Harga Sembako Merangkak Naik

Dampak mewabahnya virus korona (Covid-19) di daerah Solok Selatan (Solsel) mulai memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Kondisi ini menyebabkan roda ekonomi terganggu sehingga membebani bahkan menurunkan daya beli masyarakat setempat.

Sejumlah bahan pokok yang terpantau mengalami lonjakan harga tersebut seperti bawang merah, cabai dan gula pasir. Karena dipengaruhi kurangnya suplai dan pedagang luar daerah tidak masuk berjualan ke daerah tersebut.

Masalah baru akibat pandemi yang belum jelas kapan berakhir ini mulai dianggap menyengsarakan warga. Terlebih satu bulan lagi sudah Ramadan. “Dari minggu ke minggu saya belanja ke pasar, bahan kebutuhan dapur cenderung naik. Belum tau minggu depan akan naik lagi,” kata Dian, 25, sehabis belanja kebutuhan dapurnya di Padangaro, Jumat (3/4).

Saat ini, lanjutnya, bawang merah berada di kisaran harga Rp 35-40 ribu per kilogram. Naik tajam dari minggu lalu yang hanya Rp 22 ribu sekilo. Bahkan, dua hari kemarin di Pasar Padangaro, masih Rp 30 ribu per kilogram.

Selain itu, harga bawang putih juga naik sebesar Rp 4 ribu menjadi Rp 42 ribu per kilogram dari minggu lalu. Kemudian cabai merah saat ini Rp 24 ribu per kilogram. Minggu lalu harganya masih Rp 22 ribu sekilo. “Walaupun harganya mahal tetap dibeli karena kebutuhan pokok. Apalagi sekarang kami disarankan lebih banyak di rumah,” ujarnya.

Keterpaksaan membeli kebutuhan pokok dengan harga yang tinggi itu juga diakui seorang ibu rumah tangga lainnya, Weni, 31, warga Lubukgadang. Selain cabai dan bawang, katanya, gula pasir juga terpaksa dibeli walau dengan harga tidak normal.

“Gula pasir selang dua minggu belakangan sampai sekarang bertahan di harga Rp 20 per kilogram. Kalau harga biasa hanya Rp 10-12 ribu. Meski kini semua serba mahal, yang namanya kebutuhan dasar rumah tangga, ya tetap dibeli,” tukasnya.

Dirinya berharap, wabah korona ini cepat mereda. Sehingga semua aktivitas kembali normal dan perekonomian juga semakin membaik. Selain itu katanya, dalam kondisi seperti ini seyogyanya pemerintah lebih peduli secara seksama kepada kesulitan rakyat kecil.

“Pemerintah tidaklah cukup hanya sampaikan ketersediaan kebutuhan pokok untuk rakyat. Tanpa kemampuan daya beli, hal tersebut juga percuma. Kalau ada bantuan cepat salurkan. Kalau ada subsidi harga, pantau hingga ke bawah sampai pelosok agar merata dirasakan,” harapnya.

Terpisah, Kepala Seksi Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Solsel, May Rizki menyebut, kekurangan stok membuat harga sejumlah kebutuhan pokok di Solsel mengalami kenaikan. Salah satunya, dipengaruhi banyaknya pedagang dari luar daerah tidak masuk ke daerah itu.

Semua dampak dari mewabahnya Covid-19. Pergerakan masyarakat kini dibatasi. Jadinya, banyak pedagang luar daerah yang biasanya berjualan di pasar-pasar di Solsel tidak masuk. Seperti dari Alahanpanjang dan Surian, Kabupaten Solok,” ujarnya.

Otomatis lanjutnya, persediaan kebutuhan yang dibeli masyarakat di pasaran berkurang. Sebab hanya diisi oleh pedagang lokal. Sejauh ini sebutnya, aktivitas di pasar masih diperbolehkan di daerah itu.

Untuk mencegah penularan virus korona di keramaian pasar, pihaknya mengimbau pengunjung, pedagang maupun pengelola pasar untuk menjaga kebersihan pasar. Serta menggunakan alat perlindungan diri saat berdagang seperti masker.

“Gejolak harga kebutuhan pokok saat ini masih terus dipantau. Andai terus naik, kami segera dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Provinsi untuk kebijakan menggelar operasi pasar,” paparnya. (*)