Kembangkan Sereh Wangi, Manfaatkan Lahan Tidur

21
Wakil Wali Kota (Wawako) Solok, Reinier. (net)

Potensi pengembangan produk usaha penyulingan minyak atsiri sereh wangi yang dilakukan sejumlah kelompok tani di Kota Solok bisa menjadi solusi pemanfaatan terhadap lahan-lahan tidur yang ada.

“Pengembangan minyak atsiri sereh wangi Kota Solok cukup terbuka lebar. Banyak produk turunan yang bisa dihasilkan dan bernilai ekonomi tinggi dalam membantu menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujar Wakil Wali Kota (Wawako) Solok, Reinier, Kamis (18/6).

Dia meminta masyarakat petani untuk memanfaatkan areal kosong atau lahan tidur sebagai lokasi pertanian. Apalagi, nyaris seluruh lahan di Kota Solok masih dalam kategori subur. Lahan kosong yang ada di Kota Solok secara umum bisa dimanfaatkan untuk lahan berkebun.

Masih banyak lahan tidur yang belum tergarap dengan baik di Kota Solok. Untuk itu, petani melalui berbagai kelompok tani diminta untuk memaksimalkan penggarapan lahan tidur, guna menambah luasan tanam yang akan berefek pada peningkatan jumlah produksi.

Pihaknya akan mengakomodir aspirasi petani dan masyarakat demi terwujudnya peningkatan kesejahteraan. Dan ia juga meminta Dinas Pertanian Kota Solok bisa memberikan harapan dan kebutuhan kalangan petani untuk pengembangan pertanian Kota Solok dan ditransformasikan dalam bentuk program nyata ke depannya.

Banyak jenis tanaman produktif yang bisa diusahakan oleh masyarakat dan meningkatkan ekonomi. Upaya peningkatan kesejahteraan petani memang menjadi salah satu tanggung jawab pemerintah daerah. Pemko Solok melalui Dinas Pertanian terus memberikan dukungan melalui berbagai program yang ada.

Tidak sedikit program yang sudah digulirkan untuk peningkatan kesejahteraan petani. Tidak saja untuk pertanian padi sawah yang memang sudah menjadi brand Kota Solok tapi juga sektor pertanian lainnya.

“Kita juga telah mengupayakan pertanian serai wangi dan memproduksi minyak Atsiri. Penanaman areal kosong dengan tanaman buah produktif, hingga pengembangan agrowisata kawasan Payo,” jelasnya.

Menurut Reinier, dukungan dari lembaga terkait seperti lembaga pendidikan tinggi, lembaga penelitian dan pihak industri sangat dibutuhkan untuk mengembangkan produk yang dihasilkan sehingga lebih bernilai ekonomi tinggi.

Hasil pengembangan dan penelitian yang dilakukan oleh lembaga terkait tentunya juga perlu disosialisasikan terhadap petani dan pengusaha minyak serai wangi. Dengan begitu, kualitas produk yang dihasilkan bisa terjamin dan produk olahan semakin beragam.

Diakuinya, produksi sereh wangi Kota Solok dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Tahun 2018 produksi sereh wangi mencapai lebih kurang 103 ton dengan luas tanam mencapai 40 hektar lebih. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2017 yang hanya mencapai 84 ton.

Ada tiga kelurahan yang menjadi produsen sereh wangi yang cukup tinggi untuk wilayah Kota Solok. Di antaranya kelurahan VI Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah dan kelurahan Kampung Jawa dan Laing di Kecamatan Tanjungharapan.

Dengan produksi bahan baku yang memadai, tentunya produk minyak atsiri sereh wangi yang dihasilkan bisa lebih banyak dan menjadi produk unggulan lain Kota Solok selain beras. Apalagi, masih banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan.

“Kita yakin, serai wangi sebuah potensi usaha dan langkah bagi pemerintah dalam mengurai angka kemiskinan serta mengurangi lahan tidur yang ada di Kota Solok,” tukasnya. (f)