Angka Kemiskinan di Solsel Naik!! Ada 13.041 Jiwa, Tertinggi di Sangir!

94
PENGAMBILAN SAMPEL: Kepala BPS Solok Selatan Abdul Razi bersama tim BPS saat pengambilan sampel padi di lapangan.(IST)

Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Solok Selatan (Solsel) meningkat. Jika dibandingkan tahun 2017, ada 11.089 jiwa  penduduk miskin. Namun tahun 2021 ini mengalami kenaikan mencapai 13.041 jiwa.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solok Selatan, Abdul Razi menjelaskan, perkembangan kemiskinan dan garis kemiskin di Kabupaten Solok Selatan terus mengalami kenaikan hingga tahun 2021.

Hal ini disebabkan karena kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.

“Kalau kita lihat data, di tahun 2017 penduduk miskin di Solsel tercatat 11.089 jiwa (7,21 persen), tahun 2018 sebanyak 11.085 jiwa (7,07 persen), 2019 sebanyak 12.005 jiwa (7,33 persen), 2020 sebanyak 12.039 jiwa (7,15 persen) dan di tahun 2021 mencapai 13.041 jiwa (7,52 persen),” kata Kepala BPS Solok Selatan, Abdul Razi, Selasa (21/6) di kantornya.

Dia memaparkan, kondisi ini karena hak-hak dasar seperti kebutuhan pangan belum terpenuhi untuk penunjang kesejahteraan keluarga di masyarakat.  Juga berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Juga belum terpenuhi rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, terpenuhi hak berpartisipasi dalam sosial politik. “Kita lihat banyak faktor yang jadi penyebab kemiskinan di daerah ini, terutama pekerjaan, pendidikan dan perumahan serta lainnya,” ungkapnya.

Dengan rincian di Kecamatan Sangir 2.626 jiwa, Sangirjujuan 487 jiwa, Sangir Balai Batang Hari 485 jiwa, dan Sangir Balai Janggo 692 jiwa. Kemudian di Kecamatan Sungaipagu 1.722 jiwa, Pauhduo 1.462 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 1.850 jiwa.

“Angka kemisninan tertinggi di Solok Selatan terdapat di Kecamatan Sangir  dan di Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh,” jelasnya.

Di samping itu, gambaran lain kondisi Kemiskinan mikro menurut Lapangan Usaha Kepala Rumah  Tangga (LUKRT) 2015, terlihat dari jumlah Kepala Keluarga yang bekerja menurut Lapangan Pekerjaan (LP) dengan status kesejahteraan 40 persen terendah.

Angka tertinggi terdapat di Kecamatan Sangir mencapai 2.410 jiwa, Sangirjujuan 414 jiwa, Sangir Batang Hari 434 jiwa, dan Sangir Balai Janggo 645 jiwa. Selanjutnya di Kecamatan Sungaipagu 1.418 jiwa, Pauhduo 1.340 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 1.623 jiwa.

Disektor pertanian padi dan palawija terdapat sebanyak 4.024 jiwa memiliki penghasilan terendah (48,58 persen) atau persentase pertanian 74,11 persen. Dirinci Abdul Razi, di Kecamatan Sangir 1.469 jiwa, Sangirjujuan 110 jiwa, Sangir Batang Hari 14 jiwa dan di Sangir Balai Janggo 113 jiwa.

Di Kecamatan Sungaipagu 629 jiwa, Pauhduo 760 jiwa dan di Koto Parik Gadang Diateh 929 jiwa.  “Kemiskinan dari sektor pekerjaan pertanian padi dan palawija tertinggi di Kecamatan Sangir. Disektor perkebunan juga angka kemiskinan tertinggi juga terdapat di Sangir,” tutupnya. (tno)