Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Ikan Nila Naik di Agam, Pasca Ikan Mati Massal di Danau Maninjau

Novitri Selvia • Selasa, 6 Desember 2022 | 11:32 WIB
BANGKAI: Bangkai ikan mengapung mengotori permukaan danau Maninjau beberapa hari pasca-kematian ikan yang terjadi pada Rabu (16/11) malam lalu.(PUTRA/PADEK)
BANGKAI: Bangkai ikan mengapung mengotori permukaan danau Maninjau beberapa hari pasca-kematian ikan yang terjadi pada Rabu (16/11) malam lalu.(PUTRA/PADEK)
Harga ikan air tawar jenis nila terpantau mengalami kenaikan di Kabupaten Agam dalam sepekan terakhir. Kondisi ini dinilai berhubungan erat dengan dampak musibah kematian ikan secara massal yang dialami pembudidayaan ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau.

Indra, salah seorang pembudidaya keramba di Nagari Tanjungsari mengatakan, harga ikan nila di tingkat petani naik berkisar Rp5-8 ribu saat ini. Kondisi ini sudah berlangsung sepekan terakhir atau beberapa hari pasca pembudidaya keramba di Danau Maninjau mengalami musibah kematian ikan.

“Harga ikan di tingkat petani saat ini mencapai Rp28 ribu per kilogram. Naik dari harga sebelumnya Rp21 ribu per kilogram,” sebutnya, kemarin (5/12).

Menurutnya, kenaikan harga itu dipicu dampak dari musibah kematian ikan di Danau Maninjau dua pekan lalu. Ini menyusul suplai ikan air tawar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di Agan masih mengandalkan hasil budidaya KJA di danau itu.

Musibah kematian ratusan ton ikan itu kata dia, otomatis membuat pasokan menipis. Terlebih, permintaan hasil panen ikan dari danau Maninjau tidak hanya datang dari pengepul di Agam, melainkan juga diopor keluar daerah.

“Selain ke berbagai daerah di Sumbar, ikan-ikan budidaya dari danau Maninjau juga dijual ke Riau dan Jambi. Jadi, sisa panen setelah kematian ikan ini harus dibagi-bagi untuk memenuhi permintaan pedagang pengecer ke kita,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Amin, salah seorang pembudidaya ikan lainnya di salingka danau Maninjau. Harga ikan itu naik setelah sempat anjlok di angka Rp5-10 ribu per kilogram di awal-awal gelombang kematian ikan melanda.

“Saat kematian ikan berlangsung, banyak ikan yang menepi mencari oksigen. Banyak nelayan dan warga yang datang menangkap. Saat itu harga ikan langsung anjlok, sebab permintaan jadi menurun,” katanya.

Namun imbuh Amin, setelah tiga atau empat hari gelombang kematian ikan mereda dan aktivitas menangkap ikan oleh warga berhenti, harga ikan langsung melambung menjadi Rp25 ribu per kilogram dan saat ini sudah mencapai Rp28 ribu per kilogram.

Ia memprediksi harga tersebut akan terus naik dan berkemungkinan menembus Rp30 ribu per kilogram. “Seperti pengalaman yang sudah-sudah, harga ikan ini bisa tembus di atas Rp30 ribu per kilogram. Saat kematian ikan pada Maret 2022 lalu, juga demikian. Saat itu harga ikan Rp30 ribu per kilogram,” katanya.

Sebagaimana diketahui, ratusan pembudidaya ikan keramba di Danau Maninjau mengalami musibah kematian ikan pertengahan bulan lalu. Gelombang kematian ikan itu berlangsung hampir sepekan lamanya.

Total ikan mati terdata mencapai 445 ton yang tersebar di tiga nagari. Gelombang kematian ikan ini dimulai sejak Rabu (16/11) malam di Jorong Tanjungsani Kenagarian Sungaibatang. Sebanyak 45 ton ikan ditemukan mati pada 124 keramba milik dari 27 pembudidaya.

Tingkat kematian ikan terparah ditemukan di Nagari Tanjungsani mencapai 242 ton. Ratusan ton ikan ini tersebar pada 770 petak KJA milik dari 179 pembudidayaan yang ada di Jorong Sungaitampang, Sigiran, Pantas, Mukojalan, Batunanggai, Galapuang dan Jorong Pandan.

Kemudian terus meluas ke Nagari Kotomalintang. Di nagari ini, tercatat sebanyak 168 ton ikan mati tersebar di Jorong Alai, Rambai, Ambacang dan Muko-muko. Estimasi kerugian yang dialami penambak dari musibah kematian ikan kali ini dihitung mencapai Rp9,34 miliar lebih. Jumlah ini berdasarkan harga ikan segar tersebut Rp21 ribu per kilogram sebelum musibah melanda.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam, Rosva Deswira mengatakan, seperti biasa, ikan-ikan itu mati lantaran terjadinya penurunan suhu air danau akibat umbalan atau uppweling.

Kondisi ini dipicu cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang membalikan massa air dari dasar ke atas. Anomali cuaca ekstrem ini membuat zat-zat atau racun-racun dari dasar naik kepermukaan. Sehingga menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan dan mencelakai ikan hingga akhirnya mati.

“Musibah kali ini juga diawali cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang di wilayah salingka danau dan sekitarnya. Secara keilmuan dan juga berdasarkan pengalaman, hujan deras terus menerus dapat membuat kadar oksigen di perairan danau menipis. Lebih-lebih disertai angin kencang dapat menyebabkan terjadinya pembalikan massa air atau memicu uppweling,” jelas Rosva.

Kematian ikan secara massal yang terjadi pertengahan November lalu itu, merupakan musibah ketiga sepanjang tahun 2022 ini. Fenomena demikian merupakan musibah menahun dialami pembudidaya ikan keramba danau Maninjau. Hampir terjadi setiap awal tahun, pertengahan dan akhir kalender.

Musibah perdana terjadi pada 12 Februari 2022. Sebanyak 130 to  ikan mati massal di dua nagari salingka danau, yakni di Nagari Kotomalintang dan Duokoto. Kemudian pada 19-20 Februari 2022, musibah kematian ikan lantas terjadi lagi. Terdata sebanyak 125 ton ikan mati mendadak di tiga nagari, yakni Kotokaciak, Kotogadang dan Kotomalintang. Jumlah KJA yang terdampak mencapai 676 petak milik 195 penambak.

“Jika ditotal dengan kejadian bulan lalu, artinya sudah ada sebanyak 700 ton lebih ikan mati massal di danau Maninjau tahun ini. Estimasi kerugian pembudidaya secara keseluruhan mencapai Rp14,7 miliar lebih jika dikalikan sesuai harga jual ikan di tingkat petani Rp21 ribu per kilogram sebelum musibah kematian ikan melanda,” papar Rosva.

Sepanjang tahun 2021, tercatat kerugian sekitar Rp35,28 miliar akibat kematian 1.764 ton ikan secara massal di Danau Maninjau. Sesuai catatan DPKP Agam, musibah kematian ikan secara massal itu tiga kali terjadi dalam kurun waktu setahun lalu. (ptr) Editor : Novitri Selvia
#DPKP Agam #ikan mati massal #ikan nila #Rosva Deswira #danau maninjau