Cabai Merah Rp 18 Ribu Sekilo

Dalam sepekan terakhir, stok cabai merah di Kabupaten Solok Selatan (Solsel) melimpah. Kondisi ini membuat harga komoditi tersebut jatuh di pasaran. Terpantau saat ini, cabai merah anjlok di harga Rp 18 ribu per kilogram.

”Seminggu ini, sejumlah kebutuhan dapur mulai mengalami penurunan harga. Untuk cabai merah turun sebesar Rp 6 ribu per kilogram. Minggu lalu saya beli masih Rp 24 ribu per kilogram sekarang jadi Rp 18 ribu,” kata Mira, 25, ibu rumah tangga di Padangaro, Jumat (10/4).

Ia menduga, cabai sedang panen sehingga pasokannya mulai banyak sehingga harganya mulai turun. Selain cabai katanya, bawang putih juga mulai menunjukkan tren penurunan harga.

”Iya, bawang putih harganya mulai turun juga. Pekan lalu masih Rp 42 ribu per kilogram. Kemarin saya beli seharga Rp 40 ribu per kilogram turun Rp 2 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Solsel, May Rizki menyebut, turunnya harga cabai disinyalir memang persediaan banyak.

”Kondisi saat ini yang tengah pandemi korona, pasokan cabai hanya bersumber dari petani di sekitar Solsel saja. Diperkirakan minggu lalu mereka sudah banyak yang panen,” ujarnya.

Faktor lain, sambungnya, jatuhnya harga cabai tersebut dikarenakan pasar-pasar tradisional kian lengang. Masyarakat sekarang lebih banyak berdiam diri di rumah mengikuti kebijakan social distance dalam upaya pencegahan wabah.

Sepinya pasar otomatis membuat permintaan jadi menurun. Penurunan harga cabai dan bawang putih justru berbanding terbalik dengan bawang merah yang mengalami lonjakan. Saat ini harganya mencapai Rp 35 ribu per kilogram. Naik dari minggu lalu yang hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Rizki menilai, kenaikan harga bawang merah itu dipengaruhi hasil panen dari Alahanpanjang atau Kerinci. Semenjak pembatasan arus masuk orang ke Solsel diberlakukan sebutnya, pedagang bawang merah dari kabupaten tetangga ini tak lagi masuk ke daerah tersebut. ”Mereka takut, sampai di pos pemeriksaan disuruh balik lagi,” akunya.

Selain tiga kebutuhan dapur tersebut, bahan pokok yang lain masih stabil saat ini. Cabai rawit misalnya, masih bertahan di harga Rp 12 ribu, tomat Rp 6 ribu dan kentang Rp 12 ribu sekilo. Termasuk gula pasir yang belum turun semenjak naik awal Maret lalu dan saat ini masih bertahan di harga Rp 20 ribu per kilogram.

Harga Sayuran Stabil

Sementara itu, harga kebutuhan harian selain minyak goreng dan gula masih stabil dan tidak mengalami kenaikan.
”Untuk dagangan sayuran kebutuhan harian selama wabah korona tidak terjadi kenaikan dan penurunan harga. Pembeli saja yang sepi,” ujar Enti, pedagang sayuran.

Di jelaskannya, pengunjung tetap masih ada. Tapi sangat jauh berkurang dari hari pasar sebelumnya. Pedagang memang khawatiran terkait penyebaran virus pandemi tersebut, namun kalau tidak berdagang dengan apa menghidupi keluarga.

Di pasar pun, yang berbelanja yang sering datang ke pasar. Namun kalau ada keluarganya yang pulang dari rantau, tentu saja digali informasi demi kesehatan dan jauh dari korona. Di pasar katanya, jumlah pedagang tidak sebanyak hari-hari sebelumnya. Sekitar 35 persen pedagang yang biasa berjualan sudah tidak kelihatan lagi sejak wabah korona, terutama pedagang dari Kabupaten Kerinci, Jambi dan dari Kabupaten Solok.

Desma, pedagang lainnya menyebutkan, jual beli kisaran 20 kg per hari, jauh menyusut ketimbang hari sebelumnya. Sebelum wabah Covid-19 merajalela, daya beli rata-rata 75-80 persen. Nah, sekarang hanya kisaran 20-30 persen. Jadi, saat akan berdagang sayuran jumlah pasokan di kurangi.

Pedagang sembako, Idil Fitri mengatakan, barang kebutuhan harian yang mengalami kenaikan adalah gula pasir, minyak goreng curah. Selebihnya masih stabil. ”Biasanya harga gula pasir Rp18 ribu sekilo, sekarang sudah Rp 20 ribu. Begitu pun minyak goreng curang sudah Rp14 ribu sekilo, biasanya Rp 12 ribu,” paparnya. (*)