Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Revolusi Mental Finansial via Meneladani Etos Bisnis Rasulullah

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Sunardi Simanullang
Sunardi Simanullang

Advertisement

Penulis : Sunardi Simanullang - Anggota Bidang VI HIPMI Syariah Sumbar

“Perniagaan dan perdaga­ngan adalah sarana alami untuk me­raih kemakmuran, dan suatu peradaban hanya akan tegak jika perekonomiannya digerakkan oleh manusia-manusia yang berintegritas dan tangguh.” — Ibnu Khaldun

Kutipan Ibnu Khaldun menjadi refleksi atas kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di tengah semangat generasi muda mengejar financial freedom secara instan, rasio wirausaha Indonesia pada 2025 baru mencapai 3,47 persen dari total penduduk. Angka ini masih tertinggal dibandingkan Malaysia 4,74 persen dan Singapura 8,6–8,76 persen, sehingga Indonesia masih didominasi struktur ekonomi berbasis sektor informal.

Advertisement

Rendahnya rasio kewirausahaan bukan hanya dipengaruhi keterbatasan modal atau birokrasi, tetapi juga persoalan mentalitas dan cara pandang terhadap ekonomi. Di sebagian masyarakat, khususnya gene­rasi muda Muslim, masih ber­kem­bang anggapan bahwa kesalehan identik dengan menjauhi kekayaan. Pemahaman yang keliru terhadap konsep zuhud melahirkan sikap pasif secara ekonomi. Padahal, untuk menjadi negara maju, Indonesia membutuhkan perubahan paradigma melalui Revolusi Mental Finansial.

Langkah pertama revolusi ini ada­lah membongkar mitos bahwa Islam mengagungkan kemiskinan. Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah, yakni pengelola sekaligus pemakmur bumi. Mandat tersebut menunjukkan bahwa kemakmuran merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, bukan sesuatu yang harus dijauhi.

Berbagai instrumen ibadah so­sial dalam Islam juga membutuhkan kekuatan ekonomi. Zakat mal, wakaf produktif, sedekah, hingga ibadah haji hanya dapat dijalankan secara optimal apabila umat memiliki kemampuan finansial. Karena itu, Islam memandang “tangan di atas” lebih mulia daripada “tangan di bawah”. Kekayaan yang diperoleh secara halal bukanlah simbol keserakahan, melainkan sarana menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Advertisement

Jika orientasi mencari kekayaan bergeser dari sekadar mengejar pengakuan sosial menjadi membangun kebermanfaatan, etos kerja generasi muda akan meningkat. Kekayaan yang berkah menjadi fondasi kemandirian umat sekaligus bangsa.

Setelah memahami pentingnya kemakmuran, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mencapainya. Ja­wabannya dapat ditemukan melalui keteladanan Rasulullah Saw. Selama ini sunnah sering dipahami sebatas ibadah ritual, padahal sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad Saw adalah seorang pebisnis profesional yang dipercaya mengelola modal para investor besar dan me­nghasilkan keuntungan yang tinggi.

Keberhasilan Rasulullah diba­ngun melalui empat prinsip utama yang hingga kini tetap relevan dalam dunia bisnis modern. Siddiq berarti integritas dan transparansi, termasuk menjelaskan kelebihan maupun kekurangan produk secara jujur. Amanah mencerminkan akuntabilitas dan kemampuan membangun kepercayaan investor maupun konsumen. Tabligh adalah kemampuan berkomunikasi, mengedukasi pasar, dan menyampaikan nilai produk secara efektif. Sementara Fathonah berarti kecerdasan, inovasi, serta kemampuan membaca peluang dan mengembangkan pasar baru.

Empat nilai tersebut menjadi fondasi tata kelola bisnis yang profesional sekaligus beretika. Nilai-nilai itu pula yang diwarisi para sahabat Nabi.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kota Padang Masuk Nominasi Anugerah Adinata Syariah 2026

Kota Padang Masuk Nominasi Anugerah Adinata Syariah 2026

Kota Padang masuk enam besar nominasi Anugerah Adinata Syariah 2026 berkat berbagai program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Ekonomi Dunia Islam dalam Tekanan Neo-Imperialisme

Ekonomi Dunia Islam dalam Tekanan Neo-Imperialisme

EKONOMI dunia Islam berada dalam posisi paradoks. Negara-negara muslim menguasai cadangan energi besar, jalur perdagangan strategis, pasar konsumen

Bank Nagari Syariah: Konversi, Spin-Off, atau Dinamika Menuju Kepastian?

Bank Nagari Syariah: Konversi, Spin-Off, atau Dinamika Menuju Kepastian?

ADA yang mengganjal dari na­ra­si besar ekonomi syariah Sumbar. Se­bagai provinsi yang men­junjung ti­nggi nilai-nilai Islam melalui fi­losofi ABS-SBK

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer