
PADEK.JAWAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (14/5). Hingga pukul 12.00 WIB, mata uang Garuda melemah 42 poin ke level Rp 17.517 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu penguatan indeks dolar AS di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama di kawasan Selat Hormuz. Eskalasi konflik antara Iran dan sekutu AS mendorong pelaku pasar memburu dolar AS sebagai aset aman.
“Gejolak di Timur Tengah masih menjadi momok pasar keuangan global. Ketegangan di Selat Hormuz membuat dolar AS terus menguat dan menekan rupiah,” ujarnya kemarin (14/5).
Dia juga menyoroti langkah Amerika Serikat yang bersiap menghadapi perang berkepanjangan dengan Iran. Permintaan tambahan anggaran perang ke Kongres disebut menjadi sinyal bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Iran juga menunjukkan kesiapan militernya melalui latihan perang berskala besar. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
“Kalau perang meluas, dampaknya besar terhadap perdagangan global, harga energi, hingga nilai tukar negara berkembang termasuk Indonesia,” katanya.
Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai rupiah juga tertekan persoalan domestik, terutama polemik data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026. Dia menyinggung kritik sejumlah akademisi yang menilai angka pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.
“Masyarakat masih menghadapi tekanan ekonomi dan kenaikan harga akibat pelemahan rupiah. Pemerintah perlu menjaga kredibilitas data ekonomi agar tidak menimbulkan kebingungan di publik,” tambahnya.
Ibrahim mendorong Badan Pusat Statistik (BPS) menerapkan mekanisme revisi bertahap terhadap data pertumbuhan ekonomi seperti di Amerika Serikat.
Dengan begitu, data awal dapat diperbaiki melalui revisi berkala agar lebih akurat dan kredibel.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




