Ekonomi Kota Solok Tumbuh 5,53 Persen

Salah satu sudut Pasar Raya Solok.

Sepanjang tahun 2019 Kota Solok mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 5,53 persen. Kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ini murni disebabkan oleh meningkatnya produksi di hampir seluruh lapangan usaha yang tidak dipengaruhi inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Solok, yang dirilis April 2020 lalu, lapangan usaha dengan peranan terbesar terhadap PDRB yakni perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi 25,52 persen, transportasi dan pergudangan 15,86 persen, dan konstruksi 13,65 persen. Berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, ketiga sektor usaha tersebut berada di peringkat atas, disusul pertanian dan manufacturing.

Sebagian besar lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif sebesar empat hingga sepuluh persen. Di antaranya, pertanian, perikanan dan kehutanan. Lalu pengadaan listrik dan gas, pengadaan air pengelolaan sampah dan daur ulang, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi makan dan minum, informasi dan komunikasi, jasa keuangan, real estate, jasa perusahaan, jasa pendidikan dan kesehatan. Serta satu mengalami penurunan yakni bidang manufactur.

Wali Kota Solok, Zul Elfian menyampaikan, naiknya nilai PDRB Kota Solok atas dasar harga berlaku pada tahun 2019 mencapai Rp 4,08 triliun. Secara nominal, nilai PDRB Kota Solok mengalami kenaikan sebesar Rp 0,3 triliun dibandingkan dengan tahun 2018 yang mencapai Rp 3,7 triliun.

Kemudian, nilai PDRB ini dipengaruhi oleh meningkatnya produksi di hampir seluruh lapangan usaha dan adanya inflasi. Berdasarkan harga konstan 2010, angka PDRB juga mengalami kenaikan, dari Rp2,72 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp2,87 triliun pada tahun 2019.

Fluktuasi volume ekonomi tersebut tercermin baik dari sisi produksi maupun sisi permintaan akhir (demand side). Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada kategori penyediaan akomodasi dan makan minum yang empat tahun terakhir selalu tumbuh di atas 8 persen per tahunnya.

Dari sisi permintaan akhir, pertumbuhan ekonomi Kota Solok sebesar 5,5 persen didominasi oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga (PK-RT) yang menyumbang lebih dari separuh total. Serta Kota Solok juga menurunkan angka kemiskinan dari 3,86 persen pada 2018 menjadi 3,30 persen di tahun 2019 atau berjumlah 759 KK atau 3.128 jiwa dari jumlah penduduk 73.157 jiwa.

Lalu, Nilai PDRB per kapita Kota Solok atas dasar harga berlaku sejak tahun 2015 hingga 2019 senantiasa mengalami kenaikan. Kenaikan angka PDRB per kapita yang cukup tinggi ini disebabkan masih dipengaruhi oleh faktor inflasi.

Zul Elfian mengatakan, peningkatan PDRB juga cukup menjelaskan pergerakan perekonomian Kota Solok, sebab PDRB merupakan salah satu perangkat data ekonomi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan ekonomi suatu wilayah.

Perangkat data ini dapat pula digunakan untuk kepentingan dan tujuan lain, seperti sebagai dasar pengembangan model-model ekonomi dalam rangka menyusun formulasi kebijakan, tingkat percepatan uang beredar (velocity of money), pendalaman sektor keuangan, penetapan pajak, kajian ekspor dan impor serta keperluan lainnya.

Semua unit aktivitas pembangunan infrastruktur ini adalah sebagai upaya dalam mendorong sektor ekonomi kerakyatan. Hingga memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran dan dampak tidak langsung lainya.

Lapangan usaha berbasis perdagangan besar ataupun UMKM memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi kota Solok. Apalagi Kota Solok berada dalam jalur strategis, ditambah sejalan dengan visi Kota Solok yakni terwujudnya masyarakat Kota Solok yang beriman, bertaqwa, dan sejahtera menuju kota perdagangan, jasa, serta pendidikan yang maju dan modern.

Menuju kota perdagangan adalah salah satu poin penting, misi yang berkaitan dengan hal itu yakni mewujudkan pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang berkualitas untuk menghasilkan sumber daya manusia dan generasi muda yang beriman, sehat, cerdas, kreatif, tangguh dan berdaya saing.

”SDM tangguh, berdaya saing, untuk mengolah potensi unggulan daerah, dan muaranya kepada menekan angka kemiskinan, itulah mengapa UMKM sangat penting bagi perkembangan Kota Solok, maka dari itu potensi unggulan seperti industri kerajinan kita tonjolkan,” jelasnya.

Pemko Solok mendukung penuh pengembangan usaha-usaha kreatif dan inovatif masyarakat, peluang usaha sangat banyak, sehingga bisa mendorong perekonomian Masyarakat kota Solok. Untuk itu, Pemko Solok bersinergi dengan pihak terkait untuk pembenahan ilmu pengetahuan serta bantuan modal melalui program kredit lunak dari pihak ketiga. (f)