Jalan dari Alahan Panjang ke Surian Jelek, Solok Selatan Butuh Alternatif

922
Sekretaris Kabupat Solok Selatan Syamsurizaldi serahkan plakat kepada ketua rombongan wartawan, Indra Sakti Nauli.

Banyak yang bilang kalau ke Solok Selatan itu susah karena kondisi jalannya buruk. Padahal sarana jalan yang ada di dalam wilayah kabupaten berjuluk Sarantau Sasurambi itu kondisinya baik-baik saja.

“Sarana jalan di Kabupaten Solok Selatan kondisinya bagus. Orang mengatakan ke Padang Aro Solok Selatan itu susah karena jalannya buruk. Itu tidak benar. Sebab jalan yang buruk itu hanya terdapat di Alahan Panjang ke Surian (masuk wilayah Kabupaten Solok), setelah itu kondisi aspal jalan kami baik,” ujar Sekkab Solsel Syamsurizaldi, saat menerima kedatangan peserta Bimtek Politik Anggaran yang digelar Dinas Kominfotik Sumbar, Senin sore (6/12).

Nah, karena itulah, lanjut Sekkab, Pemkab Solsel sedang berupaya untuk membuka akses jalan lainnya ke ibukota kabupaten mereka. Terbuka peluang membuka akses dari Padang Aro menuju Kabupaten Dharmasraya.

“Pemkab Solok Selatan bergerak cepat untuk mencari akses jalan lainnya. Akhirnya menemukan satu akses jalan yakni melalui Sungai Kunyit yang tembus langsung ke Sungai Rumbai. Diperkirakan akses itu sepanjang 50 km dan melalui perkebunan sawit,” ujar Syamsurizaldi sembari menyatakan bahwa prinsipnya telah mendapat izin dari pemilik perkebunan kelapa sawit untuk pembukaan jalan itu nantinya.

Baca Juga:  15 Titik Blank Spot Segera Diatasi, Jadi Skala Prioritas

“Amdal juga sudah kita siapkan dan sudah diusulkan ke Pemprov Sumbar dan Kementerian terkait. Mudah-mudahan 2022 bisa kita mulai,” lanjutnya.

Dikatakannya pembukaan ruas jalan Solok Selatan-Dharmasraya sangat dibutuhkan, karena membuka akses perekonomian dari arah timur Sumbar seperti ke Dharmasraya, Jambi, dan sebagian Riau. Pemkab Dharmasraya pun diketahui saat ini tengah mengupayakan membuka akses pintu tol menuju Riau.

“Di Solok Selatan tidak punya jalan utama lintas Sumatera. Padahal banyak potensi ekonomi yang harus dibawa keluar daerah. Tapi harus melewati jalan yang tidak lebar, jalannya melingkar dan rutenya berkelok-kelok,” sebutnya.

Terkait anggaran, Syamsurizaldi, mengakui belum bisa dihitung hingga saat ini, karena yang punya wewenang berada di Pemprov Sumbar, karena jalan tersebut jalan penghubung antar kabupaten.

“Saya berharap tahun 2022 pengerjaan pembukaan sudah bisa dimulai. Karena izin sudah ada, dan Amdal juga sudah dipersiapkan,” tegas Syamsurizaldi.

Dia menjelaskan kontribusi ekonomi terbesar berasal dari Pertanian yakni sekitar 48 persen seperti beras, ayam, dan sapi. Disusul hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. (hsn)