Saat Kejayaan Jesigo Mulai Redup… Biaya Perawatan Tak Sebanding Hasil

20
SEMPAT RASAKAN JAYANYA: Irwandi, petani Jesigo di Jorong Lokuang, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Limapuluh Kota, di depan rumahnya, beberapa waktu lalu. Rumah tersebut dibangunnya dari hasil bertani Jesigo.(ARFIDEL ILHAM/PADEK)

Petani-petani jeruk siam Gunuang Omeh di Kabupaten Limapuluh Kota saat ini sedang menghadapi masa sulit. Mereka kewalahan dengan biaya perawatan yang tak lagi sebanding dengan penjualan. Bahkan produksinya yang terus menurun akibat serangan hama lalat buah, kian memperburuk keadaan.

BUAH kecil menguning, daun jarang dengan ranting mulai mengering, banyak terlihat di sejumlah kebun jeruk milik warga di sepanjang Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota. Padang Ekspres menyusuri daerah ini, sepanjang Rabu (8/6) hingga Kamis (9/6) lalu.

Hampir di sepanjang jalan dari arah Kecamatan Suliki hingga ke Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, setiap pekarangan rumah memiliki pohon jeruk. Hanya saja ada sebagian diantaranya tidak lagi memancarkan auranya. Bahkan terkesan seperti pohon yang minim perhatian.

Tidak salah jika beberapa waktu lalu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah prihatin. Lalu berkunjung ke daerah ini untuk memastikan langkah antisipasi menurunnya produksi Jeruk Siam Gunung Omeh (Jesigo) karena sejumlah penyebab. Seperti mahalnya biaya perawatan, murahnya harga buah hingga serangan lalat buah yang cukup meresahkan.

”Dulu sekitar tahun 2015 hingga 2018, penghasilan dari Jesigo cukup manis. Bahkan ketika itu, penghasilan belasan juta rupiah per bulan, sudah biasa saja,” ucap Irwandi, petani Jesigo di Jorong Lokuang, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kamis (9/6) sore.

Bersama Anton petani lainnya, Irwandi mengungkapkan, jika ketika jaya-jayanya Jesigo, petani yang mampu beli mobil baru secara tunai bukan hal yang luar biasa di kampung tersebut. Betapa tidak, harga jeruk bagus di angka Rp 15 ribu per kilogram nya.

”Saat itu, panen hingga 200 kilogram per minggu. Bahkan bagi yang punya 200 batang jeruk bisa panen hingga 300 kilo per minggu,” kisah Irwandi dan Anton.

Istilahnya saat itu, kata para petani, Jesigo sangat manis buahnya. Bahkan bapak tiga orang anak ini, dengan kebun yang dikelolanya terbilang kecil, juga mampu membuat rumah untuk keluarganya Dia juga membeli mobil.

”Ya, alhamdulillah. Saat itu penghasilan dari jeruk lumayan menguntungkan. Produksi dan harga sangat memuaskan. Bahkan ada juga petani yang bisa naik haji karena hasil jeruk ini,” ucap Irwandi mengisahkan masa-masa terbaik petani Jesigo.

Namun sejak lima atau empat tahun terakhir, harga jeruk mulai menurun. Bahkan ditambah lagi dengan harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang meningkat tajam. Sebab, semakin banyak masyarakat yang melakukan penanaman jeruk.

Tidak hanya di Kecamatan Gunuang Omeh, petani mulai banyak menanam jeruk di Kecamatan Bukik Barisan, Suliki dan kecamatan Lainnya di Limapuluh Kota. Banyaknya petani yang menanam jeruk, akhirnya sebagian besar juga tidak mendapat perhatian serius.

Baca Juga:  Infak di Jalanan Bikin Bahaya! Ini Kata Duski Samad

Sehingga perawatan dilakukan seadanya. Bahkan ada yang sama sekali dibiarkan hidup tanpa perhatian. Sehingga menjadi sumber berkembangnya hama penyakit. Seperti yang dikemukakan pakar hama tanaman, Syaiful Wathan.

Kenaikan harga pupuk dan obat-obatan pertanian itu, sekarang menurut Irwandi sangat terasa. Bahkan penurunan produksi akibat Lalat Buah juga menjadi salah satu hal yang memperparah kondisi pertanian jeruk.

”Sekarang, jika kita panen, hasilnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan pupuk dan obat-obatan saja. Pupuk sudah mendekati Rp 1 juta per saknya sekarang, ditambah obat-obatan yang harganya ratusan ribu rupiah,” kisah Irwandi.

Bahkan jika ada kelebihan dari biaya produksi hanya cukup untuk keperluan kecil saja. Artinya penghasilan dari jeruk, sangat tidak menguntungkan. ”Tidak cukup lagi uangnya, bahkan untuk dibelanjakan di pasar nagari saja tak cukup,” cerita petani ini.

Soal hama tanaman seperti lalat buah, petani mengaku tidak terlalu khawatir. Sebab menurutnya, jika perawatannya bagus, nutrisi buah terpenuhi, jeruk mampu tumbuh dengan baik. Sementara soal hama lalat dan penyakit bercak daun pada Jesigo, petani mengaku sudah tahu cara antisipasinya.

”Sebenarnya soal penyakit dan hama mungkin tidak terlalu rumit persoalannya. Namun soal pupuk yang harganya mendekati Rp 1 juta per sak itulah masalahnya. Sementara pupuk bersubsidi, sama sekali tak ada manfaatnya. Alias nyaris tak memberikan dampak apapun pada jeruk. Ada apa ini?” tanya Irwandi.

Petani pun meminta agar dilakukan pemeriksaan lagi terhadap kandungan pupuk bersubsidi dan diawasi oleh pemerintah. Sehingga kualitas pupuk terjaga dengan biaya produksi lebih murah. Selain itu, harapan petani, bagaimana harga lebih stabil dan menguntungkan petani.

”Kita usulkan ada badan pengatur arus buah-buahan untuk harga yang lebih baik oleh pemerintah. Selain itu, jika memungkinkan adanya pengolahan jeruk menjadi sari jeruk atau jus yang bisa dipasarkan lebih baik dalam jangka waktu yang cukup lama,” pinta Irwandi berharap kejayaan Jesigo kembali menghampiri petani.

Terkait keluhan kualitas pupuk bersubsidi, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanpanghorbun) Witra Porsepwandi menyebut, akan segera melakukan uji mutu.

”Tahun ini, kita akan lakukan uji mutu dengan mengambil sampel setiap kecamatan. Masing-masing kecamatan akan kita lakukan pengambilan minimal 10 sampel untuk uji lab kandungan pupuk bersubsidi yang didistribusikan,” tegasnya, kemarin. (***)