2 Penambang Tewas, 2 Masih Tertimbun

ilustrasi penambang. (net)

Kasus kecelakaan tambang emas ilegal (illegal mining) kembali berulang. Kali ini terjadi di Kimbahan, Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Solok Selatan (Solsel), Senin (11/1) sekitar pukul 20.30. Dua orang penambang asal Pati, Jawa Tengah, ditemukan tewas. Sedangkan dua orang lainnya masih dalam pencarian, serta dua orang lainnya berhasil lolos dari maut.

”Dua orang penambang emas yang meninggal ditemukan, dan jenazahnya sudah diberangkatkan ke Pati, Jawa Tengah, Selasa (12/1) sore. Keduanya, masing-masing Sugito, 32, dan Yudi Purnano, 32,” kata Kepala BPBD Solsel, Richi Amran didampingi Kasi Kedaruratan, Romi Aprizal kepada Padang Ekspres di Solsel, kemarin (13/1).

Dua korban lainnya yang masih tertimbun longsor galian tambang, menurut dia, Miyanto, 51, dan Sulistiyono, 41. Hingga kini masih dalam pencarian di lubang tambang emas yang longsor tersebut.

Pencarian keduanya terkendala akibat curah hujan masih tinggi, sehingga air menutupi lubang. Hal ini menghambat tim BPBD, TNI, Polri, termasuk masyarakat setempat. Hingga kemarin sore, hujan tidak kunjung berhenti di Solsel.

”Tim pencarian korban masih di lokasi, namun belum bisa melakukan pencarian korban yang masih tertimbun. Diperkirakan mencapai 15 meter tertutup material tanah dan batu,” ungkapnya.

Sedangkan dua penambang yang selamat dari maut, Rifan Saifudin, 28, dan Aji, 30. Mereka hanya mengalami luka-luka gores di bagian wajah, tangan dan kaki. Penyebabnya tertimpa tanah dan batu kecil-kecil ketika hendak menyelamatkan diri di saat detik-detik lubang tambang longsor. ”Yang selamat sudah mendapatkan pelayanan kesehatan, mereka hanya luka ringan dan sedang,” ungkapnya.

Sementara Camat Sangir Batanghari, Gurhanadi menjelaskan, butuh waktu enam jam berjalan kaki dari jalan utama Abai ke lokasi. Bahkan, tim pencari harus menyeberangi Batang Sangir. Dari Batang Sangir ini, setidaknya butuh waktu berjalan kaki sekitar 4 jam lagi sebelum tiba di lokasi penambang. Di sana tidak ada sinyal seluler, sehingga informasi terlambat didapatkan masyarakat.

Kejadian baru diketahui, tambah dia, setelah dua korban selamat meminta bantuan ke warga. Warga sendiri baru sampai ke lokasi keesokan harinya. ”Diduga akibat mereka terlalu dalam menggali lubang dan cuaca dihadapkan musim penghujan. Sehingga, tambang itu longsor,” paparnya.

Di lokasi tembang yang menelan korban tersebut, menurut Gurhanadi, sebetulnya sudah tidak ada lagi alat berat seperti ekskavator. Pasalnya, sudah dilakukan penghijauan melalui penanaman pohon bersama TNI-Polri dan Pemkab Solsel tahun 2019 lalu. Makanya, pihaknya terkejut mengetahui ada penambang tertimbun galian tambang.

Dia menduga, pelaku secara diam-diam melakukan penambangan. ”Setelah ditanya, mereka masuk lewat Dharmasraya via Talantam, Nagari Lubuk Ulang Aling, Kecamatan Sangir Batang Hari,” jelasnya.

Pihaknya belum bisa menghubungi Kapolsek Sangir Batang Hari yang masih di lokasi. ”Saya baru pulang dari lokasi, sedangkan Kapolsek Sangir Batang Hari masih di sana,” paparnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto menyebut, penambang melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) alias ilegal. Mereka menambang menggunakan mesin dompeng.

Diketahui saat kejadian itu, para penambang selesai bekerja dan akan keluar dari lubang tambang. ”Tiba-tiba dinding lubang longsor dan menimbun para pekerja, mengakibatkan empat orang tertimbun longsor,” ujar dia. (tno)