Hasilkan 18 Ton Per Ha, Petani Pandai Sikek Panen Perdana Bawang Batu Ijo

67

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyebut sektor pertanian adalah sektor yang paling potensial dikembangkan karena komposisi dari masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian di daerah itu mencapai 58 persen dari total penduduk.

“Jika sektor ini berkembang dan petani sejahtera maka semua sektor akan ikut mendapatkan imbas positif. Semua sektor ekonomi akan bergerak semua,” katanya saat menghadiri panen perdana bawang varietas unggul Batu Ijo yang diinisiasi oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Litbang Pertanian Kementan RI di Nagari Pandai Sikek Kabupaten Tanahdatar, Selasa (21/9/21).

Lahan percontohan bawang seluas 10 hektare yang dipanen menjadi satu langkah maju dalam pemanfaatan varietas unggul, pemanfaatan teknologi serta pengelolaan air dan pemupukan yang bisa dicontoh oleh petani di Sumbar.

Hasil panen yang mencapai 18 ton per hektare jauh lebih tinggi dari varietas lokal yang hanya 12-13 ton per hektare sehingga bisa membantu meningkatkan pendapatan petani. Apalagi masa panen juga hanya 70 hari.

“Ini sangat sesuai dengan RPJMD Sumbar 2021-2026 yang salah satunya memang fokus pada sektor pertanian,” kata Mahyeldi.

Ke depan akan diupayakan pengembangan teknologi hilirisasi dari produk pertanian Sumbar agar harga komoditas bisa tetap terjaga sehingga petani benar-benar diuntungkan.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Litbang Pertanian Kementan RI, Husnain mengatakan lahan percontohan sangat penting untuk bisa mengubah pola pikir dan pola kerja petani.

Baca Juga:  Tanaman Obat Anti Kanker Taxus Sumatrana Dibudidayakan di Pandai Sikek

Tanpa melihat bukti yang nyata, petani tidak akan mau meninggalkan cara pengolahan lahan dan varietas lama yang sudah lama mereka gunakan.

“Tahun ini dengan dukungan Komisi IV DPR RI, kita mendapatkan anggaran yang cukup besar untuk membuat lahan percontohan seperti di Tanahdatar ini,” ujarnya.

Ia mengatakan tahun ini pihaknya melaksanakan program Riset Penelitian Integrasi kolaboratif (RPIK) yang menggabungkan sembilan UPT dalam mengelola lahan percontohan sehingga semua hal pendukung mulai dari kondisi tanah, pupuk, alsintan, air, varietas dan teknologi diterapkan bersama-sama agar hasilnya maksimal.

Ia berharap lahan percontohan yang sedang bersiap untuk penanaman kedua tersebut bisa lebih ditingkatkan lagi. Mungkin dengan cara ekspansi lahan atau duplikasi di daerah lain. “Kita mohon dukungan dari pemerintah daerah dan semua pihak terkait agar terus bisa dikembangkan,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Tanahdatar Eka Putra mengatakan sebanyak 70 persen dari masyarakatnya adalah petani.

Beberapa tahun belakangan Tanahdatar fokus pada tiga komoditas yaitu cabai merah, bawang merah dan jengkol. Tiga komoditas itulah yang membawa daerah itu menjadi kabupaten dengan pengendalian inflasi terbaik.

“Kita juga punya potensi tomat dengan produksi sampai 27 ribu ton yang sedang diupayakan hilirisasinya berupa pabrik pengolahan saus tomat,” ujarnya.(*)