Program yang mengusung tema ”Campus Based Emergency Health Response” ini dipercaya dan didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Kegiatan dilaksanakan secara berkelanjutan selama 15–26 Desember 2025 di sejumlah titik terdampak, khususnya Kecamatan Batipuh Selatan dan Kecamatan X Koto.
Ketua tim pelaksana, dr. Dwi Novilolita, MARS mengatakan layanan kesehatan tetap harus menjangkau masyarakat meskipun akses terputus akibat bencana.
“Kami mendatangi langsung posko pengungsian hingga rumah warga yang terisolasi. Prinsipnya, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti hanya karena kondisi darurat,” ujarnya.
Melalui program Siaga Mobile Kit, tim dokter Fakultas Kedokteran UPN Bukittinggi melakukan pemeriksaan kesehatan langsung kepada warga di Nagari Guguak Malalo, Jorong Baiang, dan Nagari Tambangan. Pemeriksaan dilakukan secara jemput bola, menyasar kelompok rentan yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Kegiatan ini berjalan dengan koordinasi lintas sektor, melibatkan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Dinas Kesehatan, serta Puskesmas Batipuh Selatan. Kolaborasi ini memastikan layanan kesehatan berjalan cepat dan tepat sasaran di tengah kondisi darurat.
Selain layanan medis, tim UPN Bukittinggi juga menyalurkan Hygiene Care Box kepada masyarakat terdampak. Paket ini berisi perlengkapan kebersihan pribadi untuk dewasa dan bayi, seperti sabun mandi, handuk, perlengkapan perawatan gigi, deterjen, sampo, hingga perlengkapan kebersihan bayi dan disinfektan.
Menurut dr. Dwi Novilolita, pemenuhan kebutuhan hygiene menjadi krusial pascabencana. “Penyakit seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan pencernaan sering muncul setelah bencana. Paket hygiene ini menjadi langkah pencegahan sederhana tapi sangat penting,” katanya.
Tak hanya membagikan bantuan, tim juga memberikan edukasi kesehatan kepada warga di posko-posko pengungsian. Edukasi dilakukan menggunakan buku saku dan leaflet tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan selama masa darurat.
Rektor UPN Bukittinggi, Dr. Hj. Evi Susanti, M.Biomed, menegaskan komitmen kampus untuk hadir di tengah masyarakat saat krisis.
“Sebagai institusi pendidikan, kami tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga memastikan ilmu dan tenaga kami bermanfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
UPN Bukittinggi, yang memiliki Program Studi Kedokteran swasta pertama di Kota Bukittinggi, menegaskan pengabdian ini tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik. Pendampingan psikologis, sosial, dan spiritual juga menjadi bagian dari upaya pemulihan warga terdampak bencana.
Di tengah puing dan lumpur sisa galodo, kehadiran tim medis kampus menjadi secercah harapan. UPN Bukittinggi menegaskan, pemulihan Tanah Datar bukan hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kesehatan dan martabat warganya. (rdo)
Editor : Adetio Purtama