Surau Latiah, Masuk Cagar Budaya, Naskah Tuonya Didigitalisasi

19
Surau Latiah di Kelurahan Kampaitabukerambil (KTK), Kecamatan Lubuaksikarah, Kota Solok, kini tetap menyelenggarakan Shalat Tarawih. (IST)

Tempat ibadah baik berupa masjid maupun surau, menjadi salah satu objek penting dalam kehidupan sosial masyarakat Sumbar. Makanya, tak jarang keberadaan surau atau masjid juga dijadikan cagar budaya. Salah satunya, Surau Latiah di Kelurahan Kampaitabukerambil (KTK), Kecamatan Lubuaksikarah, Kota Solok. Seperti apa?

Surau Latiah tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 04/BCB-TB/A/05/2007. Saat ini, dikelola langsung oleh BPCB Sumbar. Secara umum, Surau Latiah terlihat biasa. Memiliki luas bangunan 22 x 12 meter di atas lahan kurang lebih 25 x 24 meter.

Seperti umumnya surau, dinding terlihat cukup kokoh karena telah direnovasi beberapa kali. Kemudian atap berbentuk gonjong rumah gadang itu, cukup kokoh meski terlihat usang.

Masuk ke dalam surau, terlihat 12 tiang kokoh menopang bangunan, dan lantai terbuat dari kayu, meskipun terakhir kali lantai itu diganti yakni tahun 1997 oleh BP3 Batusangkar, tapi masih terasa kokoh.

Lokasi surau tersebut, cukup mudah diakses, letak tidak terlalu jauh dari jalan lintas Padang-Solok. Hanya perlu berjalan kaki dari jalan lintas tersebut, lebih kurang sekitar 25 meter dari jalan.

”Konstruksinya tidak banyak kami ubah, hanya diplester, lalu yang diganti hanya loteng, dan lantai, dan beberapa bagian yang sudah lapuk, secara umum, bentuk surau ini masih asli sejak awal didirikan,” ujar pengelola Surau Latiah, Nasril.

Dijelaskan Nasril, keberadaan Surau Latiah identik dengan keberadaan Islam di kawasan Solok, surau tersebut dibangun oleh Syekh Sihalahan pada tahun 1902 yang kemudian menjadi pusat pengajian, dan pendidikan agama Islam di Solok.

Keberadaan Surau Latiah tidak terlepas dari ketokohan Syekh Sihalahan. Surau ini dibangun guna kepentingan penyebaran agama Islam di daerah Solok dan sekitarnya. Selain itu, surau ini juga digunakan sebagai sarana latihan bagi kepentingan keagamaan dan bela diri pada masa itu. Oleh karena itulah, surau ini dinamakan Surau ”Latiah”.

Baca Juga:  Berbagi, KarajoElok.com Sebar Paket Bantuan untuk Disabilitas

Lalu, setelah Syekh Sihalahan meninggal pada 1917, pengelolaan surau diambil oleh keturunannya sampai saat ini, dan bahkan di surau ini masih tetap dipakai untuk ibadah sehari-hari masyarakat sekitar. ”Termasuk pada bulan ramadhan ini, kami masyarakat sekitar masih Shalat Tarawih di sini,” ungkapnya.

Terpisah, Wali Kota Solok, Zul Elfian Umar menyebut, keberadaan Surau Latiah sangat penting dalam perjalanan Solok, maka itu cagar budaya ini harus tetap terawat. Sejalan dengan itu, pihaknya baru-baru ini sudah melakukan kerja sama dengan Fakultas Ilmu Kebudayaan dan Humaniora Unand terkait digitaliasasi naskah kuno yang ditemukan di Surau Latiah tersebut.

Zul Elfian Umar mengimbau masyarakat yang merawat dan melestarikan berkaitan dengan khasanah budaya dan sejarah Kota Solok, untuk dapat berpartisipasi dalam pelestarian cagar budaya di Kota Solok agar keberadaan Solok di masa lalu tetap dilestarikan. Lalu, di era digital seperti saat ini selain tantangan, juga bisa diambil keuntungan karena masa lalu tidak untuk dilupakan atau ditenggelamkan.

Sekarang yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya kebaikan dari masa lalu itu bisa diteruskan untuk hari ini dan masa datang. ”Peninggalan yang bernilai sejarah dan budaya sangat perlu sekali untuk kita selamatkan karena banyak nilai-nilai kebaikan yang terdapat di dalamnya di masa sekarang dan masa yang akan datang,” pungkasnya. (f)

Previous articleSandiaga Uno Dukung Pengembangan Wisata Alam dan Budaya di Sumbar
Next article69.617 Pelamar Lolos SPAN- PTKIN