Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menjemput Hakikat Pendidikan

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Krismadinata
Krismadinata

Advertisement

 

Penulis : Krismadinata - Rektor Universitas Negeri Padang

Pendidikan adalah sebuah perjalanan pulang. Ia adalah proses pendakian seorang hamba dari gelapnya ketidaktahuan menuju terangnya cahaya makrifat. Dalam tradisi luhur kita, belajar bukanlah sekadar mengisi tempayan kosong dengan tumpukan informasi, melainkan menyalakan pelita yang memang sudah ada di dalam jiwa setiap insan.

Advertisement

Namun, ketika kita menatap wajah pendidikan hari ini, kita seringkali terjebak pada angka, statistik, dan lembaran ijazah yang kering dari ruh. Kita perlu kembali bertanya dengan hati yang jernih: untuk apa sesungguhnya kita mendidik?

Setiap anak manusia lahir dengan membawa fitrah—sebuah cetak biru kesucian yang memancarkan asma-asma Ilahi. Maka, hakikat pendidikan adalah proses “tazkiyatun nafs” atau penyucian jiwa. Pendidikan semestinya menjadi wasilah bagi manusia untuk mengenal dirinya (man ‘arafa nafsahu), sehingga ia mengenal Tuhannya (‘arafa Rabbahu).

Bagi sebuah bangsa, pendidikan adalah fondasi peradaban. Peradaban yang agung tidaklah dibangun oleh mereka yang sekadar mahir bertukang atau pandai berhitung, melainkan oleh jiwa-jiwa yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Manusia yang berpendidikan dalam makna hakiki adalah mereka yang kehadirannya menjadi rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Mereka adalah pribadi yang memandang ilmu bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai amanah untuk menebar manfaat dan menjaga harmoni bumi. Inilah puncak peradaban: ketika kecerdasan akal bersanding mesra dengan kelembutan hati.

Advertisement

Dalam dunia yang bergerak secepat kilat ini, kurikulum sering kali menjadi beban yang menghimpit bahu para pendidik dan anak didik. Kita terjebak dalam kurikulum yang padat materi namun seringkali kehilangan substansi. Kurikulum yang relevan seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana menjawab soal ujian, tetapi bagaimana menjawab tantangan kehidupan.

Kurikulum yang sejati adalah kurikulum yang “hidup”. Ia harus mampu menjembatani antara kearifan lokal yang abadi —seperti filosofi Alam Takambang Jadi Guru di tanah Minangkabau— dengan kemajuan teknologi yang tak terelakkan. Pendidikan yang relevan adalah yang mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan memiliki daya tahan mental yang kokoh. Di era disrupsi, kecakapan teknis memang penting, namun kemampuan untuk terus belajar (learn to learn) dan kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri adalah ilmu yang jauh lebih tinggi derajatnya.

Kita tidak boleh menutup mata pada realitas sosial yang menyesakkan: ribuan sarjana yang terombang-ambing di lautan pengangguran. Angka-angka statistik pengangguran terdidik bukan sekadar deretan digit, melainkan representasi dari mimpi-mimpi yang layu sebelum berkembang. Mengapa pendidikan yang telah ditempuh bertahun-tahun seolah tak mampu membukakan pintu rezeki?

Mungkin, selama ini kita telah mendidik anak-anak kita untuk menjadi pengikut, bukan pemimpin; untuk menjadi pelamar, bukan pencipta. Ada ketimpangan yang lebar antara kurikulum di menara gading dengan realitas di pasar kerja. Dunia hari ini tidak lagi membutuhkan robot bernyawa yang hanya bisa mengikuti instruksi, melainkan pribadi yang mampu melihat peluang di tengah kesempitan, yang mampu merajut kolaborasi di tengah persaingan. Pendidikan harus mampu menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang berbasis pada nilai-nilai kejujuran dan kemandirian.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

UNP dan KNPI Sumbar Bekali Pemuda dengan Leadership Branding untuk Kepemimpinan Berkelanjutan

UNP dan KNPI Sumbar Bekali Pemuda dengan Leadership Branding untuk Kepemimpinan Berkelanjutan

UNP dan KNPI Sumbar membekali 50 pemuda dengan kepemimpinan, personal branding, dan pengembangan diri melalui workshop di Padang.

UNP Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Patriotisme, Gigih dan Empati Jadi Pesan Utama

UNP Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Patriotisme, Gigih dan Empati Jadi Pesan Utama

UNP memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan amanat Menpora Erick Thohir tentang karakter patriotik, gigih, dan berempati.

Puluhan Mahasiswa, Dosen dan Alumni Ikuti Lomba Stand Up Comedy UNP

Puluhan Mahasiswa, Dosen dan Alumni Ikuti Lomba Stand Up Comedy UNP

UNP menggelar lomba stand up comedy Dies Natalis ke-72. Puluhan mahasiswa, dosen, dan alumni bersaing dengan durasi tampil 10 menit.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer