Ini Dia Kisah Perjuangan Nagari Paninggahan Untuk Lepas Dari Stunting!!

36
TARGETKAN NOL PERSEN: Petugas posyandu melakukan penimbangan berat badan terhadap balita di Nagari Paninggahan, beberapa waktu lalu. Nagari ini sedang berjuang untuk lepas dari stunting pada akhir tahun ini.(IST)

Menjadi nagari percontohan stunting di Sumatera Barat tahun 2019 lalu, Nagari Paninggahan, Kecamatan Junjungsirih, Kabupaten Solok, sukses menekan prevalinsi stunting. Dan tahun ini tengah mengupayakan untuk mencapai angka 0 persen.

TERLETAK di bagian paling utara Kabupaten Solok, Nagari Paninggahan cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Solok, Arosuka, lebih kurang berjarak 58 kilometer.
Secara geografis, nagari ini memiliki bentang alam yang eksotis.

Pasalnya di bagian barat berdiri kokoh hamparan Bukit Barisan yang menjadi batas dengan Kota Padang dan Kabupaten Padangpariaman. Sementara, di bagian timur, terlihat jelas Danau Singkarak.

Meskipun demikian, dengan anugerah alam yang indah itu Nagari Paninggahan tak lepas dari berbagai persoalan. Mulai dari sulitnya air bersih hingga minimnya sanitasi ideal di lingkungan, menjadi momok utama masyarakat setempat. Hingga kemudian, stunting menjadi cerita di nagari itu.

Lalu, prevalensi stunting di sana cukup tinggi. Berdasarkan data Puskesmas Junjungsirih, sepanjang tahun 2019 sebanyak 261 kasus, dan menyumbang 20 persen dari total kasus keseluruhan di Kabupaten Solok.

Atas hal itu, pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemkab Solok mendapuk Nagari Paninggahan menjadi salah satu nagari percontohan penanganan stunting tahun 2019.
Sejak program tersebut digulirkan, angka stunting terus menurun.

Tahun 2020 dari total 491 balita, 48 stunting, tahun 2021 dari total 535 balita sebanyak 46 stunting. Hingga akhirnya tahun 2022 jumlah anak stunting di Paninggahan hanya sembilan orang saja. Pemerintah nagari setempat optimis akhir tahun ini bisa capai 0 persen stunting.

Sri Wahyuni, warga setempat, yang memiliki dua orang anak balita mengatakan, kedua orang anaknya tersebut masing-masing saat ini berusia 5 tahun 2 bulan, dan 3 tahun 4 bulan, sudah terlepas dari stunting. Saat ini ia memiliki anak-anak yang ceria dan cukup aktif bermain.

Dikatakannya, kedua anaknya, divonis stunting pada 2019 dan 2020 untuk anak kedua. Ia mengaku cemas saat mendengar itu. Karena secara umum anaknya terlihat normal layaknya anak seusianya. Hanya saja saat itu anaknya memang sering panas tinggi dan demam, serta pertumbuhan agak lambat.

“Saya kemudian didatangi tim dari nagari dan disarankan untuk memberi nutrisi tambahan. Karena keterbatasan ekonomi, akhirnya ada bantuan itu dari nagari,” ujarnya saat berbincang dengan Padang Ekspres, Jumat (3/6).

Lalu, secara rutin sekali dua bulan dalam setahun, anaknya diberikan makanan tambahan oleh pihak nagari. Hingga pada 2021 lalu anaknya dinyatakan lepas dari stunting. Ia merasa lega dengan hal itu.

Meskipun demikian, dia mengaku agak kesulitan memenuhi nutrisi tambahan bagi anak-anaknya. Karena keterbatasan perekonomian. Ia hanya ibu rumah tangga yang kadang berjualan gorengan di sekolah, dan suaminya seorang buruh tani.

Tak hanya itu, seperti kebanyakan warga nagari Paninggahan, di rumahnya juga tidak memiliki sanitasi yang memadai untuk kegiatan MCK. Hanya memanfaatkan sungai kecil di belakang rumahnya. Tapi, ia mengaku masih mengikuti berbagai pelatihan dari nagari bagaimana mencegah stunting.

“Yang jelas saat ini, kita selalu memperhatikan kebersihan dasar dulu, seperti kebersihan rumah, dapur dan lingkungan rumah, dan mengawasi bermain anak. Jika ada uang berlebih kita usahakan membelikan susu,” tukasnya.

Orangtua lainnya, Riska, 37, juga menyebut, anaknya yang saat ini berusia 5 tahun 1 bulan, juga pernah mengalami stunting dan sudah dinyatakan sembuh. Ia mengaku, awalnya heran kenapa berat badan anaknya tidak naik-naik.

”Ternyata kata dokter anak saya stunting, dan kemudian pihak nagari mendata saya, kemudian rutin ikut penyuluhan dan diberikan makanan tambahan,” ungkapnya.

Menurutnya, saat itu, Ia juga sedang hamil, dan sesekali ikut suami bekerja di sawah, sehingga kurang perhatian terhadap anaknya yang saat itu baru berusia 3 tahun. Lalu, saat dinyatakan stunting, ia menerima bantuan makanan tambahan, dan berbagai penyuluhan dari Pemkab maupun nagari.

”Yang jelas, sekarang kita sudah memahami bagaimana merawat anak dengan benar, terutama kebersihannya,” sebutnya.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan stunting di Nagari Paninggahan ini. Diantaranya yaitu pola hidup masyarakat yang tidak teratur, pola hidup masyarakat yang tidak bersih dan sehat serta masyarakat mengonsumsi air minum yang tidak bersih atau higienis.

