Jembatan Putus, Ribuan Warga Sangir Batang Hari Terisolasi

260
Jembatan yang menjadi akses utama warga di Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan dan Lubuk Ulang Aling Tengah , Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan putus diterjang arus sungai yang deras akibat hujan. (Arditono-Padang Ekspres)

Jembatan yang selama ini menjadi akses utama warga di Nagari Lubuk Ulang Aling Selatan (LUAS) dan Lubuk Ulang Aling Tengah (LUAT), Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, putus akibat terseret arus Sungai Abong di aliran Sungai Batang Hari, Jumat (19/6/2020) sekitar pukul 03.00 dini hari. Akibatnya, ribuan warga di dua nagari itu terancam terisolasi.

“Jembatan ini seminggu yang lalu dikunjungi Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. Sekarang putus terseret arus Sungai Batang Hari yang menyebabkan 2.622 jiwa terisolasi,” ungkap Camat Sangir Batang Hari, Gurhanadi kepada Padang Ekspres, Jumat (19/6/2020) pagi.

Ia menjelaskan, hujan lebat yang mengguyur perbatasan Solsel-Dharmasraya itu, membuat air sungai melimpah dan menyeret jembatan sepanjang 10 meter tersebut hingga ambruk ke dasar sungai.

Jembatan Sungai Ambong yang terletak di Nagari Lubuk Ulang Aling (LUA), pernah diperbaiki BPBD Solsel pada 2019 lalu. Jembatan itu selama ini digunakan sebagai penghubung warga di Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah dan Lubuk Ulang Aling Selatan jika ingin bepergian ke Padang Aro atau Kabupaten Dharmasraya.

“Akibat jembatan ini putus, 1.361 jiwa warga Lubuk Ulang Tengah dan 1.261 jiwa warga Lubuk Aling Selatan tidak bisa lagi ke Abai dan ke Dharmasraya,” paparnya sembari berharap jembatan ini segera diperbaiki.

Sementara, Wali Nagari Lubuk Ulang Aling Tengah (LUAT), Yunidas menegaskan, kondisi jembatan sudah memprihatinkan.

Ia berharap jembatan ini segera diperbaiki, agar warga kedua nagari dapat beraktifitas kembali seperti sedia kala. Pasalnya jembatan tersebut merupakan satu-satunya akses bagi ribuan warga LUAT dan LUAS menuju Padang Aro dan Kabupaten Dharmasraya.

“Masyarakat kami tidak bisa lagi ke Padang Aro dan ke Dharmasraya. Kami berharap Pemprov Sumbar cepat tanggap, termasuk Pemkab Solsel,” tandasnya.

Biaya Besar
Yunidas mengemukakan, selain melalui jembatan ini, sebenarnya warga masih bisa bepergian menggunakan perahu timpek. Hanya saja selain berisiko karena arus sungai yang deras, juga diperlukan tambahan biaya untuk menyewa perahu.

Ia mencontohkan, untuk dari Tanah Galo ke Pulau Punjung jika menggunakan perahu butuh waktu sejam, kemudian dari Nagari Abai butuh dua jam ke Padang Aro.

“Biayanya besar. Untuk sewa Rp 50 ribu satu orang menuju Batu Bakawik, kemudian naik ojek ongkosnya Rp 40 ribu satu orang. Artinya, butuh biaya Rp 90 ribu satu orang, belum lagi pulang tambahan biaya barang,” jelasnya.

Kemudian katanya, untuk jalur Ombak Kubu, Muaro Sangir dan Padang Limau Sundai, aliran sungainya cukup berbahaya.

Terpisah, Kepala BPBD Kabupaten Solok Selatan, Richi Amran mengaku telah menurunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan melaporkan peristiwa ini ke Bupati Solsel dan BNOB Pusat. (tno)