian Batangbarus.

“Selain ekonomi kreatif yang dikembangkan dalam kuliner, maka pengembangan suvenir bermotif Masjid Tuo Kayu Jao dan variasinya akan menjadi seni budaya lokal yang bernilai ekonomis sebagai pendukung wisata nagari melalui penguatan ekonomi kerakyatan yang dikembangkan melalui Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Batangbarus,” kata Dodi.

Lewat kerja sama dan dukungan semua pihak, Dodi mengharapkan pengembangan Nagari Batangbarus sebagai nagari wisata budaya dengan ikon Masjid Tuo Kayu Jao dapat diwujudkan melalui program kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat Unand yang didukung oleh dana dari Dikti Kemendikbud, pembinaan dan pendampingan pada masyarakat dan pelaku usaha akan dilakukan dalam tiga tahun ke depan melalui PPDM (Program Pengembangan Desa Mitra). (rdo)