Vaksin Covid-19 Menipis

23
ilustrasi vaksin. (net)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa ketersediaam vaksin Covid-19 menipis. Sehingga, harus ada menejemen yang tepat untuk penggunaan vaksin. Budi mendorong penyuntikan kedua vaksin Sinovac dilakukan setelah 28 hari penyuntikan pertama.

Selama ini penyuntikan vaksin, di luar vaksinasi untuk lansia, dilakukan setelah 14 hari penyuntikan pertama. ”Didorong semua, tak hanya lansia,” katanya. Budi menuturkan, langkah itu dilakukan karena keterbatasan vaksin yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, Budi berdalih bahwa pada 28 hari penyuntikan pertama imunnya akan lebih banyak terbenuk. Pada April nanti, Budi memprediksi vaksin yang dimiliki pemerintah hanya 7,8 juta dosis vaksin dari Sinovac

Sementara pada Mei nanti PT Bio Farma akan ada rencana membersihkan pusat produksinya. Agenda ini memang rutin dilakukan setiap enam bulan sekali. Sebenarnya, untuk mengganjal kekurangan akan menggunakan AstraZeneca.

Pemerintah tak bisa mengandalkan vaksin dari Covax-GAVI. Sebelumnya, asosiasi penyedia vaksin Covid-19 bagi negara berkembang itu rencananya akan mengirim dalam dua tahap ke Indonesia.

Gelombang pertama sudah dikirimkan. Vaksin tersebut dari AstraZenica sejumlah 1,1 juta dosis. Rencananya pada 22 Maret datang lagi 2,5 juta dosis. ”7,8 juta dosis pada April,” ungkapnya.

Baca Juga:  Banyak Pernikahan Dini di Kota Padang, Kadinkes: Tunda Dulu Kehamilan

Sayangnya, pengiriman ini terhambat. Sebab Covax-GAVI memutuskan menunda pengiriman vaksin ke Indonesia. Alasannya, India sedang melakukan embargo vaksin. ”Ada isu India embargo vaksin,” bebernya. Di India sedang terjadi peningkatan kasus Covid-19. Sehingga, pemerintah India menunda pengiriman.

Budi menyatakan bahwa dirinya bersama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tengah melakuka lobi kepada Covax-GAVI dan badan kesehatan dunia (WHO). Tujuannya agar vaksin AstraZeneca dapat dikirim ke Indonesia pada Mei nanti.

Sementara pemberian vaksin tahap kedua untuk lansia dam petugas pelayan publik dilakukan. Budi menjelaskan untuk lansia lebih sulit dilakukan. Sebab, ada yang takut disuntik atau terdapat komorbid. ”Kami sedang memcari model vaksinasi agar lansia dapat vaksin,” ungkapnya.

Kemenkes juga mengandalkan sentra vaksinasi yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, pada saat rapat dengan gubernur, pihaknya selalu mengingatkan. ”Pemberian vaksin untuk lansia tidak hanya di ibu kota provinsi, tapi di kabupaten atau kota juga,” bebernya. (lyn/jpg)

Previous articlePrioritas untuk Penduduknya, India Perketat Ekspor Vaksin AstraZeneca
Next articlePBM Tatap Muka secara Normal Dimulai di Tahun Ajaran Baru