Cegah Konflik Satwa Liar, Dirikan Posko Penyelamatan Harimau Sumatera

20
ilustrasi.(net)

Guna mengantisipasi konflik satwa liar dengan masyarakat, Pemerintah Kota Solok aktifkan Posko Penanganan Penyelamatan Harimau, di Galeri 88 Kota Solok, Jalan Lingkar Utara Kecamatan Tanjungharapan, yang dimulai Selasa (12/4).

Wakil Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra menyebut, pendirian posko tersebut merupakan tindak lanjut dari kejadian yang diduga temuan jejak kaki harimau sumatera di kawasan Transad Kelurahan Kampungjawa.

Wakil Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra pimpin apel kesiapsiagaan sekaligus pendirian posko dalam upaya percepatan penyelamatan hewan dilindungi harimau sumatera yang aktivitasnya beberapa hari belakangan terlihat oleh warga di sejumlah lokasi di Kota Solok.

Apalagi, berdasarkan informasi dari masyarakat, ada yang melihat dan menyaksikan keberadaan hewan dilindungi tersebut, maka itu untuk merespon itu Pemko Solok bekerja sama dengan BKSDA Sumbar melakukan langkah antisipatif.

“Namun kita tidak berani berspekulasi, yang penting tugas kita hari ini memastikan menjaga masayarakat kita agar tidak menjadi korban dari konflik Harimau Sumatera dengan manusia. Alhamdulillah kita dibantu oleh BKSDA Resort Solok Raya untuk mengarahkan tindakan-tindakan yang akan kita lakukan,” ujarnya.

Meskipun permukiman di Kota Solok cukup padat yang mestinya tidak ada konflik dengan harimau sumatera, wawako menegaskan perlu mendirikan posko 24 jam penanganan penyelamatan harimau sumatera, termasuk posko satu pintu jika ada informasi informasi dari masyarakat, termasuk bagi semua pihak yang menginginkan informasi.

Pendirian posko itu juga untuk menghadirkan informasi yang benar dan akurat sehingga masyarakat tidak menafsirkan sendiri berita yang berkembang yang tidak jelas sumbernya.

Baca Juga:  SK Pengangkatan 40 CPNSD Diserahkan

Selain memberikan informasi ke masyarakat, wawako juga menyampaikan agar mewaspadai kehadiran pemburu liar yang memanfaatkan situasi sengaja mencari keuntungan.

“Mudah-mudahan posko satu pintu ini memberikan titik terang kepada kita bersama bagaimana penanganan konflik harimau sumatera ini dengan manusia bisa kita tuntaskan,” pungkasnya.

Sementara itu, petugas BKSDA Sumbar Resort Solok, Gusman Efendi menyebut, harimau sumatera merupakan satu-satunya sub spesies harimau di Indonesia setelah kepunahan harimau jawa dan harimau bali. Populasi harimau sumatra diperkirakan 604 ekor dari data PVA tahun 2016.

Habitatnya tersebar di Pulau Sumatera yang mencakup Taman Nasional Berbak, Taman Nasional Sembilang, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sebagai wujud konservasi harimau sumatera, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur No.522.5/3545/Dishut-2021 pada tanggal 14 Desember 2021 tentang Pelestarian Harimau Sumatera di Sumbar.

Surat edaran tersebut ditujukan kepada bupati/wali kota di seluruh Sumatera Barat untuk ikut serta mendukung pelestarian harimau sumatra dan habitatnya, mencegah konflik manusia dan harimau, mitigasi penanganan dan pascakonflik manusia-harimau sumatera dan penegakan hukum.

Lebih lanjut, terkait kemungkinan konflik di Kota Solok, petugas BKSDA saat ini sedang melakukan upaya penangkapan dengan menggunakan dua unit kandang jebak di lokasi yang diperkirakan menjadi perlintasan lewatnya harimau sumatera.

“Selanjutnya, harimau sumatera akan diupayakan untuk ditangkap dan dipindahkan dari lokasi konflik, hingga dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya,” tukasnya. (frk)