Evaluasi Ayam Broiler Nagari Tageh, Libatkan Unand dan Pemkab Solsel

32
BAHAS EKONOMI: Pemkab-Unand melaksanakan rapat evaluasi Nagari Tageh Ekonomi di Solsel.

Program Nagari Tageh awalnya merupakan salah satu upaya bidang kesehatan dalam pengendalian wabah pandemi Covid-19 di Kabupaten Solok Selatan.

Kemudian berkembang menjadi solusi strategis meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, sosial budaya, pangan dan juga pendidikan.

“Kegiatannya melibatkan perguruan tinggi sebagai konseptor, sekaligus pendampingan di lapangan,” kata Kepala Dinas Pertanian Solok Selatan, Nurhayati, Kamis (10/3) di Aula Tangsi Ampek.

Dia menjelaskan, setelah berjalannya program Nagari Tageh di Solok Selatan diperlukan evaluasi terhadap nagari tageh ekonomi. Seperti pada sub unit kegiatan peternakan ayam nagari dan lainnya.

Apakah program tersebut berjalan sesuai petunjuk pendampingan atau jalan di tempat. Justru itu tim terkait membahas dan mengevaluasi program Nagari Tageh Ekomomi tersebut.

“Sebab itu tim Universitas Andalas (Unand) Padang turun ke Solsel membahas dengan pemkab melibatkan camat dan wali nagari. Termasuk pengurus Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) se-Solsel,” terangnya.

Wakil Bupati Solok Selatan, Yulian Efi mengapresiasi Nagari Tageh yang telah dibina oleh Unand Padang. Perjuangan tim sangat luar biasa dalam mendampingi ke lapangan sebagai upaya meningkatkan ekonomi kerakyatan, melalui peternakan ayam.

Wabup menekankan untuk meningkatkan motivasi dalam mengembangkan Nagari Tageh dengan unit usaha ayam broiler ini. “Segala kelemahan dalam pengelolaannya hendaknya dievaluasi. Kita mengharapkan untuk senantiasa mendampingi pengelolaan Nagari Tageh ini berkelanjutan,” pintanya.

Baca Juga:  Door To Door Dapatkan Data Keluarga Valid

Sementara, Pusat Study Komunitas Unand, Andani Eka Putra mengatakan, dalam pengelolaan peternakan ini, secara konsep tidak boleh gagal. Hari ini merupakan evaluasi dari pelaksanaan peternakan dari data di lapangan sekitar 60 – 70 persen berhasil.

“Hanya saja dua nagari yakni Abai dan Kapau Alam Pauh Duo yang terkendala dalam pengelolaan dan pengembangan ayam broiler tersebut,” ungkapanya.

Kendala di lapangan dihadapkan dengan mahalnya pakan ternak, Andani mengusulkan untuk membentuk konsorsium BUMNag untuk mengatasi persoalan itu.

Di mana masing-masing BUMNag juga berinvestasi dalam konsorsium ini. Usaha konsorsium tersebut adalah toko penjualan pakan ternak yang tentunya juga akan dilakukan pendampingan oleh tim Unand.

“Bagaimana peternak mendapatkan harga yang wajar dan tidak mahal yang bisa memicu pengembangan ayam broiler,” tuturnya.

Dengan dukungan pemerintah daerah, segala rencana ini akan cepat di realisasikan. Sehingga dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, disamping memotivasi masyarakat untuk pengembangan ayam broiler itu.

Selain itu, juga merencanakan akan membentuk rumah potong ayam. Salah satu manfaatnya, lebih membantu dalam memasarkan ayam.

“Tujuannya ketika harga ayam murah, maka dagingnya dapat disimpan melalui kemasan frozen food,”” beber staf ahli Kemenkes itu. (tno)