Terobosan Saat Pendemi, Bustanul Olah Sampah Rumah Tangga jadi Pupuk

79
KREATIF: Bustanul memperlihatkan produk Bioenzym Karya Baru hasil fragmentasinya untuk pupuk dan pengobatan detok. (IST)

Kesulitan ekonomi karena dilanda pandemi Covid-19 membuat Bustanul, 54, memutar otak. Ia menyulap limbah rumah tangga menjadi pupuk dan bahan detox sehingga bernilai ekonomi.

Sudah setahun lamanya, Bustanul melakukan pekerjaan baru di rumahnya di KM 44 Pakan Sari, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan. Limbah rumah tangga disulap menjadi Bioenszym. Seperti beragam jenis kulit buah-buahan dan rempah-rempah lainnya dimanfaatkannya untuk menghasilkan rupiah untuk kebutuhan keluarganya.

Bagi Bustanul, dimana ada kemauan pasti ada jalan. Yang jelas ia berusaha ketika perekonomian keluarga sedang jatuh karena pandemi. Idenya muncul ketika wabah pandemi Covid-19 melanda di awal tahun 2020, disanalah muncul niat Bustanul ingin bangkit.

Bahkan dia mendapatkan peluang mengikuti pelatihan Pengolahan Sampah Masyarakat dan Sekolah yang diadakan Dinas Lingkungan Hidup di Axana Hotel Kota Padang 26 Agustus 2020 lalu.

Ilmu pengolahan sampah itu, tidak sekadar dicatat di buku hariannya. Akan tetapi langsung dipraktikkan dengan niat hati Bustanul, mudahan saja mengubah pola ekonomi keluarganya ke arah yang lebih baik. Akhirnya, seminggu kemudian ilmu pengolahan sampah jadi Bioenzym dipraktikkan di rumahnya. Mengatasi sampah dan membuat Bioenzym dari limbah dapur.

Sekarang rencana Bustanul akan mempatenkan produksi sampah rumah tangga hasil fragmentasinya diberi nama “Bioenzym Karya Baru”. Bustanul pun telah menerima sertifikat atau perizinan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dari dinas terkait, dalam mendukung usaha rumah tangga yang ia tekuni selama wabah pandemi. Bioenzym yang dihasilkan Bustanul dapat mengurangi beban pemerintah dalam mengurangi jumlah sampah rumah tangga.

“Selain menghasilkan pupuk, Bioenzym yang saya hasilkan ini juga dimanfaatkan untuk pengobatan detok, menetralisir udara, menghilangkan bau dan kuman,” kata Bustanul saat ia menceritakan proses pembuatan Bioenzym tersebut.

Dia menyebutkan, proses pengolahannya membutuhkan waktu selama tiga bulan, awalnya ia menyulap seluruh jenis kulit buah-buahan dan sayur-sayuran. Mencuci lantai WC dan kamar mandi. Ilmu itu dia dapatkan dari penemu Equenzym yang merupakan warga Negara Thailand, sebagai cara mengurangi panas global di Negara Gajah Putih itu.

Dia ditempa ilmu mengolah sampah rumah tangga bersama 60 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, namun peserta lainnya menurut keterangan Bustanul belum ada yang melakukan uji coba pengembangkan Bioenzym itu.

“Sekarang saya sudah dapat membantu petani dalam mengatasi kelangkaan pupuk, tersedia Bioenzym Karya Baru dapat membantu penghematan biaya petani,” ujar pria yang akrab disapa Pak Deno itu.

Baca Juga:  15 Titik Blank Spot Segera Diatasi, Jadi Skala Prioritas

Olahan Bioenzym tersebut perdana ia produksi di akhir November tahun 2020. Semula dilakukan uji coba ke tanaman cabai, dan padi miliknya. Termasuk mengatasi hama tanaman seperti ulat, uji coba itu berhasil.

Produk Bioenzym akhirnya diuji coba melibatkan banyak petani. Setelah uni coba, mereka akhirnya tertarik dengan Bioenzym hasil produksi Bustanul. “Pada Desember 2020, sudah ada permintaan dari para petani. Tapi dalam jumlah sedikit, disitu saya bersemangat untuk peningkatan produksi,” jelasnya.

Setelah ada permintaan dari petani, Bustanul melakukan peningkatan fragmentasi molase, dan tetes tebu. Kulit-kulit sayur, buah-buahan dan serai harum.
Hasil fragmentasi selama 3 bulan, digunakannya untuk cuci piring, mencuci sayur, jadi pupuk dan lainnya.

Termasuk pengobatan detok, atau terapi dengan direndam dalam air untuk pngobatan penyakit seperti jenis penyakit asam urat, rematik dan lainnya. “Bioenzym ini multi fungsi, isi botol 250 ml laku di pasaran Rp 20 ribu,” paparnya.

Pemasaran baru setahun dilakukannya, dari rumah ke rumah dan mengantarkan permintaan para petani. Sekarang telah memiliki sertifikat atau rekomendasi kesehatan keluarga. Awalnya rata-rata penjualan 15-20 liter perbulan isi 250 ml.

Namun di tahun 2021 sudah mencapai 100 liter perbulan dan harga satu botol berisi 250 ml Rp20 ribu. Untuk penggunaan pupuk semprot dalam satu liter air butuh 3 ml Bioenzym, sedangkan pengobatan detox atau merendam kaki kesemutan, asam urat dan lainnya buruh 5 ml Bioenzym perliter air.

Untuk tanaman pertanian dibutuhkan 10 ml Bioenzym perliter air dan disirami kr sekeliling batang tanaman sayuran seperti cabai, bawang. “Bioenzym ini tidak ada kedaluwarsanya. Artinya, pelaku usaha bisa mengrangi dampak lingkungan hidup. Sampah sayur dan kulit buah-buahan ini dipesannya di setiap rumah tangga,” ulasnya.

Elismanhia, salah seorang petani pengembang Porang di Kabupaten Solok Selatan mengatakan, menggunakan produk Bioenzym Karya Baru hasil fragmentasi Bustanul.
Pria yang berdomisili di Liki, Kecamatan Sangir ini awalnya tidak percaya. Bahkan mencemoohkan produk Bustanul. Namun Bustanul tidak patah arah, dia terus memaksakan agar Elismanhia mencobanya dulu.

Kalau tidak berhasil biarkan saja dan kalau ada manfaat bagi tanaman. Silahkan di pesan.
“Kita melakukan uji coba untuk tanaman Porang, hasilnya daunnya hijau dan bebas dari serangan hama ketika disemprotkan. Awalnya dikasih secara uji coba, sekarang dapatkan Bioenzym harus dibeli,” pungkasnya. (***)