Satu Ekor Lagi masih Berkeliaran, ”Putra Singgulung” Dievakuasi

142
Petugas BKSDA Sumbar dan PR-HSD saat mengevakuasi harimau di Nagari Gantuangciri, Kecamatan Kubung, Senin (29/6). (IST)

Satu ekor Harimau Sumatera yang terperangkap, Minggu (28/6), akhirnya dievakuasi dan dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD) di Kabupaten Dharmasraya, Senin (29/6). Kondisi harimau yang baru saja dievakuasi itu masih terlihat bugar dan tidak ada luka sedikit pun di badannya.

“Kami terpaksa melakukan bius terhadap harimau itu untuk memudahkan proses evakuasi karena harimau terlihat emosi dan berbahaya jika langsung didekati petugas,” kata Manajer Operasional PR-HSD Sauredi Simamora, di Gantuangciri, kemarin.

Ia memaparkan pengaruh bius tersebut maka harus dibawa dulu ke PR-HSD di Dharmasraya, kemudian segera dilepasliarkan lagi ke habitatnya. “Yang jelas keduanya, tidak memerlukan perawatan medis bersifat darurat. Hanya perlu istirahat untuk menghilangkan stress. Saat ini Putri Singgulung (nama harimau yang tertangkap sebelumnya, red) juga sudah dalam keadaan baik dan bugar,” pungkasnya.

Ditambahkan Kepala Resort Solok BKSDA Sumbar, Afrilius, usia induk harimau itu sekitar 2 tahun. Ukurannya cukup mirip dengan harimau yang ditangkap dua minggu lalu. Jadi perkiraan sementara yang tertangkap tersebut, merupakan kakak harimau betina, bukan induknya. Dan kemungkinan satu ekor masih berkeliaran merupakan induk dari kedua harimau yang tertangkap itu.

“Yang tertangkap minggu lalu diberi nama Putri Singgulung dan tertangkap sekarang Putra Singgulung. Kemungkinan mereka adik-kakak, karena ukuran yang hampir sama. Dan perkiraan usia juga hampir sama,” jelasnya.

Dijelaskannya, penangkapan harimau yang terpaksa dilakukan merupakan solusi terakhir dari pihak terkait agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.  Sebab, upaya menghalau harimau sudah berkali-kali dilakukan dan juga berkali-kali pula terjadi konflik dengan manusia.

“Apalagi harimau itu sudah mendekati permukiman warga setempat. Maka tidak ada cara lain, dan nantinya akan kembali dilepasliarkan lagi setelah kondisi fisik harimau memungkinkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan BKSDA Sumbar sendiri akan terus memperbaiki penanganan konflik dan melakukan pemantauan terhadap potensi konflik antara harimau dan manusia. Salah satu faktor utama yang membuat harimau sampai ke area ladang warga adalah habitatnya yang semakin sempit dan terdesak laju pembukaan lahan. Hewan tersebut akan mencari alternatif lokasi bila mangsanya semakin sedikit di dalam hutan.

Terutama di empat nagari yakni Nagari Gantungciri, Nagari Kotohilalang, Kecamatan Kubung, Nagari Jawi-jawi Guguak dan Nagari Kotogaek Guguak Kecamatan Gunung Talang. Di sana ada Hutan Lindung (HL), areal penggunaan lain (APL), dan suaka margasatwa (SM) Bukit Barisan.

Menurutnya, antara APL dengan HL berdekatan, beberapa lahan yang masuk Hutan Lindung malah ada yang terpakai juga oleh masyarakat setempat untuk ladang.
“Bahkan, satu di antara tiga ekor harimau yang sering terlihat tersebut mengalami luka di bagian kaki. Diperkirakan terkena ranjau di sekitar hutan lindung tersebut,” tuturnya.
Sudah Lama Berladang

Terpisah, warga setempat, Faizal, 40, mengatakan kawasan Bukit Singgulung itu sudah menjadi areal pertanian warga sejak dulu. Akan tetapi tidak sampai juga ke kawasan hutan. Hanya di pinggir hutan yang masih bisa diolah dengan mudah saja.
“Saya rasa sudah dari dulu. Sebelumnya juga tidak ada gangguan serupa dari harimau. Baru kali ini saja ada warga yang melihat harimau, setau saja sebelumnya tidak pernah,” ujarnya.

Warga lainnya, Firman, 38 mengaku juga memiliki ladang di kawasan tersebut. Tanah yang ia gunakan itu merupakan tanah turun temurun sejak dulunya. Ladang yang ia garap sekarang pun juga bukan hasil pembukaan lahan baru. Artinya lahan tersebut juga sudah digunakan oleh orang tuanya sejak dulu.

Ia menambahkan aktivitas saat berladang juga hanya di sekitar ladang saja. Tidak pernah sekalipun masuk ke hutan yang masih lebat yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan lagi dari ladangnya. “Kata pak wali nagari batas hutan lindung sekitar 1 kilometer lagi dari area ladang. Lagipula kami juga tidak pernah ke sana,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Nagari Gantuangciri, Hendri Yuda memastikan area ladang tempat penangkapan dua ekor harimau itu merupakan areal penggunaan lainnya (APL) yang sudah digunakan warga setempat. Lagipula saat pemasangan perangkap, itu tidak bisa dilakukan sembarangan.

Menurutnya, perangkap tersebut dipasang sesuai arahan BKSDA. Sebab perangkap tidak boleh dipasang di hutan lindung yang merupakan habitat asli harimau tersebut. Maka itu, tempat pemasangan perangkap tersebut berada di ladang warga yang juga menjadi tempat harimau itu sering terlihat.

“Jarak lokasi sekitar 2 kilometer dari permukiman warga. Berdasar data kami, hutan lindung berjarak sekitar 1 kilometer lagi dari kawasan ladang warga, jadi sekali lagi itu APL,” ujarnya.

Menurutnya, warga Gantuangciri sudah lama melakukan aktivitas pertanian di kawasan tersebut. Kejadian penampakan harimau itu adalah yang pertama kali. Untuk itu, masyarakat setempat merasa khawatir dan takut.

“Kejadian itu tidak ternah terjadi sebelumnya. Masyarakat juga tidak tahu kenapa harimau muncul di kawasan perladangan itu. Untuk saat ini, kami mengimbau warga setempat untuk menghentikan aktivitas di ladang untuk sementara waktu sampai kondisi benar-benar kondusif,” imbaunya.

Pihaknya juga akan terus berkoordinasi dengan BKSDA Sumbar terkait penanganan konflik harimau dengan manusia. “Saya harap masyarakat waspada dan kalau bisa hentikan dulu untuk beraktivitas di kawasan itu. Kalau pun terdesak, setidaknya harus berkelompok pergi ke sana,” pungkasnya. (f)