Anggaran Tersedot Covid, Shelter Tak Terawat! Warga Harus Proaktif

11
PERLU DIJAGA BERSAMA: Salah satu dari tiga Shelter TES yang ada di Kota Padang. Shelter ini terletak di Ulakkarang, Kecamatan Padang Utara. Sejak awal tahun ini, masyarakat sekitar mulai memberi perhatian untuk merawat keberadaan shelter tersebut.(SUYUDI ADRI PRATAMA/PADEK)

Kota Padang tidak hanya daerah yang rawan gempa. Berada di pinggir pantai, ibu kota Sumbar ini juga dibawah ancaman tsunami. Kapan gempa dan tsunami tersebut akan terjadi, tak ada yang bisa memprediksinya.

Yang bisa dilakukan hanyalah bersiap-siap untuk menghadapinya dan berupaya memperkecil risiko bencana yang mungkin muncul. Salah satu upaya untuk memperkecil risiko tersebut adalah dengan dibangunnya sejumlah shelter untuk tempat evakuasi sementara (TES).

Shelter TES tersebut ada di tiga titik yang jaraknya tidak jauh dari garis pantai dan berada di lokasi padat penduduk. Yakni di Ulakkarang, Kecamtan Padang Utara; serta Parupuaktabing dan Bungapasang di Kecamatan Kototangah.

Namun kini, dua dari tiga shelter yang ada tersebut kondisinya kurang begitu baik dan cukup meprihatinkan. Yakni yang ada di Ulakkarang dan Bungopasang. Khususnya terkait dengan fasilitas kelengkapannya. Seperti sarana air bersih, sanitasi dan jaring kelisitrikan.

Dari pantauan Padang Ekspres baru-baru ini pada dua shelter tersebut saluran listrik dan air mengalami gangguan. Selain itu menurut laporan warga kedua shelter tersebut sering terjadi vandalisme, aksi pencurian komponen shelter dan masih banyak yang lainnya.

Mona Awal salah seorang warga yang tinggal disekitar shelter Ilakkarang mengatakan, kondisi shelter saat ini cukup memprihatinkan dimana banyak atap yang bocor dan listrik yang sudah tidak menyala. Saluran air di shelter tersebut pun juga sudah tidak berfungsi dan beberapa peralatan dan hiasan telah raip digondol orang tak bertanggung jawab.

”Banyak besi-besi ornamen shelter telah dicuri orang. Bahkan instalasi listrik pun juga ada yang mengambil. Serta dahulu lokasi shelter yang sepi mengundang beberapa muda-mudi untuk berbuat yang tidak diinginkan. Namun dapat diamankan oleh warga,” ucapnya.

Namun, terang Mona, akhir-akhir ini masyarakat sekitar shelter mulai sadar akan betapa pentingnya keberadaan bangunan tersebut. Mereka pun mulai melakukan pembenahan secara perlahan dan swadaya.

”Kami menyadari keberadaan shelter tersebut adalah sebuah amanah yang dititipkan pemerintah kepada kami. Untuk itu perlahan namun pasti masyarakat mulai membenahi secara perlahan shelter ini,” tuturnya.

Shelter itu pun mulai dicat kembali Bersama mahasiswa KKN. Lalu sejak sekitar awal tahun ini, sejumlah kegiatan digelar di shelter tersebut. Seperti senam dan posyandu.

Beberapa fasilitas shelter juga raib di Bungopasang. Menurut pengakuan warga sekitar, beberapa buah lampu telah hilang. Tidak hanya itu aliran air pun juga sudah tidak berfungsi secara normal.

Yanti salah seorang masyarakat disekitar shelter mengatakan, kondisi ini sudah lama terjadi. Menurutnya, ini karena masyarakat sekitar masih belum satu suara dalam perawatan shelter.

Founder Komunitas Siaga Bencana Sumbar Patra Rina Dewi mengatakan, perawatan shelter-shelter di Kota Padang harus menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah. Katanya, dari hasil diskusi dengan masyarakat, pemerintah kurang memberikan sosialisasi tentang tanggung jawab perawatan shelter sejak awal dengan masyarakat.

”Dengan tidak adanya MoU antara pemerintah dan masyarakat secara tertulis mengakibatkan sebagian masyarakat merasa tidak peduli dengan keberadaan shelter di sekitar mereka,” ucapnya.