Hal tersebut dituturkan Wali Nagari Paninggahan Yosrizal kepada Padang Ekspres, Jumat (3/6). Menurutnya, persoalan stunting di Paninggahan merupakan imbas dari buruknya kebiasaan masyarakat yang minim pengetahuan terhadap kebersihan dan gizi.

Baca Juga:  Dari Mandeh, Bersihkan Sampah Plastik Laut

Sehingga saat dilakukan pendataan stunting tahun 2018 lalu, hampir separuh dari total balita di Paninggahan dinyatakan stunting. Hal itu benar-benar membuat nagari kelimpungan.

Pada awalnya, menurut Yosrizal, secara umum masyarakat Paninggahan merasa tidak menerima dan malu sebagai nagari mempunyai kasus stunting tinggi. Tapi pada hari ini ia merasakan bersyukur karena dengan kondisi itu, semua mata terbuka untuk melihat akar persoalan yang sebenarnya dan bersama-sama mencarikan solusinya.

“Untuk tahap awal dalam penanganan stunting di Paninggahan telah ditunjuk kader di nagari yang bertugas mendata ibu hamil, anak dibawah dua tahun, keluarga miskin, serta keluarga dengan sanitasi air bersih yang tidak sesuai standar kesehatan atau tidak ada sama sekali,” terangnya.

Kegiatan tersebut merupakan program nasional dimana pengananan stunting adalah salah satu prioritas pemerintah pusat, dan nagari harus menganggarkan dari dana desa untuk penangganan stunting. Tapi menurutnya, tahun 2020 lalu penanganan stunting tidak berjalan maksimal, lantaran pandemi Covid-19.

Ia berharap, masyarakat pun dapat berperan aktif dalam mengatasi masalah stunting ini. Seperti mau berkomitmen dan meningkatkan pengetahuan masalah stunting. Kemudian pemerintah pun hendaknya mendampingi dalam hal ini.

Lebih lanjut, tahun 2022 ini pihak nagari juga melakukan kerja sama dengan Puskesmas Paninggahan dalam memerangi stunting. Dalam penelitian yang dilakukan pihak puskesmas, Yosrizal merinci ada empat sektor yang harus dibenahi.

Pertama orangnya. Artinya tentang kesadaran masyarakat dalam pengetahuan asupan gizi dan kesadaran terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Hal ini yang kerap disepelekan, masyarakat mengaku sudah melakukan gaya hidup sehat. Padahal banyak yang tidak sesuai kesehatan, lantaran itu sudah menjadi kebiasaan,” ungkapnya.

Dalam hal ini, sosialisasi berkala terhadap masyarakat dilakukan. Dari pihak nagari rutin mengadakan sosialisasi satu kali dalam sebulan. Kemudian puskesmas juga melakukan sosialisasi disela-sela kegiatan posyandu. Dan juga bantuan gizi anak melalui dana desa.

Kedua, perekonomian. Menurut Yosrizal, yang mengalami stunting di Paninggahan merupakan warga dengan ekonomi rendah. Nah, dalam hal ini, pihaknya mengajak masyarakat untuk mendaur ulang sampah menjadi bernilai jual, serta menggiatkan lagi tradisi membuat lapiak pandan di nagari pinggiran Danau Singkarak tersebut.

Ketiga, material atau kurangnya pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam tanaman pemenuhan gizi. Menyikapi ini, pihaknya mengajukan bantuan kepada pemerintah daerah dalam pemenuhan gizi tersebut.

Keempat, environment, atau kurang tersedianya air bersih, sanitasi yang layak, buruknya pengelolaan sampah. Menurutnya, saat ini, tiap jorong di Paninggahan sudah memiliki tempat sampah, dan beberapa kepala keluarga sudah menerima bantuan jamban dari pemerintah. Dalam pembangunannya juga dikawal oleh pihak nagari agar sesuai sasaran dan standar kelayakan.

“Kita juga melakukan sosialisasi bagi generasi muda mengenai stunting. Penanganan masalah stunting tidak dilaksanakan secara massal, tetapi mencari akar masalah per individu,” ungkapnya.

Kemudian, ia menuturkan, saat ini secara umum masyarakat sudah cukup paham penyebab stunting dan bagaimana mencegahnya. Masyarakat sudah mulai menerapkan PHBS.

“Sebab rata-rata orangtua bingung kenapa tiba-tiba anaknya divonis stunting. Padahal sudah memberikan nutrisi yang cukup. Karena hal itulah banyak yang sudah peduli dengan kebersihan badan dan lingkungan,” tambahnya.

Meskipun saat ini, persentase stunting di Paninggahan sudah rendah dan dibawah target nasional, Yosrizal mengaku, masih waswas jika persoalan air bersih dan sanitasi tidak dibenahi.

Khusus sanitasi, tahun 2020 dan 2021 pihaknya sudah memiliki rencana untuk memberikan bantuan jamban kepada warga setempat, dan sudah dilakukan pendataan. Namum wacana itu urung terwujud lantaran dilanda pandemi Covid-19 dan refocusing anggaran.

“Tahun ini masih belum bisa kita lakukan, karena anggaran terbatas, dan kebutuhan mendesak lainnya juga perlu dikejar, dan mudah-mudahan untuk tahun depan terwujud,” ungkapnya.

Kemudian, persoalan air bersih merupakan hal utama yang harus segera dibenahi. Karena air bersih yang digunakan masyarakat setempat untuk minum sangat tidak memadai. Air tersebut menurut wali nagari sangat tercemar dan tidak layak dikonsumsi.

Pengadaan saluran air bersih menjadi sangat penting, sebab nagari sedang berjuang untuk lepas dari belenggu stunting. Ia harap Pemporv Sumbar maupun Pemkab Solok membantu Paninggahan membuat saluran air dari Batang Gagoan agar masyarakat bisa mengakses air bersih tersebut. (frk)