Harga Kopi di Solok Selatan Anjlok

Penghasilan penggiling kopi di Solsel berkurang. Kopi petani marak dicuri di batangnya oleh orang lain. (Arditono-Padang Ekspres)

Petani kian menjerit soal kebutuhan keluarga, disebabkan seluruh harga komoditi pertanian mengalami penurunan harga yang signifikan. Seperti karet, pinang, kakao, serta komoditi hasil bumi pertanian lainnya tidak bernilai di mata para pedagang atau tauke. “Kini giliran komoditi kopi yang harganya mengalami penurunan, sehingga hasil jerih payah kami petani di Solok Selatan tidak terobati,” kata Safrina petani kopi kepada Padang Ekspres, Jumat (24/4).

Disinggungnya, seluruh harga hasil bumi pertanian anjlok. Bahkan kopi pun mengalami nasib serupa yang semula dibeli pedagang Rp 19 ribu per kilogram sekarang sudah Rp 15 ribu. Sembako naik, bantuan dari pemerintah pun belum mengalir. Dengan lambatnya pengucuran bantuan, akan berdampak terhadap kebutuhan harian masyarakat. “Kita harus mematuhi aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), di rumah saja. Bantuan pemerintah belum ada, rakyat kecil makin terjepit,” ungkapnya.

Hingga kini sebutnya, belum ada warga merasakan bantuan pemerintah dalam kondisi dilanda wabah virus korona. Seluruh aktivitas masyarakat dibatasi dan dijaga oleh pihak aparat TNI-Polri, pihak nagari dan kepala jorong.

Tapi anjuran tetap berada di rumah bisa saja membunuh ekonomi masyarakat lecil, apalagi yang selalu membutuhkan jasa orang lain. “Kalau pegawai menerima tiap bulan, kalau petani tidak membanting tulang. Dengan apa hidupi keluarga,” terangnya.

Suman, 41, petani cabai mengatakan, harga cabai rawit yang biasa senilai Rp30 ribu sekilo, sekarang hanya dihargai Rp 16 ribu. Begitupun cabai merah sudah Rp 14 ribu, biasanya perawatan besar seperti pupuk, racun dan pengolahan. “Kami petani sudah menderita selama wabah korona, bantuan dari Pemkab Solsel pun entah kapan akan diterima,” tuturnya.

Tentu saja masyarakat yang persediaan kebutuhan hariannya habis, dan pendapatan berkurang. Bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali. “Baru polisi dan TNI yang sudah mulai membantu masyarakat miskin, lantas pemerintah kapan. Mudahan melalui keluhan ini di media, pemerintah mendengarnya,” bebernya.

Bujang, 52, penggiling kopi di Solsel menyebutkan, banyak keluhan petani kopi sejak wabah korona. Kopi kerap dicuri orang lain, sehingga ia hanya sedikit mendapatkan hasil jerih payah dari menggiling kopi sekeliling kampung. “Sejak wabah korona. Petani kopi yang menjadi langganannya kerap kopinya di curi dikebun oleh orang lain. Sehingga ia sedikit mendapatkan jerih payah setiap pagi berkeliling menggiling kopi,” paparnya. (tno)