Revitalisasi Kawasan Seribu Rumah Gadang Berjalan Lamban

Para ibu-ibu melaksanakan akvitas memasak dengan konsep tempo dulu saat pelaksanaan Festival Seribu Rumah Gadang (SRG) pertama pada 2017 lalu.

Pemkab Solok Selatan (Solsel) mendesak pihak Balai Prasarana Permukiman (BPP) Wilayah Sumbar dan rekanan mempercepat pengerjaan proyek revitalisasi kawasan Seribu Rumah Gadang (SRG). Pasalnya, belum satu pun rumah gadang di kawasan itu yang rampung direvitalisasi hingga triwulan II periode April 2020.

“Sudah sejak November 2019 sampai saat ini, belum ada satu pun rumah gadang yang selesai diperbaiki 100 persen. Padahal pekerjaan hingga kini terus berlangsung,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Solsel, Harry Trisna, Selasa (28/4).

Mestinya kata Harry, BPP Wilayah Sumbar selaku yang diberi mandat menangani kegiatan revitalisasi oleh Kementerian PUPR, mendorong rekanan agar lebih mengebut pengerjaannya. Jika ada kendala di lapangan dapat dicarikan solusi bersama.

Pihaknya sudah mencoba mengkoordinasikan hal itu ke pihak balai, tapi sayangnya kurang direspon. Mulai dari menyurati hingga mengontak secara langsung. Bahkan, dirinya bersama Wali Nagari Koto Baru dan Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat, pernah ditolak pihak balai saat hendak datang untuk maksud menyuarakan percepatan revitalisasi tersebut.

“Beragam upaya sudah kami coba untuk mendesak percepatan revitalisasi SRG ini. 19 Maret kami hendak ke balai sama-sama, ditolak. Alasan mereka wabah korona. Kami hanya ingin agar proyek ini cepat selesai, ada kendala bisa bersama-sama dicarikan solusi,” sebutnya.

Dilihat dari volume pekerjaan sejak terkontrak November 2019 lalu lanjutnya, progress pengerjaan paling tinggi baru 90 persen dan ada yang nol persen. Sedangkan kendala di lapangan, katanya tidak ada sama sekali. Hanya saja, pengawasan yang semula dilakukan BPP Wilayah Sumbar sekarang diserahkan ke Konsultan Manajemen Konstruksi (MK).

Disayangkannya, petinggi rekanan proyek puluhan miliar itu tak pernah berada di lapangan setelah beberapa kali ditinjau. “Di lapangan, yang ditemui hanya petugas suruhan rekanan saja dan tukang pugar. Pengawas proyeknya pun yang ada suruhan pula dari Konsultan MK,” cetusnya.

Anehnya beber Harry, pihak balai terkesan hanya menerima pengaduan sepihak dari kontraktor. Sementara jarang turun ke lapangan. “Kontraktor ini mengadu pekerjaan mereka lambat karena kerap dihalangi masyarakat. Laporkan kalau iya, ini kan negara hukum,” katanya.

Diketahui, proses tender revitalisasi kawasan SRG sendiri dimenangkan oleh PT Wisana Matrakarya dengan harga terkoneksi Rp69,8 miliar. Diperuntukkan untuk revitalisasi 33 unit rumah gadang ditambah bangunan pendukung lainnya seperti menara pandang, panggung-panggung termasuk pembenahan jalan sekitar kawasan.

Terpisah, Kepala BPP Wilayah Sumbar, Syafriyanti Randal mengatakan, bukan hanya revitalisasi kawasan SRG saja yang terlambat. Melainkan hampir semua paket proyek imbas dari pandemi Covid-19 saat ini.

“Karena suasana Covid-19 saat ini, ditambah lagi ada longsor beberapa waktu lalu membuat bahan tidak bisa masuk. Sehingga progresnya lambat, tetapi itu terjadi tidak hanya pada revitalisasi rumah gadang saja,” ujarnya saat dihubungi wartawan, kemarin.

Sedangkan pekerja, katanya memang dibatasi jumlah kelompoknya dan diminta patuh kepada protokol Covid-19. “Karena terdampak wabah, kami akan tinjau ulang proses revitalisasi rumah gadang ini. Apakah akan diperpanjang masa kerjanya atau nanti bagaimana,” pungkasnya. (p)