Harga Pinang Turun, Kopi Masih Stabil

90
PANEN: Seorang petani sedang mencongkel buah pinang yang sudah kering dari kulitnya.(IST)

Harga komoditi buah pinang kering di Kabupaten Solok Selatan sejak minggu lalu masih bertengger di harga Rp12 ribu per kilogram. Dibandingkan kondisi harga pinang beberapa bulan lalu, jauh mengalami penurunan. Buah pinang kering di awal tahun 2021 sempat tembus Rp22 ribu per kilogram.

“Saat pandemi, buah pinang cukup membantu beban ekonomi masyarakat di Solsel. Khusus yang memiliki kebun pinang,” ungkap Afrizal toke pinang Kecamatan Sangir, Minggu (12/12).

Dia menjelaskan, dengan kondisi masih stabil di angka Rp12 ribu. Pinang masih menguntungkan para petani untuk tambahan pemasukan keluarga, serta beban ekonomi yang sulit saat ini.

Saat pinang melonjak Rp22 ribu katanya, juga sulit didapatkan pedagang. Stok pinang ketika itu mengalami penurunan masa panen. “Oleh sebab itu, harga melambung juga dihadapkan musim penghujan saat itu,” ulasnya.

Afrizal menyebutkan, kondisi harga kopi kering masih Rp 17 ribu per kilogram. Sejak dua tahun terakhi ini belum terjadi penunurunan maupun kenaikan harga tanaman tua itu. Namun di akhir tahun 2021, kopi tidak musim panen.

Walaupun begitu, harga juga belum terjadi kenaikan. Akan tetapi dilihatnya, perajin pengolahan kopi banyak di Solok Selatan. Harga juga belum berpihak ke petani.

“Kopi tanaman manja, suka bersih. Namun harga masih belum untungkan petani. Mulai upah memetik di batang, pengangkutan, penggilingan dan dijemur oleh pemilik. Tapi masih murah,” paparnya.

Sementara, Mul Enti pedagang cabai merah juga menuturkan, harga cabai masih terkini Rp35 ribu per kilogram. Sebelumnya sempat mengalami penurunan Rp 25 ribu sekilo, kemudian naik lagi. “Khusus cabai merah kini masih Rp35 ribu sekilo, sedangkan cabai rawit Rp16 ribu sekilo,” paparnya. (tno)