Adanya keterlibatan masyarakat dan MoU itu, tutur Patra, biaya perawatan yang besar tentunya bisa lebih tertanggulangi.

”Apakah dengan perawatan yang diserahkan kepada masyarakat akan ada iuran warga untuk pembenahan shelter, semua itu bisa dilakukan jika ada regulasi yang jelas. Karena bagaimanapun shelter tersebut adalah kebutuhan Bersama. Jadi pelibatan masyarakat dalam perawatannya adalah sebuah hal yang penting dilakukan,” terangnya.

Baca Juga:  Mereka Yang Rindu Merdeka Belajar di Daerah Yang Belum Merdeka Sinyal

Ia mengatakan, perawatan shelter saat ini jadi kurang maksimlah salah satunya karena beban yang terlalu besar ditanggung pemerintah saat ini.

”Kita tahu keterbatasan anggaran saat ini ditambah refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19 memberikan beban yang cukup berat kepada pemerintah. Untuk itu pelibatan masyarakat merupakan salah satu solusi dalam hal tersebut,” tekannya.

Patra juga menyebut, pengawasan shelter juga tidak boleh terlepas dari masyarakat sekitar. Ini demi menjaga keutuhan aset yang ada di shelter tersebut.

”Selain pengangaran, pemko juga harus mengajak kerja sama masyarakat sekitar dalam penjagaan shelter di Kota Padang. karena kita tahu jumlah SDM dari BPBD Kota Padang yang terbatas,” ucapnya.

Namun Patra berharap, kedepannya masyarakat dan pemerintah dapat berkolaborasi untuk menjaga serta merawat shelter-shelter tersebut yang sudah diamanahkan pemerintah pusat kepada Kota Padang. Selain itu ia mengatakan, peremajaan kepada perlengkapan-perlengkapan shelter yang sudah rusak juga harus menjadi perhatian pemerintah.

Nah, pengelolaan dan perawatan shelter di Parupuaktabing, agaknya dapat menjadi contoh. Shelter yang berada di belakang Asrama Haji Padang itu terlihat lebih terawat dan terjaga. Helmi salah seorang warga sekitar mengatakan, masyarakat sekitar benar-benar peduli dan menjaga kondisi shelter agar tetap prima.

Masyarakat, ungkapnya, paham akan pentingnya shelter tersebut. Jadi secara bersama-sama masyarakat berusaha untuk menjaga keutuhan shelter tersebut.

”Mulai melakukan perawatan rutin dan penjagaan serta pemberian pagar untuk akses masuk agar tidak mudah dimasuki orang asing, kami lakukan bersama dengan masyarakat. Alhasil shelter tersebut menjadi lebih terawat karena masyarakat merasa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga shelter tersebut,” ucapnya.

Masyarakat setempat juga aktif menggunakan shelter sebagai lokasi pertemuan dan rapat Bersama. Demi menjaga keadaan tetap kondusif, warga secara bergantian menjaga shelter agar tidak disalahgunakan orang yang tak bertanggung jawab.

Selain itu ada teknisi dari warga yang bertugas untuk menghidup matikan lampu, mencek kondisi listrik hingga memperiksa mesin genset listrik.

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Becana Daerah (BPBD) Kota Padang Basril mengatakan, untuk melakukan perawatan pada tiha shelter yang dimiliki Pemko Padang tersebut membutuhkan anggaran yang cukup besar. Namun semuanya terkendala akibat Covid-19.

”Akibat refocusing anggaran, perawatan shelter yang ada di kota Padang menjadi terhambat. Jika kondisi sudah memungkinkan tahun depan akan kita kembali anggarkan untuk perawatan shelter tersebut,” terangnya.

Soal keamanan shelter dari tindakan pencurian dan vandalisme, diakuinya BPBD Kota Padang kekurangan SDM untuk melakukan pengecekan secara rutin dan berkala. Oleh karena itu ia berharap kepada masyarakat sekitar agar bersama-sama mau menjaga shelter yang ada di lingkungan mereka.

”Kita mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama merawat dan menjaga shelter tersebut. Kita akui, kita memang kekurangan personil dalam melakukan pengecekan berkala. Namun masyarakat sekitar harus ikut menjaga karena bagaimanapun shelter tersebut bermanfaat bagi kita bersama,” ungkapnya. (cr1)