Salah satu satu warga yang melirik budidaya jahe merah itu yakni Afda Rina, warga Koto Manampuang, Jorong IV Garagahan. Dikatakan, dirinya mulai akrab dengan tanaman jahe merah sejak dua tahun lalu.
“Disebut akrab, karena selain mengkonsumsi sendiri saya juga mengolah jahe merah jadi serbuk minuman berkhasiat. Mengemasnya jadi sebuah produk usaha rumahan,” kata Rina.
Semula akunya, dirinya lebih banyak mengandalkan bahan baku jahe merah dari petani daerah Pasaman untuk bahan baku produk kemasannya. Belakangan, dirinya mulai membudidayakan tanaman ini dilahannya sendiri.
Di Koto Manampuang saat ini, Rina bahkan tak sendiri lagi menanam jahe merah. Masyarakat setempat juga sudah ikut membudidayakan. Sekarang katanya, ia lebih mudah mendapatkan jahe merah, karena sudah bisa disuplai petani sekitar.
“Beberapa petani di sini menjual ke saya hasil tanaman jahennya. Saya beli per kilogramnya Rp 27 ribu atau sama dengan harga yang saya dapat dari Pasaman. Jadi memang, beberapa warga disini sudah banyak menanam jahe,” tuturnya.
Bahkan bebernya, pemerintah daerah setempat berencana akan menjadikan jahe merah produk lokal unggulan dan Nagari Garagahan diwacanakan pilot projek sentra produksi jahe ke depannya. Rina berharap program tersebut dapat terwujud secepatnya.
Disinggung tentang produk kemasan minuman jahe yang diproduksinya, Rina mengaku masih terus menyempurnakannya. Baik soal izin maupun label halal agar ia bisa leluasa menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.
“Untuk label halal Insyallah sebentar lagi keluar. Soal izin kita sudah mengantongi Perizinan Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT). Tentang permintaan pasar, Alhamdulillah cukup tinggi. Kita sudah merambah pasar tidak hanya seputar daerah Sumbar, tapi juga sampai Pekanbaru, Batam hingga Jakarta. Bagi yang berminat bisa langsung menghubungi via telepon, 0812 7589 8630,” kata Rina.
Serbuk jahe merah produksi Rina merupakan perpaduan aneka rempah mulai dari jahe merah, kulit kayu manis, cengkeh, serai dan gula aren plus kunyit. Untuk setiap 1 kilogram jahe, ia menghasilkan 15 produk kemasan 100 gram dilabeli merek Berkah RN dan dihargai Rp 25 ribu per kemasannya.
Menurutnya jahe memiliki multi manfaat untuk kesehatan. Pandemi Covid-19 saat ini menjadi berkah lain di balik banyaknya permintaan terhadap minuman jahe olahannya. Setidaknya dalam dunia farmasi, jahe konon dipercaya dapat meningkatkan imunitas tubuh dan menangkal serangan virus korona.
Selain di Koto Manampuang, budidaya jahe merah juga jadi alternatif penopang perekonomian warga Simaruok, Jorong II Garagahan. Pera, 40, salah satu yang melihat peluang itu.
Dikatakan, pandemi Covid-19 membuat permintaan terhadap jahe meningkat. Sehingga dirinya memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya untuk bertanam jahe merah. “Harganya lebih stabil, bernilai jual tinggi dan tentu ini menjanjikan sebagai sumber penghasilan,” katanya.
Dirinya aku Pera mulai budidaya jahe merah tahun lalu. Saat ini dirinya telah menanam sekitar 450 bibit dari 5 kilogram rimpang jahe. Menurut pengalamannya, untuk 1 kilogram rimpang jahe, bisa menghasilkan lebih kurang sebanyak 100 bibit jahe.
Namun saat penyemaian, tidak 100 persen berhasil, ada beberapa bibit tidak tumbuh, karena mengalami pembusukan. Saat usia sekitar 30-40 hari, bibit sudah bisa dipindahkan ke media tanamnya dan menunggu sampai jahe siap panen, sekitar umur 7-8 bulan.
Menurutnya, dalam perawatannya tidaklah sulit. Jahe bukan tanaman yang manja, hanya saja yang harus diperhatikan adalah kelembaban tanahnya, karena jahe tidak akan bagus hasilnya jika tanahnya terlalu basah ataupun terlalu kering. Serta terbebas dari gulma atau tanaman liar lainnya.
“Bukti membudidayakan jahe ini tidak sulit adalah, saya masih bisa beraktivitas seperti biasanya tanpa menganggu pekerjaan yang lainnya,” tegasnya. (ptr) Editor : Novitri Selvia