Vaksinasi Anak Diuji Klinis

38
ilustrasi. (net)

Penelitian terkait vaksin Covid-19 terus dikembangkan untuk melihat efikasi dan manfaatnya. Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk mempercepat ketercapaian vaksinasi. Sedangkan Sinovac mulai menjajaki pemberian vaksin Covid-19 untuk anak-anak. Mereka tengah melakukan penelitian uji klinis tahap 2 terkait hal ini.

Juru bicara BPOM terkait vaksin Covid-19, Rizka Andalucia kemarin (25/3) menjelaskan, pihaknya tengah menunggu hasil penelitian dari Sinovac. ”Sinovac memiliki penelitian di fase dua pada anak-anak tapi belum ada hasilnya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk memutuskan BPOM mengizinkan vaksin Covid-19 dari Sinovac bisa diberikan kepada anak-anak, harus ada data lengkap. Pilihan lainnya adalah peneliti Indonesia melakukan penelitian sendiri. Ini pun tak bisa sembarangan.

Uji klinis vaksin pada anak harus cermat. Rizka menggarisbawahi, penelitian pada anak bisa dilakukan asal penelitian dari kelompok dewasa hasilnya baik. ”Karena anak-anak ini subjek yang rentan dan juga sistem imunitasnya belum stabil,” ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan bahwa perempuan dan anak perempuan rentan terdampak pandemi secara global.

Terutama terkait kondisi kesehatan mentalnya. Padahal, keduanya berperan penting dalam upaya pembangunan kembali masyarakat. ”Kami juga bekerja sama dengan dunia usaha untuk menyediakan paket pemenuhan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak terdampak Covid-19,” jelas Bintang.

Kemarin, Indonesia kembali kedatangan vaksin Covid-19. Ada 16 juta bakal vaksin dari Sinovac. Bahan ini akan diproduksi oleh PT Bio Farma lalu disuntikkan kepada masyarakat Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menjelaskan 16 juta bakal vaksin itu senilai pabean (CIF) sebesar $ 101.003.080 atau secara perkiraan fiskal pemerintah senilai Rp 255 miliar.

”Hingga saat ini, hampir 6 juta orang telah mendapatkan vaksin,” ungkapnya. Sedangkan yang sudah menerima vaksin kedua hampir 3 juta orang. Vaksin Covid-19 sebagai salah satu intervensi kesehatan paling efisien dalam menyelamatkan nyawa di tengah pandemi. ”Karena itu penting untuk mempercepat program vaksinasi pemerintah agar segera dapat mencapai kekebalan kelompok,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Kemenkes bahwa estimasi suplai vaksin baik yang berbentuk jadi maupun bulk di tahun 2021 sampai dengan bulan Juni mendatang adalah kurang lebih 50 juta dosis. ”Jumlah ini masih bersifat etimasi sehingga dapat terus berubah. Mohon masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan vaksinasi,” jelas Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito kemarin.

Wiku mengatakan, untuk menjamin pemenuhan kebutuhan secara menyeluruh untuk masyarakat, maka pemerintah saat ini tidak hanya mengandalkan pembelian vaksin namun juga terus menggenjot produksi vaksin dalam negeri.

Selain itu, Wiku menekankan bahwa vaksinasi kedua untuk lansia harus diberikan sesuai rekom BPOM saat menerbitkan Emergency Use of Authorization (EUA) beberapa waktu lalu, yakni 28 hari sejak vaksinasi pertama. Hal tersebut karena lansia membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dalam membentuk antibodi.

”Saya mengimbau pada para penyelenggaran vaksinasi untuk membuat jadwal yang bisa merefleksikan rekomendasi tersebut untuk memastikan bahwa manfaat fvaksin bisa diterima secara maksimal,” jelasnya.

Para lansia, kata Wiku, juga bisa mendapatkan vaksinasi kedua di fasilitas-fasilitas kesehatan terdekat dengan tempat tinggalnya, Keputusan Dirjen P2P Kemenkes sudah mengamanatkan bahwa bahwa lansia yang sudah memperoleh vaksin pertama bisa memeperoleh yang kedua meskipun lokasinya berbeda.

”Satgas menghimbau kepada penyelenggaran vaksinasi untuk mengikuti keputusan dirjen P2P kemenkes untuk memfaslitasi lansia yang lokasi pertamanya beda dengan yang pertama,” jelasnya.

Seluruh Prajurit Divaksin
Demi mempercepat vaksinasi terhadap seluruh personel TNI AL, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono mendata semua prajurit Angkatan Laut di Jakarta yang belum menerima vaksin Covid-19. Kemarin, mereka divaksinasi di Dermaga Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Tanjung Priok, Jakarta Utara. ”Untuk saat ini giliran prajurit yang kami prioritaskan,” ungkap dia.

