Tantangan Covid-19 tak Bisa Diprediksi, Biden Tambah 100 Juta Vaksin

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden meminta pejabat di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) membeli tambahan 100 juta dosis vaksin Covid-19 produksi Johnson & Johnson, Rabu (10/3/2021). Dosis yang lebih dari cukup untuk menyuntik penduduknya.

Penasihat Covid-19 Gedung Putih Andy Slavitt menyebutkan, perintah tersebut akan memberikan fleksibilitas maksimum untuk kebutuhan vaksin yang akan datang.

Biden mengatakan negaranya memiliki dosis yang cukup untuk semua orang dewasa AS pada pertengahan Mei. Apalagi pemerintah telah mendapatkan dosis tambahan vaksin Pfizer dan Moderna.

Namun, New York Times mencatat suntikan tambahan akan digunakan untuk anak-anak, atau berpotensi sebagai penguat untuk beradaptasi melindungi dari varian baru virus korona.

Pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Times, yang pertama kali melaporkan kesepakatan itu, bahwa pemerintah berharap mendapatkan lebih banyak dosis untuk bersiap menghadapi tantangan pandemi yang tidak dapat diprediksi, seperti masalah manufaktur atau varian baru yang lebih berbahaya dari virus yang muncul.

Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki mencatat dalam sebuah briefing, bahwa pemerintah ingin selalu siap dan memiliki fleksibilitas menghadapi setiap tantangan yang mungkin timbul.

Dosis tersebut kemungkinan akan datang pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga:  Tangkapan Besar Meningkat di Tengah Pandemi, Kartel Sulit Pakai Kurir

Sebanyak 20 juta dosis vaksin yang dikontrak Johnson & Johnson akan diberikan kepada pemerintah AS pada akhir Maret.

Perusahaan tersebut berjanji kepada Kongres bahwa mereka berada di jalur yang tepat untuk memberikan 100 juta dosis dalam paruh pertama tahun 2021. “Dari jumlah tersebut, sekitar 3,3 juta telah dikirimkan,” kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson telah disetujui untuk penggunaan darurat oleh Food and Drug Administration pada Februari, dan obat sekali pakai telah diluncurkan secara nasional.

Obat tersebut telah ditunjukkan dalam uji klinis dan sekitar 66% efektif untuk menangkal Covid-19 sedang hingga parah meskipun angka pastinya tergantung pada wilayah dan varian virus korona yang ada.

Kemanjuran sedikit lebih tinggi dalam uji coba AS. Pengujian menunjukkan vaksin itu efektif mencegah Covid-19.

Negosiasi yang dilaporkan untuk lebih banyak dosis dilakukan setelah Johnson & Johnson menghadapi masalah peningkatan produksi, dan tidak mungkin memberikan dosis tambahan apapun ke AS minggu ini.

Gedung Putih menjadi perantara kesepakatan minggu lalu untuk Johnson & Johnson bekerja dengan perusahaan farmasi saingannya Merck dalam produksi vaksinnya untuk mempercepat prosesnya.(idr/Forbes)

Previous articleDukung Sawahlunto Warisan Dunia, Bangun Jalan untuk Kendaraan Besar
Next articleBLK Padang Komitmen Wujudkan Menuju WBK dan WBBM