Baca Juga:  Reshuffle Kabinet Bergulir Pekan Ini?

Berdasar data yang diterima Jawa Pos (grup Padang Ekspres), tidak kurang lima ribu personel TNI AL divaksinasi di Markas Kolinlamil kemarin. Matra laut sengaja melakukan itu sebagai upaya ’penyapuan’ untuk memastikan semua prajurit TNI AL yang berada di Jakarta mendapat vaksin Covid-19, utamanya prajurit pengawak KRI. ”Prajurit yang melaksanakan operasi,” kata Yudo. Dia ingin seluruh jajaran Angkatan Laut yang di daerah operasi aman.

Para prajurit itu, lanjutnya, membutuhkan vaksin supaya lebih maksimal dalam menjalankan tugas. Mengingat selama pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, kapal perang TNI AL tetap beroperasi seperti biasa. ”Selama pandemi Covid-19 yang sudah setahun (lebih), prajurit-prajurit kami tidak berhenti melaksanakan operasi,” terang Yudo. Mereka yang berdinas di KRI maupun daerah operasi lainnya tetap bertugas seperti biasa.

Menurut Yudo, tidak kurang 50 sampai 60 KRI beroperasi setiap hari. Untuk itu, pengawal kapal perang tersebut harus divaksin. ”Sehingga, mereka tetap melanjutkan kegiatan-kegiatan operasional tanpa ada hambatan maupun (potensi) terkena Covid-19,” jelasnya. Dengan berbekal vaksin yang sudah diberikan pemerintah, Yudo percaya diri instansinya dapat menuntaskan vaksinasi prajurit TNI AL pertengahan April.

Pejabat yang pernah bertugas sebagai panglima Komando Armada (Koarmada) I itu menyebutkan bahwa target tersebut merupakan program TNI AL. ”Sehingga, pertengahan April mudah-mudahan seluruh prajurit TNI AL sudah melaksanakan vaksinasi semuanya,” kata dia. Total sampai kemarin sudah separuh personel Angkatan Laut mendapat vaksin Covid-19. Sisanya akan terus dikejar agar segera disuntik vaksin.

Kemarin, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto memastikan bahwa instansi yang dia pimpin sudah menerima 130 ribu dosis vaksin AstraZeneca. Rencananya, hari ini (26/3) Mabes TNI akan melaksanakan serbuan vaksinasi menggunakan vaksin tersebut. ”Serentak di sepuluh provinsi,” ungkap Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut Edys Riyanto. Sepuluh provinsi itu terdri atas Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, Maluku, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, sampai Papua.

Mabes TNI menarget vaksinasi menggunakan 130 ribu dosis vaksin AstraZeneca itu tuntas dalam sehari. ”Semata untuk mempercepat pencapaian herd immunity. Sehingga, program pemerintah ke depan dapat terwujud dengan cepat dan baik,” jelasnya. Edys memastikan panglima TNI hadir langsung untuk meninjau serbuan vaksinasi tersebut. ”Diharapkan para prajurit setelah menerima vaksin tetap jalankan protokol kesehatan,” tambah dia.

Kendati pemerintah telah menyediakan vaksin impor, namun DPR terus mendorong agar penelitian terhadap vaksin nasional juga terus dikembangkan. Sayangnya, uji klinis tahap kedua terhadap vaksin Nusantara kemudian dihentikan. Hal ini mengundang pertanyaan dari legislatif dan meminta pemerintah kembali memberi perhatian serius terhadap rencana vaksin buatan dalam negeri tersebut.

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin menyatakan bahwa sejak awal mereka mendukung pemerintah untuk mengembangkan vaksin sendiri. Meskipun prosesnya tidak mudah, namun dia optimistis bahwa keberadaan vaksin nasional bisa lebih cepat memulihkan bangsa dari pandemi.

Karena itu, dia menyayangkan jika akhirnya penelitian terhadap vaksin lokal justru dihentikan. ”Sangat disayangkan jika gagasan besar ini gagal. DPR akan terus mendorong pemerintah untuk mendukung pembiayaan penelitian vaksin Covid-19 dalam negeri,” tegasnya kemarin.

Menurut Azis, vaksin nasional memiliki kelebihan dalam hal kesesuaiannya dengan karakteristik orang Indonesia. Selain itu, kehalalannya lebih terjamin. Dia mengingatkan bahwa persentase masyarakat yang menolak vaksin masih tinggi, sehingga pemerintah perlu mempertimbangkan secara serius ketersediaan vaksin buatan negeri sendiri. Hal ini diyakini bisa mengurangi keraguan masyarakat. (lyn/tau/deb/syn/shf/jpg)

Previous articleKeluar dari Status B3, Banyak Peluang Ekonomi di Balik Limbah FABA
Next articleEffendi Ghazali Diperiksa Akibat Data Palsu